INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
PUPUS SUDAH ASA KU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Kita **FLASHBACK** ke Adelia siang tadi.



Adelia malas kembali ke rumah sakit  Sehabis makan siang  di cafe Marquis Gelato  tadi dia ke mall lalu jalan-jalan.



'*Ke salon ah creambath aja lah biar agak fresh*,' pikir Adelia.



'*Dok, ada yang harus ditangani. Dokter bisa terima atau saya cari dokter pengganti*?' Adelia membaca pesan dari kepala ruang rawat.



Dia membaca semua keterangan medis pasien yang dikirimkan



'*Saya akan tiba satu jam lagi. Siapkan OK. Tetap carikan pengganti takut saya kejebak macet*,' Adelia bersedia menangani dan minta segera disiapkan ruang operasi.



Akhirnya Adelia sampai rumah sakit langsung bersih-bersih diri dan mulai melakukan operasi saat jam enam sore.



Sampai jam sembilan malam  tadi baru selesai. Adelia ngobrol dengan staf dan para perawat sambil makan malam yang tertunda. 



Jam 11.00 malam Adelia baru sampai rumah. Orang akan berpikir dia terluka oleh kejadian orang tuanya.



Adelia memang terluka, tapi dia tak akan kabur dari masalah. Terlebih itu bukan masalah pribadinya. Saat dia tertimpa bencana besar aja dia enggak kabur. Dia tetap tegar menghadapi semua pertanyaan kegagalan pernikahannya.



Tadi jam setengah enam sore Adelia langsung mematikan ponselnya karena akan melakukan operasi.



Sampai selesai operasi Adelia pulang dia lupa nyalain ponsel lagi. Karena dia tak merasa ada keperluan dengan ponsel.



Adelia menyalakan ponsel ketika telah tiba di rumah.



"Kenapa pada heboh begini?" Gumam Adelia melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari papanya, mamanya bahkan Sonny.



Jadi Adelia bukan pergi karena ngambek atau marah tapi karena dia operasi ya. **FLASHBACK OF**.



'*Aku sudah di rumah, tadi aku operasi. Baru aja sampai rumah*,' jawaban untuk Sonny sengaja Adelia kirim. 



Adelia tidur dia nggak mau jawab yang lain lagi. Adelia yakin Sonny mencarinya karena mamanya menghubungi lelaki itu.



Adelia mengisi batere ponselnya, lalu dia tidur.



Sonny yang membaca pesan itu agak plong tapi dia tahu Adelia terluka dengan perceraian orang tuanya.



Adelia bahkan tidak membaca pesan Sonny yang menyatakan Selamat tidur karena memang dia sudah tidak buka HP lagi.


\*\*\*



Abu harus ke Bali segera, tak bisa menunggu satu minggu sesuai rencana awalnya. Ada berkas kantor yang mendesak dia tanda tangani. Abu sedang memindahkan administrasi kantor Bali ke kantor Surabaya. 



Abu merekat rapat amplop coklat besar berisi surat- surat berharga.



"Ingat ya harus bu Ambar yang menerima. Tak boleh diwakilkan siapa pun. Walau itu anak saya. Kalau bukan bu Ambar, lebih baik kamu bawa kembali," Abu menurunkan orang kepercayaannya di pintu gerbang villa miliknya.



"Baik Pak," sahut lelaki berkacamata tebal itu.



"Kalau kamu sudah selesai. Hubungi saya. Saya tunggu kamu di seberang sana," Abu segera melajukan mobilnya menjauh dari gerbang villa. Dia tak mau Ambar melihatmya lalu salah paham.

__ADS_1



"Bu ada tamu," seorang pegawai front office villa memberitahu Ambar setelah pintu villa dibuka oleh nyonya pemilik villa.



"Siapa?" Ambar penasaran. Karena dia merasa tak punya janji bertemu dengan siapa pun.



"Entah Bu, katanya penting cuma mau kasih surat aja. Dan harus Ibu yang terima," jawab pegawai itu.



Ambar pun merapikan diri sedikit, lalu dia keluar ke lobby villa. Cukup jauh dari ruang dia di atas. 



Di lobby villa Ambar melihat  orang kepercayaan Abu dia kenal sosok itu karena kan sudah lama menjadi kepercayaan suaminya.



"Eh Pak Husein apa kabar?" Ambar menyalami Husein.



"Saya baik Bu." Jawab lelaki yang sampai saat ini masih saja membujang walau telah lewat setengah abad usianya.



"Ada perlu apa pak Husein?" tanya Ambar.



"Saya dapat amanat dari Bapak untuk memberikan surat ini pada ibu langsung.  nggak boleh dititipkan atau diwakilkan ada siapa pun." Husein menyerahkan amplop coklat besar dengan isi cukup tebal yang tertutup rapat dengan isolasi bening.



"Terima kasih ya Pak Husein jawab Ambar. Ambar tidak mau semua orang tahu masalah dia dan Abu. orang di Villa aja nggak ada yang tahu. 



"Saya langsung pamit saja Bu. Masih banyak tugas yang harus saya lakukan." Husein langsung pamit pada istri bossnya itu.



"Terima kasih pak Husein," kata Ambar.



Husein langsung menghubungi Abu untuk menanyakan bertemunya di mana.



'*Habis sudah harapanku. Pupus sudah asa ku*,' kata Abu melihat Husein kembali dengan tangan kosong.




