
Astika sudah berada dalam pesawatnya karena sesuai jadwal ia kembali terbang ke Bali pagi ini . Dan tentu saja pria menyebalkan itu saat ini sedang duduk disisinya . Astika tak habis pikir bagaimana pria itu selalu bisa mengikutinya kemanapun .
Sepanjang perjalanan Astika hanya terdiam walau beberapa kali ia mendengar Oliver sempat bertanya beberapa hal padanya . Astika masih malu jika ingat kejadian tadi pagi saat ia membersihkan diri di kamar mandi .
Dia menjerit histeris karena mengira tali sneaker hitam.usngnis lihat adalah seekor ular kecil . Dan tiba tiba saja pria muda itu sudah ada di dalam kamar mandinya saat dia masih belum memakai bajunya .
Padahal sistem keamanan hotel itu sangat ketat , para tamu mempunyai kode sendiri untuk pintunya . Dan ketika di ingat ingat dia sendiri yang ternyata ceroboh , Oliver tepat berada di belakangnya ketika ia membuka pintunya saat itu . Kemungkinan besar pria itu tahu kode pintunya .
Dia tak melihat pria itu lagi setelah ia menaiki mobil jemputannya . Astika berpikir mungkin Oliver pergi mencari sebuah hotel atau semacamnya . Sebelum pulang ke mansion keluarga Effendy , Astika pergi ke yayasan terlebih dahulu . la hanya ingin memastikan semua baik baik saja .
Dan ketika sore menjelang ia baru menyelesaikan semua pekerjaannya di yayasan . Wanita itu merasakan sangat lapar karena sudah melewatkan makan siangnya .
" Pak antar ke kafe ya " kata Astika pada supir pribadinya .
" Tapi kafe yang biasa Nyonya datangi untuk sementara di tutup karena ada pembangunan jalan persis di depannya ... "
" Ya sudah kita ke kafe dekat pantai saja , saya ingin melihat sunset jika sempat " pinta Astika yang ingin melepas penatnya dengan melihat matahari terbenam
__ADS_1
" Baik , akan saya usahakan secepatnya sampai Nyonya !! " jawab sang supir yang langsung melesatkan mobilnya menuju ke arah pantai .
Beberapa saat akhirnya sampai juga mereka di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari pantai . Astika segera melangkah masuk dan ia di buat kagum dengan suasana kafe yang sederhana namun sangat ' mengena ' di hati .
Penataan ruangan yang simpel namun terlihat elegan . Ada beberapa puisi tulisan tangan yang di pajang di dinding . Sebelum mencari tempat duduk ia menyempatkan diri untuk membaca sebuah puisi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri .
*Aku sadar jika melepaskan
tak akan semudah ketika kita menjatuhkan
Aku tahu hatimu tak bisa di belah
Dan ketika hatiku sudah retak
ltu akan menjadi kesakitan
Walau kata ikhlas sudah kulantunkan*
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Astika menetes , ia merasa puisi itu adalah gambaran hatinya saat ini . Puisi itu menggambarkan tentang seseorang yang mau tak mau mengikhlaskan pujaan hatinya untuk orang lain .
Yang terpaksa melepaskan karena kesalahan yang dia buat sendiri . Dan ketika sudah terlepas baru dia menyadari tentang sakitnya arti kehilangan .
" Kau suka puisinya ??! "
Astika segera menghapus air matanya ketika mendengar suara seorang laki laki yang sepertinya berdiri di belakangnya . Ketika menoleh ia melihat seorang pria dengan tubuh tinggi tegap di belakangnya .
Matanya mengernyit ketika melihat raut pria itu , sepertinya wajah itu tak asing baginya walau sudah lama sekali tak melihatnya . Begitupun pria itu juga sedang memperhatikan wajahnya .
Untuk sesaat mereka saling menatap , tapi kemudian saling melempar senyum .
" SD N 30 Sesetan ??! "
" Ya tapi aku lupa namamu walau aku adalah salah satu pemuja rahasiamu kala itu ! " sahut pria itu dengan tersenyum lebar .
" Ya .. aku mengingatmu karena waktu itu kau menabrakku hingga dahiku benjol !! "
__ADS_1
Ha .. ha .. mereka tampak.tertawa bersama , pertemuan tak terduga yang membuat keduanya seperti diseret ke masa lalunya yang dipenuhi cerita lucu .