INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
PERSIAPAN MENANTI JENAZAH


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Yang ini baju koko krem dan putih untuk acara hari ini atau untuk pemakaman dan pengajian Ma.  Aku sengaja beli dengan warna agak beda-beda biar kelihatan bahwa eyang ganti baju."



"Aku rasa cukup ya ini. Nanti kalau kotor langsung dicuci aja biar siap bila butuh ganti lagi Ma. Katanya eyang mau yang putih atau krem kan?"  Adelia memberikan satu bungkus baju koko putih dan krem untuk eyang Angga.



"Ma ada satu yang coklat jadi ada empat ya Ma.  Ini baju untuk papa dan ini buat Mukti nanti," kata Adelia pada Ambar.



Adelia sudah memanggil MAMA pada Ambar. 



"Terima kasih," jawab Ambar.



"Nanti Mama kasih ke Mukti." Kata Ambar.



"Takutnya aku lupa Ma. Namanya banyak orang."



"Mama tadi nggak pesen baju kan?"



"Enggak."



"Syukurlah. Aku takut terlupa. Tapi aku udah beliin sih cuma mungkin masih di mas Sonny kali punya mama sama punya Mamaku."



"Nanti ya Ma sudah aku beliin kok tunik putih buat mama dan mama Vonny."



 Saat itu jenazah dan Syahril serta Vonny belum tiba.



Adelia tadi melihat jenasah di ruang rawat saat Sonny baru datang. Hanya sebentar saja lalu mereka langsung pergi membeli pakaian.



Mereka pikir saat mereka kembali dari belanja jenazah sudah siap di rumah ternyata belum. Baru tenda yang sudah siap terpasang.



"Mas bajunya ada yang belum diturunin ya Mas."



"Masa sih Yank?"



"Baju buat para mama belum turun loh sama tunik aku. Ini cuma ada bajumu. Tadi aku cuma bawa baju laki-laki milik papa, eyang dan Mukti aja."


__ADS_1


"Oh berarti masih di mobil Yank. Enggak bakal ilang."



"Bukan soal enggak bakal ilang. Aku takut lupa kita ngasihin." kata Adelia.



"Tolong ambil ya Mas, nanti aku pisahin baju Mama Vonny sama mama Ambar lalu sama baju aku."



"Aku sudah bilang soal kamar buat asistennya Mukti belum Yank?"



"Sudah. Aku minta di belakang aja nggak di depan karena nanti di depan kan banyak keluarga." Jawab Adelia.



"Enggak apa-apa. Mukti   bilang kalau full semua di kamar pembantu pun nggak apa-apa."



"Kamar pembantu juga udah penuh Mas. Keluarga datang kita juga masukin ke situ."



"Jadi nanti asisten Mukti juga satu kamar sama siapa lah bukan sendirian."



"Ya nggak apa apa lah namanya kondisi kayak gini.  Rumah sebesar ini penuh semua."



"Iya." kata Adelia.




"Kamu mau ngapain lagi? capek Yank capek Mas lihat kamu." Sonny tak ingin kekasihnya tepar karena terlalu lelah.



"Aku mau melihat makanan. Sudah dipikirkan belum sama kepala pembantu rumah tangga."



"Biar gimana pun banyak tamu di rumah ini. Kita harus siapin makan buat yang datang Mas."



Adelia lalu langsung mencari kepala pembantu rumah tangga. "Panggil *nene* Nia *dolo*," kata Adelia 



Panggilan dalam bahasa Ambon memang digantung ya, tidak pakai huruf K dibelakang, pengucapannya juga tak ada kata K. Nene bukan nenek.



"Iyo Nona," kata seorang ibu cukup umur yang masih gesit.



"*Nene, su ada biking apa par orang makang malam ini*?" Adelia tanya pada nenek itu sudah masak apa untuk makan malam.



"*Par makang malam ini samua stock di freezer su nene kase kaluar lalu diolah*." Nenek Nia bilang semua bahan di kulkas sudah dia keluarkan dan diolah semua.


__ADS_1


"*Nene su pasan ayam, daging, ikang, di toko makanan frozen. Deng pesan beras, air mineral dna sembako di toko langganan*."



"*Air mineral banya banya Ne. Jang kurang-kurang*." Adelia berpesan agar beli banyak air mineral agar tak kekurangan.



"*Su pesang banya-banya air mineral botol super kacil bukang gelas* ( Sudah pesan banyak air mineral botol super kecil ). " Nene Nia sudah memesan air mineral dalam kemasan super kecil bukan gelas agar tidak banyak tertumpah. Biasanya kalau yang di gelas bersisa tak ada yang bisa bawa di tas. kalau yg botol super kecil tak habis bisa dimasukan ke saku atau tas.



"*Apa lai yang balom Ne*? Mama *deng* Papa pasti nggak berpikir ke dapur biar aku yang handle jadi ada apa-apa nene lapornya ke aku jangan ke mama ya."



"Baik Nona."



"Tenda sudah, apa lagi nih aku takut lupa namanya ngedadak."



"Namanya orang mati pasti mendadak lah Non."



"Iya sih."



"Yang tadi *su pesang balom bayar Nona e*. Biasa Bu Vonny langsung transfer ke toko."



"Berapa semuanya? Ada nomor rekeningnya?"



Nene Nia memberitahu pesan dari toko berupa rincian serta jumlah dan nomor rekening toko itu pada Adelia.



 "Itu samua sudah dibayar, buktinya aku oper ke Nene biar Nene yang lapor ke sana."



"Oke. Tinggal sayuran Non. Sayuran nggak ada yang model diantar dan harus belanja sendiri."



"Ini uang untuk belanja sayuran. Cukupkah?"



"Lebih dari cukup," kata nene Nia.



"Ya sudah pegang saja kalau ada perlu-perlu apa-apa, biar nene pegang. Perhatikan gas dan tissue."



"Gas masih ada empat tabung besar jadi nggak takut,"  kata nene Nia.



"Oke nanti begitu kosong beli agar tidak menyusahkan."



Adelia kembali ke kamar. Dia sudah plong sudah karena urusan dapur sudah dia handle.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND



__ADS_2