
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kenapa Mas?" tanya Adelia pelan melihat Sonny menjauh mencari tempat agak tenang untuk menerima telepon.
"Ini Yank, Mukti besok harus kembali ke Bali. Dia minta izin boleh nggak karena kan takut mengganggu jadwal pengadilan."
"Memang kenapa harus kembali ke Bali?" Adelia penasaran.
"Dia harus mengambil copy surat izin usaha miliknya dan milik teman-temannya yang akan ikut pameran di Solo. Mereka harus mematuhi peraturan daerah penyelenggara yang mewajibkan seperti itu."
"Kenapa nggak dikirim lewat email? Begituan kan gampang."
"Peraturannya harus seperti itu diikutin aja. Harus hard copy. Sebenarnya lewat email juga sudah bukti otentik tapi peraturan tiap daerah kan enggak sama. Jadi ya harus diambil kopinya." Sonny memberitahu mengapa harus mengambil hardcopy.
"Kalau masalah hardcopy kan bisa dikirim dengan ekspedisi Mas." Adelia tetap tak mengerti alasan yang dia pikir tak logis.
"Memang bisa. Punya teman-teman Mukti bisa dikirim hardcopy-nya tapi punya Mukti yang tahu tempat menyimpan hanya dia. Jadi dia harus ambil kan?"
"Justru karena dia harus ambil punya dia maka dia minta teman-temannya untuk menyerahkan hardcopy mereka di Galeri Mukti. Mereka nanti ketemuan."
"Dan semua seniman Bali nanti digabung jadi satu file."
"Oh gitu. Kalau harus ambil punya Mukti ya memang harus pulang, karena memang hanya dia yang bisa memecahkan masalah itu," kata Adelia.
"Iya karena nggak ada yang tahu kan dia simpan di mana surat izin usahanya."
"Jadi besok Mukti pulang ke Bali?"
"Iya nanti malam kan kembaliin mobil, besok pagi-pagi akan langsung ke bandara habis salat Subuh. Mas bilang nanti diantar sama driver aja karena dia masih ngantuk juga nanti taksi juga berantakan. Mending diantar sopir aja."
"Iya banyak driver di rumah ngapain juga naik taksi. Mobil juga ada. Kalau nggak ya kita antar juga nggak apa-apa," usul Adelia ringan.
__ADS_1
"Enggak kalau kita antar, Mas enggak setuju. Masih terlalu pagi mendingan kamu istirahat kalau tiba-tiba kamu ada pasien operasi kamu jadi terbebani nggak usah antar ke bandara," larang Sonny.
"Mas besok itu hari Sabtu lo bukan hari kerja," Adelia terkekeh melihat Sonny ngotot melarang dia mengantar Mukti ke bandara.
"Eh aku lupa aku pikir hari kerja Yank. Maklumlah aku kan pengangguran jadi nggak tahu kalau besok weekend," Kata Sonny.
"Bisa aja nih ESMUD ngaku pengangguran," goda Adelia.
\*\*\*
"Hai Zahra," sapa Bastian ramah.
"Hai Kak. Dapat undangan juga?" Adelia tak menyangka bertemu Bastian dan Fitriani di resepsi Farah dan Rezky.
"Aku dulu teman SMP-nya Rezky. Kalau SMA kan kita bareng, lalu kuliah Rezky bareng dengan kamu."
"Aku juga kaget tiba-tiba dapat undangan di grup SMP dari Rezky, jadi aku datang."
"Halo Fitriani. Apa kabar?" Adelia menyapa adik sepupu Bastian.
"Eh jangan panggil bu dokter dong. Ini di luar rumah sakit."
"Kalian sudah kenal kan sama calon suamiku?" Adelia kembali memperkenalkan Sonny pada Bastian dan Fitriani.
"Iya udah panggil aku Kak Zahra aja nggak apa-apa," Adelia mengizinkan Fitriani memanggilnya kak saja jangan ibu dokter.
"Kalian saling kenal?" kata Bram yang tiba-tiba datang.
"Ini pasienku dan ini teman SMA aku," jawab Adelia pada Bram.
"Yang menikah itu adik kandungku," kata Bram pada Fitriani. Dia ingin memperjelas mengapa dirinya ada disana.
"Oh," jawab Fitriani.
__ADS_1
"Adik kandungnya Mas Bram itu sahabatku. Kami bertiga sahabatan sih pengantin lakinya juga sahabatku dan sejak aku bersama calon suamiku kami jadi bersahabatan berempat," kata Adelia.
"Aku salaman ke Rezky dulu ya. Dulu di SMP kami memanggilnya Kiki."
"Kamu mau ikut Abang salaman dulu ke Kiki atau disini aja?" Tanya Bram pada adik sepupunya.
"Nanti Abang balik."
"Aku sama Abang aja lah," jawab Fitriani. Lalu mereka berdua pamit menuju panggung pengantin.
"Dia itu cewek yang aku bilang Sonn." Bram memberitahu Sonny siapa Fitriani bagi dirinya.
"Oh itu," Adelia malah yang menjawab.
"Memang kamu tahu?" Bram bingung malah Adelia yang menjawab.
"Kemarin mas Sonny cerita garis besarnya. Fitriani itu pasienku. Suaminya memang kecelakaan dan dia sedikit trauma, jadi dia belum berani terima siapa pun. Karena yang aku tahu Bastian juga sudah menjodoh dua laki-laki untuknya tapi dia belum mau terima."
"Apa?"
"Wah aku harus gerak cepat ya."
"Kita dukung asal nanti kamu serius. Aku tak ingin malu menjodohkan tapi kamu sakiti."
"Iya aku serius."
"Kamu nggak mainin?"
"Enggak lah aku nggak akan main-main lagi. Sudah bukan jamannya aku main-main. Aku sudah mentok sama dia. Kalau belum mentok, ada cewek segini banyak pasti aku sudah langsung tepe tepe," jawab Bram.
"Kalau kamu memang berniat begitu aku akan serius membantu," kata Adelia.
\*\*\*
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR