INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
BAGAIMANA BISA NETRAL?


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Sesuai dengan rencana Adelia dan Sonny keluar sore ini. Adelia ingin kembali melihat Sunset sebelum besok sore pulang ke Jakarta.



"Apa rencanamu selanjutnya?"  tanya Adelia pelan. Dia sedang galau.



"Rencana yang mana?" tanya Sonny.



"Yang berkaitan dengan tante Ambar dan Aksa."



"Sepertinya kalau aku lihat sih udah nggak akan mungkin mama dan papa bersatu lagi. Aku sedih melihat perpisahan ini. Sebagai anak tentu aku ingin mereka tetap bersatu," kata Sonny.



"Tapi kalau mereka kembali bersatu dan selama bersatu kembali, Mama harus tertekan ya aku nggak rela lah. Mama sudah terlalu sakit. Aku nggak ingin dia lebih sakit lagi," jawab Sonny.



"Iya sih," kata Adelia. 



"Aku juga bingung. Memang sepertinya kesalahan papa sepele. Tapi luka Mama juga ternyata sangat dalam.



"Kalau persoalan ini tidak menyangkut diriku mungkin aku mau jadi penengah mama dan papa. Tapi ini menyangkut diriku. Orang yang terbaring di sana itu menikam nggak kira-kira di hari pernikahanku.  Bagaimana mungkin aku mau menjadi penengah mama dan papa sedangkan papa membela orang itu?"



"Orang yang sedang sakit itu menikam aku dan mama. Dan buat mama itu bukan luka yang pertama itu sudah luka yang berkali-kali dia buat untuk mama."



"Bahkan menyebut  namanya pun aku malas," kata Adelia.



"Mas mengerti semuanya,"  Sonny bisa mengerti karena dia juga diposisi yang sama.



Tadi Ambar minta dia harus bersikap manis pada Mukti karena Mukti tak bersalah kecuali kasus Vio. 



Lha kasus Vio kan menyangkut dirinya. Mukti menikahi tunangannya! Apa pantas lelaki seperti itu dianggap saudara? Sedang Adelia yang beneran saudara kandung aja malas menyebut nama Prilly!



"Emang posisi kita sulit kita nggak ingin orang tua kita berpisah tapi kita nggak bisa jadi penengah karena kita terkait didalam konflik mereka."



"Kita nggak bisa jadi pendengar di tempat yang netral karena kita terlibat didalam persoalan mereka," kata Sonny.



"Orang yang mau bertindak jadi penengah atau mediator harus yang netral!  Kita bagaimana bisa netral?"



"Aku sayang banget sama papa. Aku deket banget sama papa.  Tapi papa menikam aku seperti ini aku sakit sekali diginiin sama papa," keluh Adelia.



Akhirnya mereka tidak turun dari mobil sama sekali. Tak ada lagi niat melihat keindahan tenggelamnya mentari sore ini.



Sonny hanya membuka kap mobil. Mereka tetap duduk di mobil sampai hari menjelang malam.



"Ayo kita pulang yuk kita belum salat magrib. Ntar magriban di rumah. Sudah terlambat waktu maghribnya. Tadi mama titip sate kambing. Kitq beli  sate kambing dulu buat makan malam."

__ADS_1



Mereka pulang dengan kap mobil tetap dibuka.


\*\*\*



Akhirnya sampai juga di Jakarta!" Adelia dan Vonny telah tiba di Bandara SOETTA.



"Yah kita sampai lagi ke realita," jawab Vonny.



"Tegar Ma, tante Ambar aja bisa tegar kok, masak kita nggak bisa tegar. Kita tak boleh jatuhin air mata.  Jangan seperti tante Ambar. Selalu menangis sampai mata bengkak," Adelia memberi support pada mama tercinta. 



"Kita harus saling dukung dengan ada Ambar yang sudah terpuruk," Vonnymemotivasi dirinya sendiri.



Adelia dan Vonny pun berjalan menuju parkiran setelah selesai makan malam di cafe bandara.



Mobil Adelia sudah nginep di bandara selama empat hari tiga malam. 



"Wah enak juga ya nggak perlu nungguin sopir ngejemput atau telepon nanya sopir ada dimana.



