
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Alhamdulillah aku senang kalian sudah sah." Adelia memeluk erat kedua sahabatnya. Tak mereka sangka perjalanan persahabatan mereka bertiga berakhir bahagia seperti ini.
Adelia melihat wajah kedua sahabatnya sangat bahagia.
"Semoga kamu cepat nyusul," balas Farah atau yang biasa di panggil Ara atau Arra.
"Kamu kan tahu kapan jadwalku lamaran, lalu menikah jadi nggak usah pakai doa pun kamu sudah tahu jadwalnya. Kecuali aku belum ada calon lalu belum ada target kapan menikah," tepis Adelia.
"Cie yang udah pasti," goda Rezky.
"Iya dong, emangnya lu yang main salib aja," jawab Adelia pada Rezky.
"Selamat ya Umi," kata Adelia pada umi-nya Rezky yang datang membawakan air mineral dingin bagi anak dan menantunya
Adelia memang di dalam sendirian tanpa Sonny. Karena Sonny langsung digeret oleh Bram sesudah akad nikah adiknya tadi.
"Lho mana calon suamimu?" Tanya umi-nya Rezky yang kenal dengan Adelia sudah sangat lama.
"Ada di luar sama Mas Bram." Jawab Adelia santai tapi tetap sopan.
"Owh iya, tadi Umi dengar dia katanya sahabat Bram waktu S1 di Jogja ya?"
"Iya Umi," Adelia membenarkan info yang uminya Rezky dengar.
Orang tua Farah senang pada Rezky yang mau menerima kekurangan anaknya.
Mereka sudah mengetahui rencana pasangan ini yang akan berupaya agar bisa punya momongan dengan cara bayi tabung dari spermanya Rezky bila program yang sedang dilakukan oleh Farah belum berhasil.
"Aku yakin kamu akan segera berovulasi," bisik Adelia pada Farah.
"Bagaimana mungkin?"
"Ingat mitos pasangan yang belum punya anak disuruh dipancing dengan mengangkat anak dulu?"
"Kalau menurut logikaku itu karena hormon esterogen terbentuk lebih banyak karena kita memelihara bayi."
"Nah kamu akan terpancing ovulasi karena sudah melakukan coitus," kata Adelia.
"Bisa aja kan? Walau belum ada pembuktian dengan data empiris." Adelia kalau bicara hal seperti itu sering menghubungkan sesuatu secara keilmuan.
Orang awam nggak ngerti istilah yang mereka gunakan, jadi mereka santai aja bicara soal *coitus*.
"Semoga aja semua prediksimu benar," kata Farah.
"Aku yakin seperti itu karena kan banyak sesuatu yang dianggap mitos bila dikupas secara keilmuan ternyata benar. Seperti yang tadi aku bilang. orang tua yang lama nggak punya anak tiba-tiba punya anak karena ngangkat anak atau kalau orang Jawa bilang MUPU atau apalah namamnya."
"Pokoknya aku nggak ngerti angkat anak itu kan karena terpancing hormon estrogennya, sehingga dia bisa punya anak. Nah aku berpikir juga seperti itu."
"Begitu kamu melakukan coitus lalu ada rangsangan dari luar kamu bisa ovulasi," kata Adelia.
__ADS_1
"I hope it happen," jawab Farah.
"Ya semoga aja sehingga nggak perlu pakai bayi tabung dengan ovum orang lain. Aaamiiiin," jawab Rezky.
"Itu masmu nggak apa apa di luar sendirian?"
"Maksudmu nggak apa apa tuh kenapa? Nanti nyangkut orang lain atau bagaimana?"
"Kalau untuk itu aku percaya Mas Sonny sulit tertarik kecuali ada ulat keket yang sengaja menyodorkan se-langkangan langsung depan pesawat tempurnya."
"Tapi tetap mas Sonny enggak akan bereaksi kecuali dia dikasih obat."
"Itu kalau menurut penglihatanku, bukan karena aku memuji dia. Tapi itu pandangan semua yang kenal mas Sonny luar dalam."
"Sonny sedang bicara dengan Mas Bram pasti mereka sedang membicarakan mantan-mantannya Mas Bram!" Ucap Farah.
"Kok gitu?"
"Iyalah Mas Bram itu tiap kelas, tiap celah punya pacar. Sebaliknya sahabatnya itu mau disodorin kayak apa nggak pernah mau kenal ceweq." Lanjut Farah lagi.
"Beneran serius Sonny kayak gitu?" tanya Rezky.
"Iya dia sama Vio aja nggak cinta. Cuma karena ibunya mengharap dia cepet nikah aja. Karena dia pikir Vio adalah gadis innocent dia mau. Dia nggak punya rasa sayang apalagi cinta terhadap Vio. Dia sendiri enggak peduli bagaimana nasib pernikahannya nanti dengan Vio."
