INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
AKU KANGEN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Serius Kak?" Tanya Farhan.



"Kakak menghubungimu pasti serius Dek. Bersiap ya. Tapi ingat kalian harus baik nilainya. Kalau misalnya tidak ranking tetap harus baik ya nggak boleh ada nilai yang jelek," jelas Adelia.



Siang ini Adelia memang sengaja menghubungi Farhan untuk bersiap datang ke Jakarta. Dia tak memberitahu perihal lamaran pada adik-adiknya. Hanya membahas acara liburan mereka saja.



"Oke siap Kak. Aku pasti mau, aku pasti bagus nilainya," kata Farhan dengan bahasa tak beraturan saking senangnya dihubungi kakak perempuannya. Saat itu mereka sedang perjalanan pulang sekolah.



"Kalian harus menurut pada mama dan papa ya. Tanpa mama papa kita enggak ada."



"Tanpa mama dan papa kita enggak bisa sekolah."



"Iya Kak," Farhan dan Fahri menjawab nasihat Adelia dengan patuh.



Dwi tak percaya, Adelia tak memandangrendah dirinya. Adelia bahkan mengajarkan putra-putra agar hormat padanya. 



"Kalian nanti datang dengan mama dan papa ke Jakartanya."



"Kita bener naik bajaj kan Kak?" Tanya Fahri.



"Iya, kalian akan naik bajaj. Dan kakak akan ajak kalian naik ke Monas!"



"Serius ke Monas?" Pekik Farhan.



"Serius. Kalian akan lihat kota Jakarta dari ketinggian. Kakak juga akan ajak kalian ke Taman Mini serta Dufan."



"Yang penting kalian harus jaga kesehatan. Kalian enggak boleh sakit ya. Jaga kesehatan kalian sendiri."



"Nanti Bude Ambar dan Kak Aksa akan datang juga koq," kata Adelia.



"Asyik semua ke sana Kak?"



"Iya sayang semua ke sini. Sekarang kakak sudahi teleponnya ya, kakak akan kembali kerja. Assalamu'alaykum."



"Wa'alaykum salam."


\*\*\* 



"Beneran Kak kita bakal ke Jakarta?" Tanya Fahri.



"Ya bener lah itu barusan kakak Adelia  sendiri  yang telepon. Masa dia bohong," jawab Farhan.



"Coba nanti malam kita telepon ke mas Aksa," Kata Fahri.



"Enggak perlu lah Dek kalau Kak Adel udah bilang gitu udah pasti.  Yang penting kita bilang mama bahwa kita harus belajar yang baik jaga kesehatan dan apa tadi?" kata Farhan.



"Belajar yang baik jaga kesehatan  dan hormat orang tua," Kata Fahri.



"Iya betul kita harus nilainya bagus walau pun tidak jadi juara. Padahal kita selalu juara ya Dek."



"Iya sehat dan selalu hormat sama orang tua aja lah kalau belajar kan kita memang selalu belajar," Kata Fahri.



"Iya nanti kita bilang Mama kalau mama pulang kerja ya."



"Papa nanti ikut ya Pa kalau ke Jakarta," rengek Fahri.



" Insya Allah Papa ikut," kata Dwi.



"Tadi kan ke Adel bilang harus berangkat sama mama papa," Fahri menjelaskan lagi alasan dia meminta Dwi ikut.



"Iya kemarin waktu ke Jogja dan ke Solo Papa nggak ikut," sesal Farhan.

__ADS_1



"Waktu kalian ke Solo Papa pas lagi ada kerjaan," kata Dwi.



"Besok kita bareng-bareng,  aku nggak sabar loh Kak naik bajaj," Kata Fahri.



"Aku nggak sabar naik ke Monas,"  Farhan tentu beda keinginan dari adiknya.



"Apa itu Kak naik ke Monas?" Fahri yang baru 7 tahun tentu belum mengerti tentang Monas.



Farhan lalu menerangkan apa itu Monas. 



"Monas itu masuk  tujuh keajaiban dunia, Monumen Nasional jadi disingkat Monas,  atapnya ( maksudnya puncak kali ya, makllah bahasanya Farhan buat Fajri ) dari emas Dek."



"Kalau kita naik sampai puncak, nanti kita bisa lihat kota Jakarta dari atas sana."



"Wooow kereen. Aku juga mau kesana Kak."



"Iya beneran, makanya kita berdoa agar semua sehat jadi bisa berangkat."



"Ya Kak kita jangan main hujan-hujanan kita juga jangan telat makan," kata Fahri.



