
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Lalu bagaimana keputusanmu sekarang?" tanya Vonny.
Ambar dan Vonny akhirnya ngobrol di belakang setelah Abu pulang.
"Aku akan pulang ke Bali dulu," jawab Ambar.
"Aku harus bicara dengan Aksa sebelum Abu yang bicara. Bisa tambah ruwet kalaj Abu sudsh bicara me dia duluan," kata Ambar.
"Itu bagus," kata Vonny.
"Aku mendukungmu," lanjut Vonng lagi.
"Kapan rencananya pulang ke Bali?" tanya Vonny selanjutnya.
"Mungkin besok hari Minggu pagi," jawab Ambar lagi.
"Oke aku selalu dukung. Kalau kamu butuh bantuan support atau bantuan lainnya kamu hubungi aku aja," kata Vonny.
"Oke terima kasih atas atensimu selama ini," kata Ambar.
"Mohon maaf waktu kamu sedih aku tidak bisa datang," lanjut Ambar lagi.
"Waktu Adelia menikah aku memang sudah niat untuk berangkat tetapi ternyata kan eyang Airlangga masuk rumah sakit karena dehidrasi saat buang-buang air. Jadi aku tidak jadi berangkat. Enggak enak sama eyang Menur kalau kami tinggal saat itu," kata Ambar.
"Enggak apa-apa itu juga kan bukan kemauan kita waktu eyang Airlangga sakit sampai kamu panik. Padahal kamu sudah beli tiket. Aku enggak apa-apa kok," kata Vonny.
Memang saat itu Vonny diperlihatkan foto tiket yang sudah dibeli oleh Ambar untuk berangkat ke Jakarta.
\*\*\*
Abu dan Mukti diam dalam perjalanan kembali ke rumah keluarga Lukito.
Di rumah Abu langsung menghubungi Airlangga.
__ADS_1
"Barusan aku bertemu dengan Sonny dan Ambar," Abu langsung memberitahu ayahnya info terbaru.
"Dimana? Koq bisa?" Airlangga penasaran.
"Sepertinya mereka bertemu dengan Sjahrir. Mau makan siang ditempat yang sama dengan aku dan Mukti janjian dengan lawyer." Sahut Abu.
"Ambar sudah memutuskan untuk minta waktu satu tahun berpisah denganku. Dengan catatan setelah satu tahun menepi, belum tentu dia akan kembali padaku Pa."
"Ternyata selama ini Ambar menduga aku teramat mencintai Witri sehingga tak mau Mukti disakiti siapa pun." ucap Abu pelan.
"Itulah buah tindakanmu selama ini. Kamu memang teramat membedakan anak kandung Ambar dan anak kandung Witri kalau semuanya itu sama-sama anakmu. Papa bisa merasakan sakitnya perasaan Ambar. Terlebih dia tahu Mukti bukan siapa-siapamu!"
"Tak ada yang bisa menghapus semua itu. Tak akan mungkin bisa dihapus. Puluhan tahun itu mengendap dalam otak Ambar, Sonny dan Aksa!" sesal Airlangga.
Airlangga sudah diceritakan amarah Aksa pada Abu.
"Aku belum bisa pulang segera Pa. Aku menyelesaikan masalah kantor karena Sonny sudah tak mau lagi memegang perusahaanku. Dan aku juga harus urus permasalahan dengan Imelda serta Vio sebelum kembali ke Pulau Bali," pamit Abu.
\*\*\*
Sonny mempersiapkan tiket untuk kepulangan hari Minggu pagi.
"Lalu Mama mau tinggal di mana?" tanya Sonny.
"Mama akan tinggal di villa. Mama akan ambil barang-barang milik Mama dulu di rumah. Mamas temani Mama ya?" pinta Ambar.
"Oke baik," jawab Sonny.
Hari Sabtu itu tak ada kegiatan apa pun yang terlalu heboh. Adelia hanya diam di rumah sambil sesekali membuka media sosial. Ambar dan Vonny sejak tadi hanya membahas masalah masakan hingga mereka selesai makan siang.
"Enggak ada kegiatan Son, kita keluar yuk," ajak Sjahrir pada Sonny.
"Kemana Om?" tanya Sonny.
"Keluar aja lah. Kita ke barber shop," Sjahrir amit pada istrinya dan Ambar.
Sebenarnya Sjahrir ingin bicara dengan Sonny tanpa sepengetahuan Ambar dan Vonny.
__ADS_1
"Om sebenarnya cuma pengen ngobrol aja sama kamu sebagai laki-laki," kata Sjahrir.
"Om melihat banyak apa namanya …," Sjahrir berpikir sejenak mencari kata yang dia maksudkan.
"Ada salah paham yang mungkin akan terlalu ruwet untuk dijabarkan. Kisah tentang persepsi mamamu yang mengira papamu terlalu cinta pada Witri, sehingga membela Mukti sampai jungkir balik istilahnya."
"Yang Om tahu papamu hanya cinta pada mamamu saja sejak dia SMA. Sampai ke pernikahan tak pernah ada perempuan lain di hati dan pikiran papamu."
"Om sangat tahu hal itu. Mungkin sikap papamu pada Mukti itu bukan berdasarkan karena cinta pada Witri tapi penyesalan karena bayi itu sudah kehilangan ibunya sejak bayi. Itu saja mungkin."
"Bukan karena cinta pada ibu si bayi atau Witri. Itu salah paham yang pertama. Kita akan sulit luruskan karena sudah mengendap terlalu lama."
"Lalu yang selanjutnya masalah Aksa. Om ingat saat papamu tahu ada Aksa di perut mamamu, papamu sampai sujud syukur karena akan punya anak kedua."
"Jelas dia menyadari kalau benih dari ibumu hanya dua jadi dia sebenarnya sadar anaknya hanya dua walau tidak dia perlihatkan."
"Om sulit ngomong soalnya itu memang harus dari pemikiran Abu. Om akan cari cara biar mendengar langsung apa dasar pemikiran Abu sehingga bertindak membedakan Mukti dari kalian anak kandungnya sendiri. Harus dari mulut Abu!"
"Tapi yang selama ini Om tahu dia sangat mencintai kalian kamu dan Aksa!"
"Tadi waktu kamu ke belakang papamu bilang ternyata Aksa sudah komplain padanya mengatakan bahwa dia bukan anak papamu."
"Ini harus kita pikirkan dengan saksama. kalau terus dibiarkan nanti akan berakibat perkembangan jiwanya. Tugas kamu dan Ambar dalam hal ini agar Aksa tidak menyimpan dendam. Om dan tante Vonny akan mendukung kalian dalam penanganan masalah Aksa ini.
"Aku malah belum tahu Om kalau masalah Aksa ini. Nanti aku akan bilang dengan mama untuk selalu mendukung Aksa agar berpikir positif tentang papa." kata Sonny.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita BARU karya yanktie dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.
__ADS_1