
Sepulang dari lndonesia Zahid langsung meminta supirnya untuk pergi ke suatu tempat , sebuah proyek apartemen sederhana yang di buat sekitar sepuluh tahun yang lalu oleh Daddynya khusus untuk orang orang pinggiran minoritas .
Ada sebuah lahan luas yang di jadikan lapangan yang sengaja di beli Daddynya untuk area bermain anak anak kurang mampu di sana . Sudah beberapa kali ada investor tertarik untuk membeli lahan luas itu tapi Gaffar tetap tidak mau menjualnya . Baginya senyum anak anak disana lebih mahal dari apapun .
Sesekali Zahid pergi ke tempat itu untuk sekedar berbagi hingga sebagian besar orang disana hafal dengan keberadaannya . Selain kaya raya dan berkuasa keluarga Al Shamma dikenal sebagai keluarga yang sangat memperhatikan kaum minoritas .
" Kak Zahid !!!! "
Salah seorang anak yang beranjak remaja dan beberapa anak laki laki berlarian mendatanginya . Mereka terlihat sangat antusias melihat kedatangan putra kedua keluarga mafia itu .
" Hei jagoan !! Kakak bawa makanan kecil dan sedikit mainan di mobil , kalian bisa main bersama dengan itu ... Zack bagikan semua untuk.adik adikmu " tunjuk Zahid pada anak laki laki paling besar di antara anak anak itu .
" Baik ... terimakasih Kak "
Tak terasa Zahid bermain bola bersama anak anak itu hingga hari makin sore . Bermain bersama anak anak itu selalu membuat Zahid seperti terlepas dari semua penatnya .
Ada kalanya ia berharap bertemu seseorang yang tak mungkin lagi ia temui . Yang ia tahu pasti anak gadis itu sudah semakin dewasa dan ada di luar sana sendirian .
Setelah puas bermain akhirnya Zahid kembali ke apartemennya . Sejak melepas Anna ia memutuskan kembali ke apartemennya . Jujur saja kadang ia masih merasa sakit ketika melihat kedekatan antara kakak dan bidadarinya .
Zahid berdecak kesal ketika seorang wanita sudah menunggunya di depan pintu apartemennya . Putri dari salah satu sahabat Daddynya yang juga merupakan seorang pengusaha ternama di Dubai , Evita .
__ADS_1
Sebenarnya mereka bersahabat sejak kecil , dan sejak menginjak remaja Zahid mulai tidak nyaman berteman dengan Evita karena gadis itu terlalu mengekang hidupnya . Setiap saat gadis itu mengirim pesan padanya untuk menanyakan keberadaannya .
Evita juga mengultimatum semua wanita yang dekat dengannya walau para wanita itu benar benar punya hubungan profesional dengan pekerjaan yang ditanganinya .
" Aku sudah mengirim pesan dan menelponmu berkali kali Za !! Aku cuma mengkhawatirkan dirimu . Tak bisakah kau sedikit menghargai perasaanku padamu ?? "
Zahid tidak menanggapi dan langsung masuk ke apartemen di ikuti oleh gadis itu . Bicarapun percuma karena ribuan kali di jelaskan pun gadis itu tidak pernah mau mendengarnya .
Dari dulu Zahid hanya menganggap Evita sebagai teman baiknya , tidak lebih ! Karena hatinya baru bisa terbuka lebar untuk seorang wanita jika dia sudah menepati janjinya pada seseorang .
Entah kenapa berkali kali ia ingin membuka hati untuk perempuan tapi selalu saja gagal , sepertinya dirinya masih terikat erat dengan janjinya sendiri . Dia pernah berjanji untuk menjaga seseorang tapi sampai hari ini dia belum bisa memenuhi janjinya karena dia kehilangan informasi tentang anak gadis itu .
Walau sudah berusaha tapi nyatanya orang orangnya tidak dapat menemukan informasi tentang gadis itu . Anak gadis itu seperti hilang ditelan bumi .
" Kau tidurlah !! Aku masih ingin di sini ... "
" Come on Ev .... jangan begini ! Tidak pantas kau bertahan di apartemen laki laki seperti ini . Kita bukan muhrim "
" Kita bersahabat , bahkan dulu kita mandi bersama waktu kecil . Sekarang apa salahnya jika aku di sini !!?? "
" Terserahhh !!!! Telingamu terlalu bebal ... lakukan apapun yang kau mau ! Asal jangan dekati aku !! "
__ADS_1
Zahid segera pergi ke kamar dan mengunci pintunya rapat rapat . Dia terlalu lelah untuk meladeni kegilaan Evita .
Sementara itu di pelataran parkir kampus tampak Anna sedang mendekap dari arah belakang tubuh besar Abbio agar tidak lagi kalap menghajar salah satu mahasiswa di kampus yang baru saja menabraknya .
" Beraninya kau sentuh milikku !!! Kubunuh kau !!! "
Tampaknya mahasiswa itu tahu benar siapa yang sedang ia hadapi karena seluruh mukanya sudah pucat pasi . Seorang pengusaha yang sangat berkuasa baru saja menghajarnya dan dia tidak bisa berbuat apa apa walau darah sudah mengucur dari sudut bibirnya .
" Berhenti .... aku mohon berhenti !! Jangan seperti ini "
Abbio yang tersadar tangan mungil itu masih melingkar di dadanya menghentikan aksinya . Dia mendengar Anna yang sudah terisak dengan tangan bergetar ketakutan .
" Sudah .. jangan pukul lagi , aku takut "
" Pergi ... " kata kata datar dari seorang Abbio mampu membuat mahasiswa itu pergi dengan raut ketakutan .
Tak ada yang berani mendekat ataupun mengabadikan momen itu dengan ponsel karena semua takut dengan konsekwensinya . Al Shamma bukan lawan yang main main . Mereka akan melakukan apa saja yang mengusik ketenangan keluarga mereka .
" Sudahhh .... jangan pukul lagi "
Abbio segera meraih tubuh Anna yang ada di belakang punggungnya . Tapi ketika sudah ada direngkuhannya wajah gadis itu sudah terlihat sangat pucat , gadis itu juga terlihat ketakutan ketika melihatnya .
__ADS_1
" Jangan pukul .... "
" Hei .. jangan takut ini aku !! Ann ... Anna ... !! "