'*Semoga masih ada jodohku dengan dia*,' harap Abu dengan sepenuh hati.



Ambar melihat amplop bertuliskan namanya dengan tulisan tangan suaminya. Ambar hafal tulisan Abu.



Ambar menggunting pelan dan hati-hati ujung amplop yang dikirim Abu di ruang tamu villa yang dia tinggali.



Ambar tidak ingin isi amplop ada yang rusak bila dia merobek tidak hati-hati.



Ambar melihat dua sertifikat rumah atas namanya. Dan dua BPKB mobil atas nama Abu. Lengkap dengan dua kunci mobil.



BPKB mobil atas nama Abu. Tapi mobil-mobil itu biasa dia pakai dan satunya digunakan untuk mobilitas Aksa tentu dengan sopir yang mereka gaji.



'*Assalamualaikum istriku*,'



'*Aku tahu kamu, tak nyaman menerima amplop yang aku kirim ini. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja setelah kita berpisah satu tahun nanti*.'



'*Aku ingin kita kembali bersama. Karena cintaku hanya untukmu. Kamu tahu itu sejak dulu* ***Bee***. *Hanya ada kamu dihati ini. Tak pernah ada yang lain*.'



'*Sekarang aku berikan ini kepadamu karena ini adalah milikmu. Mobilmu, mobil Aksa. Rumah kita, semua milikmu*.'



'*Kalau kamu mau jual, atau nggak jual silakan. Semua milikmu, jadi kamu yang berhak menentukan untuk apa itu kedepannya*.'



'*Di kedua rumah itu sudah tak ada barang Mas bila kamu mau jual kedua rumah itu*.'


__ADS_1


'*Sekarang Mas tinggal di rumah ayah Airlangga. Kamu bisa mencariku di sana bila butuh sesuatu*.'



'*Pria yang selalu mencintaimu*'



'***Lukito Prabunegara***.'


\*\*\*



"Sibuk Mas?" tanya Ambar setelah menjawab salam yang anak sulungnya ucapkan.



"Nggak Mama ada apa?" Sonny kaget Ambar belum jam 12.00 siang.



"Barusan papamu memberikan BPKB mobil Aksa dan mobil mama serta dua sertifikat rumah yang di Surabaya dan sertifikat rumah Bali. 



"Rumah udah kosong dari barang papa. Terserah mau dijual atau diapakan kata papa," Ambar memberitahu garis besar isi surat Abu.



"Rumah kalau kosong cepat hancur Ma dan kalau Mama mau jual dipikir dulu. Apa kita enggak pengen ada rumah buat kita stay kalau kita ke Bali? Kita enggak mungkin kan numpang di villa?"



"Pikir dulu ulang-ulang baru memutuskan. Mungkin kalau rumah Surabaya bisa dijual lah. Tapi rumah Bali, Mas pikir sayang. Tapi semua terserah Mama. Mana yang terbaik menurut Mama,"  Sonny memberi tanggapan apa yang Ambar minta.



"Gimana kalau rumah Bali kita bikin rumah singgah atau Hotel singgah atau home stay Mas?"



"Jadi bisa disewa hanya satu bulan atau lebih. Enggak perlu tahunan."  Ambar tahu di Bali banyak pekerja musiman yang kadang hanya butuh menetap satu hingga beberapa bulan saja.



"Rumah nggak kosong tapi juga nggak lama di sewa. waktu kita mau pakai bisa," lanjut Ambar lagi.



"Nah itu lebih baik Ma. Mama cari orang kepercayaan mereka tinggal di belakang. Lalu nanti kalau ada yang sewa atau ada yang pakai satu bulan atau dua bulan atau lima bulan nggak apa-apa Ma. Yang penting barang pribadi mama dan semua barang Adek dibawa pulang dulu."



"Jadi kamar itu bener-bener hanya untuk hanya untuk tidur penyewa Ma."



"Kalau furnitur sama alat dapur harus lengkap karena penyewa bulanan umumnya hanya bawa pakaian aja." Sonny setuju ide mamanya.



"Okelah besok Mama mau cek dulu toh papamu nggak ada juga. Mereka katanya di Surabaya nganterin eyang Menur." Ambar bersemangat karena mendapat solusi dari putranya.



"Apa barang Papa udah keluar Ma? Tanya Sonny.



"Kan tadi Mama sudah bilang, menurut papa semua barang miliknya sudah dia bawa." Ambar memberitahu Sonny apa yang ditulis Abu.



"Ya sudah kalau barang Papa sudah dibawa, jadi lebih mudah membereskan dan membersihkan. Mungkin kita perlu cat ulang dan reposisi letak furniture," lanjut Sonny.



"Nanti Mama lihat dulu orang yang bisa tinggal di rumah itu kan juga harus dipikir," sahut Ambar.



"Mbok Darmi aja. Mbok Darmi sama Pak Kusno kan bisa tuh di situ yang lainnya ya pindahin aja kerja di Villa," jawab Sonny.



"Besok Mama lihat dulu yang masih ada di sana siapa. Papa bilang sih sebagian udah pada pindah gitu."



"Aku tunggu kabarnya ya Ma," kata Sonny sebelum menutup pembicaraan mereka.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.



![](contribute/fiction/6262777/markdown/10636434/1676964013799.jpg)

__ADS_1



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.


__ADS_2