"Kalau untuk rasa cinta nggak tuh yang aku tahu dari mamanya, dari semua kerabatnya seperti itu. Dia ke Vio itu datar. Beda jauh ke aku, ini versi mamanya ya. Aku nggak tahu juga. Tapi mereka orang jujur kok."
"Vio itu nggak dekat dengan keluarganya Sonny, boro-boro dengan Aksa. Dengan papanya aja enggak. Kecuali dengan eyang Menur."
"Hambar kan? Nuning sebenarnya hanya pelarian aja dari elo," kata Adelia.
"Bener. Gue kalau bokap lo nggak ngomong gue juga gitu. Yang penting target dari Umi tercapai bahwa gue nikah. Itu aja gue nggak punya rasa apa-apa sama Nuning. Karena dia nyosor aja, ya udahlah terima aja."
"Tapi sekarang mendingan lu ajak makan laki lu dulu deh," kata Farah.
"Nanti kasihan, habis ini kan mau Jumatan."
"Gua mau langsung pulang sih sebelum Jumatan. Jadi biar gue di rumah aja."
"Elu nanti datang kan ke gedung resepsi?"
"Insya Allah datanglah masa nggak sih? Yang nikah sahabat-sahabat gue! Kecuali yang nikah tuh cuma Rezky sama siapa atau Farah sama siapa."
"Kalau seperti itu merasa udah datang diakad, gue enggak perlu datang saat resepsi.
"Tapi karena kalian berdua yang jadian, ya gue wajib harus mesti kudu, ah bahasanya apalagi yang artinya sama?"
"Gue merasa wajib datang di akad dan resepsi kalian."
"Udah ajak makan dulu deh laki lo itu," kata Rezky.
"Kenapa? Elu ngusir gue? Siang gini juga enggak bisa ngapa-ngapain kan lu?" goda Adelia.
__ADS_1
"Ya bukan gitu kali. Ih lagian emang siapa yang tau gua belum ngapa-ngapain duluan ?"
"Iih nanti yang denger ngira kita beneran udah ngapa-ngapain lho," kata Farah.
"Ya dibilang beneran juga nggak apa-apa lah anggap aja aku kasih DP."
"Apaan sih," Farah mendorong tubuh suaminya.
\*\*\*
"Mas kita maem yuk. Habis itu kita pulang, karena kan kita nanti mau datang ke resepsinya. Dan juga Mas kan mau salat Jumat kan," kata Adelia.
"Oh ya udah yuk."
"Gua makan dulu ya." Pamit Sonny pada Bram.
"Ya silakan." Balas Bram.
"Asyik banget sih Mas ceritanya sama kakaknya Farah," Adelia mengomentari Sonny yang betah duduk berjauhan dari dirinya. Biasanya pisah sebentar aja sudah komplain.
"Bram lagi curhat ceritanya kan dia selama ini bandel. Tiap sudut dia punya pacar. Banyak korbannya lah pokoknya."
"Enggak bandel dalam artian celup sana celup sini. Dia cuma pacaran tanpa berhubungan badan koq. Nggak dia nggak sampai situ, karena dia berpikir dia punya adik perempuan, nggak mau dia melakukan suatu hal yang dilarang agama."
"Tapi tetap aja banyak perempuan sakit hati pada dia karena ditinggal dia cari korban lainnya."
"Ceritanya sekarang dia mau insaf. Dia naksir cewek yang bener-bener dia taksir dari dalam hati bukan cuma sekedar di mata."
"Tapi itu cewek nolak dia!" Adelia tertawa menxengar itu.
"Dan gilanya itu cewek itu janda anak satu, suaminya meninggal karena kecelakaan. Dan Bram mentok sama perempuan itu."
"Waduh benar-benar mentok dong?"
"Iya, dia tuh udah mentok banget tapi itu cewek nolak."
"Oh gitu ya udah itu mah karma!" Sahut Adelia.
"Aku juga bilang gitu tadi sama dia. Aku bilang dia tuh KETULAH. Ketulah itu sama ama dengan karma."
"Iyo po?"
"Cie, bisa ngomong Jawa."
"Ya belajarlah Mas, namanya calon imamku kan orang Jawa. Jadi aku harus belajar bahasanya. Mas ngerti bahasa Ambon tapi nggak bisa ngucap juga kan?"
"Iya sih aku cuma tahu *maso minta* doang," kata Sonny.
"Ih maunya."
"Ya pokoknya aku berhasil tuh langsung minta pada ppa dan mamamu," ucap Sonny.
Mereka pun mulai mengambil makan siang bersama. Itu adalah kondangan pertama mereka, dan mereka memakai baju sarimbit yang dulu mereka beli di Jogja.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING
__ADS_1