
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kalian bilang akan pindah ke Solo. Rumah kalian di Surabaya telah terjual. Rumah kalian di Bali akan kalian jadikan home stay. Apa Mukti akan tinggal di villa?" Tanya Vonny.
"Mukti tetap di Bali. Dia tak mau tinggal sendirian di villa. Dia lebih memilih tinggal di galery 3 miliknya. Rupanya dia mempunyai jiwa seni dari ayah kandungnya yang tadi Abu ceritain," kata Ambar.
"Kakeknya Mukti seorang pemahat," lanjut Ambar.
"Tapi mengapa Mukti nggak mau tahu ayah kandungnya Om?" tanya Adelia.
"Dia bilang nggak usah nambah masalah. Belum tentu istri ayah kandungnya mau terima kalau suaminya pernah punya masa lalu kelam. Malah nambah ribet. Mukti bilang sebagai lelaki dia tak butuh wali buat nikahin dia. Lagi pula beda agama juga tak bisa jadi wali bila dia perempuan. Itu pemikiran Mukti nggak usah kenal." kata Abu.
"Mukti bilang ayahnya hanya Lukito Prabunegara dan mamanya hanya Ambarwati Setiono. Papa dan mama lain selain itu tak ada." Lanjut Abu menerangkan bagaimana cintanya Mukti pada mereka. Itu semua karena sikap welas asih yang memang selalu Ambar berikan pada semua anaknya tanpa terkecuali.
"Aku masih enggak percaya deh," Vonny tetap tak mau percaya fakta yang dia dapatkan hari ini.
"Jangankan kamu yang orang luar. Kami yang hidup bersama dia aja nggak percaya karena selama itu sikap mama Menur itu sangat baik pada kami semua," Ambar juga tak cepat bisa percaya bila tak menggabung semua puzzle kehidupan mereka.
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu ke Jakarta ngapain?" Tanya Sjahrir.
"Aku mau bangun rumah di Solo jadi kami sedang diskusi dengan arsitek. Itu kan enggak instan."
"Aku juga mau mulai transisi pemindahan usaha ke Solo," sahut Abu lagi.
"Kenapa nggak kamu jual aja perusahaanmu seperti Sonny?" Tanya Sjahrir.
"Itu juga sudah aku bilang tapi ya dianya masih ngotot mau mindahin," keluh Ambar.
"Aku dilema, mau aku jual tapi ya gimana ya bingung juga. Karena kalau bikin dari awal juga agak sulit kan membangun image," jawab Abu.
"Iya juga ya. Jadi di Solo kan bukan perusahaan baru," Abu menyadari kemudahan yang Sjahrir usulkan
"Iya bendera tetap kamu pegang kamu jual propertinya sama pegawai atau SDM nya. Kalau ada SDM yang mau pindah ke Solo ya silakan. Tapi kamu nggak usah tanggung apa pun berkaitan dengan kepindahannya itu! Kamu akan utamakan menerima mereka tapi tidak menanggung biaya akomodasi," lanjut Sjahrir lagi.
"Boleh juga tuh pikiran itu," ungkap Abu senang.
"Wah kalah sama dokter yang nggak biasa nanganin masalah perusahaan," ejek Ambar menggoda suaminya.
__ADS_1
"Dia otaknya otak bisnis Bee." Abu santai menjawab ledekan istrinya.
"Kalau nggak punya jiwa biznis mana mungkin dia bangun rumah sakit dan bangun apotek banyak," Abu membela dirinya.
Mereka lalu ngobrol santai, walau sesekali kembali ke masalah Menur dan Airlangga. Tak ada yang ingat masalh Prilly. Fokus mereka hanya masalah itu saja.
"Kalian benar sudah kontrak rumah di Solo?" Vonny ingin main ke Solo. Sedang rencana ke Jogja aja dia belum jadi.
"Ya, rumah sangat sederhana. Type 36 standart dengan dua kamar. Yang penting kami mudah mengawasi pembangunan rumah kami." Jelas Abu.
"Aksa sekolah nanti naik motor, jadi walau cukup jauh dia tak repot naik angkot atau antar jemput."
"Baguslah. Aku turut bahagia kalian kembali bersama lagi. Tak aku sangka kamu bersikap seperti itu pada Ambar karena dihasut eyang Menur." Sjahrir sangat tahu bagaimana cintanya Abu pada Ambar. Jadi memang aneh saja mendengar Abu bersikap kasar pada perempuan yang dia cintai segenap jiwa.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya MPHOON dengan judul BELENGGU HASRAT ANAK TIRI ya.
__ADS_1
