
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Ambar dan Vonny melihat dan mendengar saat Adelia berbicara dengan papanya.
"Kalau misal papamu minta kamu nengokin Prilly satu kali aja. Gimana pendapatmu?" tanya Ambar.
"Memang dia siapa butuh aku tengok?" jawab Adelia dengan sinisnya.
"Kalau dia kritis lalu aku tetap menolak mengunjunginya, orang akan bilang sadis ya orang sudah kritis kamu tetap tak mau nengok!"
"Orang yang tidak merasakan sakitku bisa bicara itu. Aku mendoakan mereka yang bicara seperti itu merasakan sakit yang aku rasakan!"
"Kalian bisa bicara apa pun karena kalian tidak merasakan pedihnya," itu jawab Adelia pada Ambar.
"Jadi walau pun dia sudah kritis kalau aku tidak mau memaafkan ya sudah," kata Adelia dengan hati yang beku.
"Di mana cinta kasihnya? Di mana hati dan perasaanya saat dia melakukan itu padaku? Dimana otak dia saat dia menghujam aku berkali-kali? Tiap hari mereka melakukannya dibelakangku. Kalau sekarang aku harus memaafkannya karena dia kritis itu artinya maaf ku tidak tulus!"
"Orang akan menghujat aku tak punya malu dan tak mengerti beragama dan beribu alasan lain karena hatiku tak bergerak melihat dia kritis. Aku bukan dewa."
"Dia sakit juga karena hobbynya. Aku tak peduli penilaian orang padaku. Ini prinsipku!"
"Kamu memang pintar berkata-kata. Kalimat panjang yang kau ucapkan itu yang Mama rasakan .Tapi kemarin Mama tak bisa ucapkan."
"Orang bisa menghujat Mama. Ibu macam apa yang tidak memaafkan anaknya? Tapi apa mereka yang menghujat itu tahu sakitnya Mama? Malunya wajah Mama dilempar kotoran oleh Prilly?"
"Mereka nggak tahu rasanya! Mereka hanya bisa menghujat melihat Mama tidak memaafkan Prilly. Mama juga akan berdoa yang menghujat Mama merasakan apa yang kamu rasakan," ujar Vonny.
__ADS_1
"Aku tak mau peduli Ma. Penghujat itu mau jungkir balik bilang seperti apa silakan. Biarlah mereka memaafkan Prilly kalau mereka mau memaafkan. Tapi tidak dari aku," jawab Adelia.
\*\*\*
"Ayo Dek kita jalan ke pantai yok. Belajarnya agak siangan ya temani Kakak dulu kita jalan-jalan di pantai." Ajak Adelia ada Aksa. Dia bete kalau ingat kelakuan papanya yang membawa Prilly ke rumah sakit mereka.
Itu seakan papanya memaafkan Prily dan menyetujui kelakuan be-jadnya.
Yang ngusir Prilly dari rumah kan papanya. Sekarang dia juga yang langsung merengkuhnya setelah perempuan itu ( dengan sakit yang dideritanya saat ini ) tambah membuka bagaimana buruk dan nistanya kelakuan anak sulung papanya itu.
"Kakak ganti baju dulu," Adelia dan Aksa ganti baju untuk ke pantai.
"Kita naik jetsky yok Dek," ajak Adelia.
"Bahaya Kak. Kita kan enggak mahir seperti mamas." Tolak Aksa.
Mereka naik angkot turun dari kawasan Villa yang letaknya diatas bukit.
"Kamu serius enggak apa apa keluar sebentar?"
"Enggak apa-apa Kak. Biar enggak jenuh. Otakku udah panas nih." Keluh Aksa.
"Ha ha ha. Ayok kita dinginkan dengan es kelapa. Nanti kamu harus Jumatan, jadi kita jangan terlalu jauh dan terlalu lama," Adelia memesan dua buah kelapa muda utuh tanpa es.
Adelia lupa ini weekend. Memang belum hari Sabtu, setidaknya banyak orang mbolos kerja di hari Jumat seperti dirinya.
Sekarang dia melihat seorang gadis yang sedang berpose dengan kain pantainya. Yang membuat foto adalah mantan calon suaminya!
__ADS_1
Adelia tak enak bila mengajak Aksa cepat pergi dari situ padahal mereka baru datang dan kelapa yang mereka pesan saja belum diantar.
"Selamat menikmati," ucap seorang gadis kecil yang mengantarkan kelapa.
"Hai Menur. Terima kasih," Aksa mengucapkan terima lasih pada gadis yang namanya sama dengan neneknya itu.
"Tumben kau keluar dari tempurungmu Sa," ejek gadis itu.
"Aku menemani kakakku yang datang dari Jakarta" sahut Aksa sambil membuka batok kelapa yang jadi tutup buah kepala miliknya.
"Hai," saap Adelia ramah.
"Hai Kak, bukankah Aksa akan tinggal di Jogja. Mengapa kakak malah tinggal di Jakarta?" Gadis itu polos bertanya pada Adelia.
"Ha ha ha beda orang. Aku akan tinggal di Joga dengan kakak lelakiku. Kakakku ini tinggal di Jakarta," jawab Aksa santai.
"Baiklah. Permisi Kak," si gadis pun pamit. Dia tak bisa lama ngobrol karena banyak konsumen lain yang butuh dia antar kelapanya.
'*Aku kembali melihatnya dengan lelaki kecil itu*,' batin Jeffry. Dia sedang pesan kelapa muda dan bapak penjual bilang kelapa akan diantar oleh putrinya yang saat ini sang putri sedang mengantar pesanan orang lain. Si bapak penjual kelapa menunjuk putrinya sedang mengantar kelapa buat Adelia dan Aksa.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.
__ADS_1