
Menjelang malam Zahid sampai di sebuah panti asuhan yang juga terletak di pinggiran kota . Sebuah panti asuhan sederhana yang sepertinya ditinggali banyak anak yang kurang beruntung .
" lni tempatnya Kak , ini panti asuhan tempat Bibi Claire bekerja . Kak Dean juga sering mengajakku ke sini "
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam panti dan disambut beberapa anak yang sudah mengenal Zack sebelumnya . Hati Zahid sedikit tersentil dengan keadaan panti yang sangat terbatas .
" Ada yang bisa saya bantu !? "
Suara seorang pria menyentak Zahid dari lamunannya . Di depannya kini berdiri seorang pria muda yang dipanggil Zack sebagai ' Kak Dean ' .
" Hai ... " sahut Zahid dengan tersenyum kikuk , dia ingat sudah salah menyangka pria pria yang saat itu bersama Safa sebagai para pria hidung belang .
" Apa kita pernah bertemu ?? "
" Ya ... sepertinya begitu "
Pria muda itu hanya tersenyum sinis , sepertinya Dean juga sudah mengingat siapa Zahid . Tapi pria muda itu masih berusaha untuk sopan .
" Silahkan duduk , kita berbicara di dalam . Zack kau bisa menemani mereka belajar di kamar masing masing . Kalian besok sekolah !! "
" Ya Kak "
Setelah semua anak pergi ke kamarnya kemudian dua pria itu melanjutkan pembicaraan mereka .
__ADS_1
" Bertanyalah , saya akan berusaha untuk menjawab semua yang ingin anda ketahui Tuan Zahid ! "
" Kau mengenal diriku ? "
" Sepertinya tidak ada orang di negara ini yang tidak mengenal klan Al Shamma "
" Kau berlebihan Dean , Apa aku boleh bertanya ? Apa kau mengenal seorang bartender bernama Safa ?? "
" Ya , dulu dia adalah salah satu anak asuh di sini . Dan saat dia menginjak remaja dia memutuskan untuk hidup mandiri seperti anak anak lain yang kurang beruntung karena tidak di adopsi oleh sebuah keluarga "
" Apa ke empat pria lain itu juga saudara saudara kalian !? "
" Ya , dua dari mereka beruntung karena diadopsi oleh keluarga yang baik . Walau tidak lagi tinggal di satu atap tapi kami masih menjaga komunikasi . Dan akhir akhir ini kami memang lebih sering bertemu "
" Ada kelainan di jantungnya , dan itu keadaan yang cukup sulit mengingat usianya yang tidak muda lagi "
Zahid menghela nafasnya , sepertinya apa yang ada di kepalanya adalah benar . Safa membutuhkan uang itu untuk pengobatan ibu asuhnya .
" Apa dia sekarang ada disini !? "
" Dia ? "
" Safa ... apa dia masih bersama kalian !? "
__ADS_1
Dean hanya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan dari Zahid .
" Setelah memberikan uang untuk pengobatan Bibi Claire malam itu dia pergi . Dan tak ada yang tahu tujuannya , termasuk aku "
" Apa kalian sengaja menyembunyikan dia dariku ?? "
" Kenapa kami harus menyembunyikan saudara kami sendiri ? Dan apa urusannya denganmu !! " suara Dean terdengar meninggi saat ini .
" Dia ...."
" Apa kau ingin menyeretnya lagi ??!! Jika saja malam.itu kami tahu rencana konyolnya , kami pasti tidak akan meninggalkannya bersamamu . Bisa bisanya dia melakukan hal itu ... Ya Tuhan , gadis itu memang bodoh !!! Dan pria terhormat sepertimu bisa bisanya mengabulkan permintaannya !!! "
" Kau tahu ... "
" Ada dana atas namamu untuk pengobatan Bibi , dan dia memintaku untuk merahasiakan ini dari Bibi Claire . Dana itu terlalu besar jika hanya untuk membayar jasanya untuk menemani makan siang atau makan malam seperti yang biasa ia lakukan . Dia sudah menjual dirinya padamu . Apa aku benar ??! "
Zahid diam , dia menundukkan kepalanya dengan mata terpejam . Rasa bersalah terasa semakin menyiksanya .
" Safa selalu saja mengorbankan dirinya untuk orang lain . Dulu dia juga pernah berkorban untuk seorang anak laki laki . Waktu itu kami sedang bermain bola di lapangan yang ada di samping apartemen . Dan bola kami dilindas oleh mobil yang anak laki laki itu tumpangi . Salah seorang dari kami melemparinya batu tapi Safa menghalanginya hingga kepalanya robek dan mendapat tujuh jahitan "
" Apaaa ... dia .... " lirih Zahid tak percaya .
" Tak ada yang tahu siapa anak laki laki itu , sepertinya identitasnya memang sangat dilindungi . Bibi juga melarang kami untuk mengungkit peristiwa itu . Dia bilang itu menyangkut nama baik seseorang dan kami harus menghargainya . Setelah kejadian itu Bibi melarang kami bermain di area apartemen lagi dengan alasan keselamatan dan keamanan kami "
__ADS_1
" Ya Tuhan ... dia "