"Bukan cuma telat makan Dek, tapi kita juga jaga makanan jangan jajan sembarangan atau makan yang pedes-pedes jadi kita nggak sakit."



"Iya iya aku akan menjaga makan, aku nggak mau jajan lagi," Kata Fahri.



"Iya kamu tuh yang suka jajan kotor-kotor depan sekolah padahal mama udah bawain kita bekal yang bersih dan sehat," Farhan memperingati adiknya.


\*\*\*



"Semalam aku udah telepon mamamu Mas."



"Terus?" 




"Percuma kan kamu telepon kalau cuma mau kasih tahu seperti ini,"  kata Sonny yang keqi karena Adelia ngegantung info.



"Aku telepon karena kangen suaramu aja," jawab Adelia menggoda.



"Kalau gitu aku langsung terbang ke Jakarta ya."



"Ih nggak usah, nggak usah," kata Adelia menampik kalau Sonny kepaksa datang karena dia kangen.



"Katanya kangen," goda Sonny.



"Ya kangen tapi kan juga nggak perlu datang langsung," jawab Adelia.



"Wong aku sudah di Jakarta kok."



"Serius?"



"10 menit lagi aku sampai rumahmu,"  jawab Sonny tak mau kalah.



"Mas serius?" Tanya Adelia senang setengah tak percaya.



"Serius, ini sedang menuju rumahmu. Ya udah kalau nggak percaya nggak usah bukain pintu." Jawab Sonny.



"Sebentar Mas, ada bibik ketuk pintu kamar," Adelia membuka pintu kamar.



"Kenapa Bik?"



"Ada tamu di bawah," jawab pembantu yang ngetuk pintu kamar Adelia.



"Siapa?" Belum sempat sang bibik menjawab Adelia melihat sosok Sonny menuju kamarnya.


__ADS_1


"Ya ampun dia beneran datang!" Adelia berlari mengampiri Sonny dan memeluk lelaki yang dia rindukan.



"Ya beneran lah," kata Sonny membalas pelukan kekasihnya dan mengecup kening Adelia dengan penuh rindu. 



"Mas ngapain naik kesini?"



"Orang disuruh Om Ariel naik ya udah Mas naik."



"Ayo turun ah, nggak enak." mereka pun turun.


\*\*\*



"Sudah makan Son?" tanya Vonny.



"Sudahlah Tante, udah jam segini masa belum makan." Vonny meletakkan martabak yang Sonny bawakan dan beberapa gelas teh panas.



"Ada urusan apa Mas ke Jakarta?" Adelia duduk rapat pada Sonny dia tak pernah merasakan rindu seperti ini pada Jeffry. 



Padahal saat berhubungan dengan Jeffry dulu Adelia dan Jeffry juga jarang bjsa bertemu walau mereka satu kota, karena saat itu Adelia sedang sibuk menamatkan kuliah specialisnya.     



"Besok sidangnya Vio, jadi aku ingin datang. Mukti juga akan datang kok."



"Terus mana Mukti? Kenapa enggak nginep sini?"



"Dia enggak bisa datang hari ini. Dia masih ada kegiatan penting  malam ini.  Jadi dia datangnya besok pagi."



"Besok dia akan nginep sini."



"Wah asik aku kedatangan dua pangeranku."



"Tuh, tuh kan tuh kan."  



"Enggak Mas, serius nggak, sekarang nggak ngomong gitu lagi deh," kata Adelia.



Mereka sudah berjanji tak akan bercanda ada pria atau perempuan lain. Karena walau hanya candaan, mereka takut itu akan kenyataan karena seperti suatu doa yang dikabulkan.



"Besok sidangnya Vio?" Tanya Vonny.



"Iya Tante."



"Sidang akan berlangsung  jam berapa?"



"Jadwalnya jam 10.00 pagi sih."



"Wah aku nggak bisa ikut, enggak ngabarin jauh-jauh hari biar aku bisa ikut," sesal Adelia.



"Aku baru terima pemberitahuannya kemarin."



"Coba aku tanya Farah ya, dia bisa gantiin aku nggak."



"Enggak usah lah, nanti datangnya sesudah jam praktek aja. Jangan ganggu praktek," larang Sonny.



"Nanti aku jam 12.00 dari rumah sakit ya?"



"Ya, tapi jangan pakai mobilmu"



"Kenapa?"



"Kan ada Mukti." Sahut Sonny.



"Kamu bawa mobil yang ada di rumah aja Sonn, nanti pulang praktek Adel ke pengadilan diantar aja. Jadi kalian bisa pulang bertiga Mukti," saran Sjahrir.



Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER


__ADS_1


__ADS_2