
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kita ke Bogor yuk," ajak Sjahrir pada Vonny saat mereka baru selesai makan siang berdua di ruang Vonny. Adelia memang tidak setiap makan siang bersama dengan mama dan papanya. Hanya sesekali saja. Adelia kadang makan siang bersama dokter muda lainnya.
"Kenapa Pa? Ada urusan apa kita ke Bogor?" Vonny merasa aneh Sjahrir mengajak ke Bogor di awal minggu.
"Prilly di rawat di rumah sakit," jawab Sjahrir.
" Ngapain kita ke sana? Bayarin aja uang tinggal rawatnya. Beres kan," Vonny tak tergerak ingin melihat Prilly anak kandungnya sendiri.
Prilly sudah menikam dia berkali-kali. Sudah sulit Vonny membuka hatinya lagi. Vonny ingat mantan calon besannya mengejeknya setelah satu bulan kegagalan pernikahan Adelia.
'*Itu yang anakku lihat. Prilly tidur dengan banyak pria. Maka dia memutuskan pertunangan dengan Prilly*!'
Belum lagi ejekan keluarga yang tidak suka padanya, semakin nyinyir begitu tahu kelakuan Prilly merebut calon adik iparnya di hari pernikahan adik kandungnya!
Prilly seakan menyiram air garam di luka yang ada. Sangat perih dan tak bisa dihapus hanya karena anak itu sekarang sedang sakit.
'*Sebegitu terlukanya dia*,' batin Sjahrir.
Sjahrir mengerti mengapa sikap istrinya bisa seperti itu. Biar bagaimana pun perbuatan Prilly memang sangat salah tak bisa dimaafkan.
Saat ini jangan bicara naluri seorang ibu yang selalu bisa memaafkan. Yang pernah terluka tentu mengerti hal itu.
"Tapi kita perlu melihat kondisinya Ma. Dia anak kandung kita," bujuk Sjahrir.
"Ya udah biarin aja itu pilihan hidup dia," kata Vonny tanpa ingin tanya sakit apa dan bagaimana kondisinya serta di rumah sakit mana Prilly berada.
'*Dukanya teramat dalam*,' batin Sjahrir.
__ADS_1
'*Sampai seperti ini pun tak ada kata dia ingin gerak berlari untuk menghampiri putri kami. Putri yang kami dapat dengan susah payah. Kami menunggunya empat tahun. Dan selama hamil Prilly Vonny harus tiga kali dirawat karena kandungannya sangat lemah*,' pikir Sjahrir lagi.
"Oke kalau Mama maunya itu, besok Papa pergi sendiri ya," jawab Sjahrir dengan berat hati.
"Silakan," kata Vonny datar. Sudah tak ada maaf seorang ibu untuk Prilly.
Melihat tanggapan Vonny, maka Sjahrir merubah rencana. Dia memutuskan berangkat ke Bogor sekarang saja. Sehabis keluar makan siang dengan Vonny dia langsung meminta Yappie mengantarnya ke Bogor.
Sesampainya di rumah sakit tempat Prilly dirawat Sjahrir menanyakan dimana Prilly dirawat. Sjahrir tak percaya mendengar penyakit putrinya. Prilly terkena infeksi human papillomavirus (HPV). Suatu penyakit yang disebabkan terlalu sering ganti pasangan!
\*\*\*
'*Dari mana papa tahu Prilly sakit? Apa dia masih saja memantau dimana anaknya itu berada? Ternyata dia sangat lemah dan mudah memaafkan Prilly*.'
'*Dia tak ingat cibiran semua relasi dan kerabat yang datang di gedung dan mendapatkan pengumuman pembatalan pernikahan*.'
'*Tamu yang bukan hanya datang dari Jakarta. Tapi luar kota, luar pulau bahkan dari luar negeri. Mereka membuang waktu dan uang demi menghormati undangan Abu dan dirinya*!'
Vonny kembali menekuni berkas yang dia harus periksa. Sejak pagi dia sibuk di poli anak.
"Siapkan ruang VVIP milik keluargaku. Dan tutup data pasien serta penyakitnya dari siapa pun. Siapkan dokter yang mulutnya bisa ditutup. Bila data pasien bocor, napasmu taruhannya," Sjahrir memerintah staff kepercayaannya. Dia akan membawa Prilly ke rumah sakit miliknya.
\*\*\*
"Mama yakin papamu saat ini sedang ke Bogor dan akan memindahkan Prilly ke rumah sakit kita," Vonny langsung menghubungi Adelia ketika staff khusus Sjahrir minta tanda tangan persetujuan membuka ruang rawat special milik keluarga mereka seperti permintaan Sjahrir.
Suaminya lupa kalau semua kebijakan harus ada ACC darinya.
"Dia sakit apa?" Adelia pun malas tahu tentang saudara kandung yang telah membuatnya menjadi keset kaki itu.
"Mama belum tahu, tapi dokter yang diminta adalah dokter gyn, kanker dan jiwa," sahut Vonny.
"Kanker dan Gyn? Apalagi lah Ma. Pastinya bukan kena HIV." Adelia bisa menduga apa penyakit Prilly.
__ADS_1
"Mama juga menduga seperti itu." Vonny pun satu pemikiran dengan anaknya.
"Ya udah. Aku mau pulang. Mama mau tunggu papa *kapae*?" Adelia bersiap pulang.
"*Seng*. Ini mama juga *mo* pulang. Papa bilang *mo kasana beso*. Ternyata *su* berangkat siang tadi," jawab Vonny kesal.
Adelia melajukan mobilnya. Dia bingung. Dia menuju tempat ice cream.
'*Kalau pas sempat nanti malam ngobrol. Aku bingung dan bete*,' Adelia mengirim pesan teman sharingnya akhir-akhir ini.
'*Mas lagi on the way ke Jakarta. Mumpung papa dan Mukti sibuk di rumah sakit, mau ke rumah Jakarta. Mau ambil mobil dan semua barang mama dan Mas di rumah itu. Nanti begitu sampai Jakarta udah bawa mobil bak dan kardus besar serta lakban. Mau langsung kirim barang itu ke Jogja*,' balasan panjang langsung Adelia terima.
'*Malam mana ada ekspedisi buka*?' Adelia bingung kalau malam ini juga Sonny akan kirim barang-barang itu lewat ekspedisi.
'*Jangan salah. Ekspedisi yang di jalan Kramat itu buka 24 jam*,' sahut Sonny.
'*Ya sudah. Take care. Kalau bisa besok ngobrol. Aku bingung*,' Adelia meminta Sonny mendengarkan ceritanya.
'*Besok Mas cek pembangunan di rumah sakitmu. Siang kita makan siang bareng*,' jawab Sonny.
'*Siip*,' jawab Adelia. Dia menghabiskan ice cream medium yang dia pesan sebelum pulang.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.
__ADS_1