"Iya lumayan juga sewa parkir mobilnya tapi daripada kita sakit hati mending begini lah kata Adelia.


\*\*\*



Adelia memarkirkan mobilnya dan para maid sudah langsung menunggu kedatangan nona majikan mereka.




Vonny pun kembali ke kamar tamu di depan dan langsung mengunci pintu kamar itu. Begitu pun dengan Adelia.



Sjahrir yang baru mengetahui bahwa anak dan istrinya sudah masuk rumah terlambat mendatangi.  Karena keduanya sudah mengunci pintu kamar masing-masing.



'*Alhamdulillah setidaknya mereka beneran  meninggalkanku*,'  Sjahrir masuk kamarnya dengan tidak dikunci Sjahrir berpikir mungkin Vonny mau masuk kamar ini mengambil sesuatu. 



Adelia dan Vonny tadi sudah makan malam begitu tiba di Bandara Soekarno Hatta. Tiba di rumah  mereka langsung mandi dan tidur.



Esok pagi mereka harus mulai bekerja lagi.



'*Kami sudah sampai rumah ya*' Adelia mengirim pesan itu untuk Sonny.



'*Oke selamat istirahat*,'  jawab Sonny.



'*Alhamdulillah aku sudah sampai rumah*,' pesan Vonny pada Ambar telah terkirim.sejak tadi. Berapa lama Vonny melihat Ambar belum membacanya.



'*Halah ibu itu pasti sudah tidur*,' pikir Vonny lalu dia pun langsung tidur.  Yang penting sudah mengirim kabar pada Ambar.


\*\*\*



Sjahrir menunggu istri dan anaknya sarapan tapi tak ada yang menghampiri meja makan.


__ADS_1


"Apa Adelia sudah berangkat kerja?" tanya Sjahrir pada pembantu.



"Kalau non Adel sudah berangkat  sejak habis Subuh Tuan. Nyonya belum," pembantu rumah tangga itu menjawab jujur.



Sjahrir menunggu Vonny keluar kamar, tapi juga  terjadi. Padahal dia ada jadwal operasi pagi.



Tanpa bisa menunggu Vonny,  Sjahrir langsung berangkat kerja.



Setelah Sjahrir berangkat Vonny baru keluar kamar. Dia kekurangan pakaian di kamar tamu ini. Jadi harus ambil di kamarnya.



"Ambilkan tiga bak baju yang kosong," pinta Vonny. Dia mengeluarkan beberapa baju untuk dia pindahkan ke ruang depan. Alat make up nya alat mandinya banyak baju-baju kerja baju-baju dokter baju snellinya juga baju sehari-hari untuk di rumah. 



"Bawa ke ruang depan," perintah Vonny pada maid yang sejak tadi tidak keluar karena menunggu perintah lanjutan dari nyonya majikannya.



Sesudah itu Vonny baru sarapan dan berangkat kerja.



"Nanti baju bersih saya sehabis cuci langsung taruh kamar depan semuanya nggak ada yang ditaruh ke kamar saya lagi," kata Vonny pada pembantu yang mengiringinya sampai mobil.



"Iya Nyonya," kata pembantunya dengan patuh.



Adelia tadi berangkat pagi sekali. Semalam ada pesan bahwa ada pasien harus operasi pagi jam setengah enam.



Sjahrir melihat jadwal penggunaan ruang operasi ternyata ada nama Adelia operasi pagi hari. Sjahrir juga operasi tapi jam sembilan pagi.



'*Hallo. Gimana harimu? Jadi operasi pagi*?'



'*Aku akan berangkat ke bandara jam sembilan pagi karena pesawatku nanti jam sebelas*.'



'*Aku sudah di bandara Bali*.'



'*Mas sampai aku tiba di bandara Jogja*.'



'*Mas langsung ngantor. Malas ke rumah enggak ada mama*,'



'*Alhamdulillah sudah sampai kantor Jogja. Selamat bekerja. Maaf baru sempat buka ponsel*.' Sonny tertawa membaca pesan Adelia. Dia mengirim pesan sejak subuh tadi dan hanya dibalas seperti itu. 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.



![](contribute/fiction/6262777/markdown/10636434/1676610145464.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.

__ADS_1


__ADS_2