
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"*Untung kamu dokter gigi, kalau kamu dokter kandungan kamu stress punya istri Nuning*." Rezky ingat kata-kata dokter Sjahrir di Singapore kemarin.
"*Dokter gigi tak ada panggilan darurat seperti dokter jantung dan dokter kandungan. Lebih baik kamu berpikir ulang punya calon istri yang tak mengerti pekerjaan kita*."
Rezky semakin hari kok semakin sebel dengan sifat selalu cemburunya Nuning Padahal pernikahan mereka tinggal empat bulan lagi semua kata-kata dokter Sjahrir dia ingat.
"*Kamu pergi dalam rangka perjalanan dinas. Walau kita sedang jalan-jalan. Tapi ini jam kerja kan*?"
"*Apa yang dia kerjakan di office hour selain memantau calon suaminya? Apa dia pengangguran*?"
\*\*\*
'*Kalau aku batalin pertunangan kami, enggak enak nggak sama orang tuaku. Kalau aku lanjut tersiksa aku sepanjang hidupku*.'
'*Aku harus gimana ya*?' tanya Rezky dalam hatinya
"Kamu kenapa Rez?" Tanya Indri pada putra tunggalnya.
"Galau Umi," jawab Rezky.
"Kenapa? Galau kan ada sebabnya?" Desak Indri.
"Tadi siang Nuning bikin ribut di ruanganku Umi. Dia marah pada suster yang beberes di ruanganku,"
"*Ngapain kamu disini?" Tanya Nuning yang nyelonong masuk tanpa ketuk pintu*.
"*Apa saya salah ya Bu?" Tanya sang suster*.
"*Apa saya di ruang yang salah?" Tanya suster itu dengan berani*.
"*Aneh aja kamu beberes, itu kan kerjaan OB," kata Nuning ngotot*.
__ADS_1
"*Ibu tahu kalau OB tak diperkenankan mberesin alat? Mberesin alat tugas perawat Bu*."
"*Saya salah kalau saya mberesin baju atau bahkan ngacak-ngacak baju pak dokter Bu*," bantah suster itu lalu dia pergi keluar dari ruangan itu.
"Itu bukan yang pertama Umi bahkan anak pemilik rumah sakit aja pernah bahkan beberapa kali dicemburui olehnya," jelas Rezky.
"Ya ampun, Umi kan udah bilang apa, kayaknya pilihanmu salah tapi kamu ngotot. Sekarang maunya kamu gimana?"
"Kalau aku terusin berarti sepanjang umur pernikahan kami, aku akan diinjak-injak."
"Kalau nggak aku terusin, aku nggak enak sama keluarga besar." Jawab Rezky ragu.
"Kamu bukan hidup dari keluarga besar. Dan yang akan merasakan manis serta pahitnya rumah tanggamu bukan keluarga besar. Jadi pikirkan untung ruginya keputusanmu itu baik-baik."
"Kalau saran Umi sih putusin aja. bukan karena Umi benci dia, tapi karena memang dari awal Umi bilang dia enggak baik buatmu."
"Kamu yang nggak percaya," balas sang Umi.
"Emang saat itu hari terakhir kami jalan-jalan tapi kan itu semua biaya dinas dia rewel aja makanya pemilik Rumah Sakit bilang untung kamu dokter gigi. Kalau dokter jantung atau dokter kandungan seperti putri sayakan makan hati karena sebentar-sebentar dapat panggilan darurat."
"Lah iya dong pasti," kata Uminya.
"Tadi dia dapat lawan tangguh Umi," Rezky memang hanya tinggal berdua dengan Uminya. Sejak kecil umi dan abinya berpisah. Dan sejak lima tahun lalu abinya telah meninggal.
"Maksudmu?” tanya Indri yang seorang apoteker senior.
"Tadi susternya ngelawan, dia nggak mau di marah-marahin sama Nuning."
"Ngelawan bagaimana?"
"Ya dia bilang lalu tugas saya mau ngapain di sini Bu? Saya ini perawatnya dokter Rezky. Saya hanya membersihkan alat. Kalau saya buka bajunya Pak Dokter baru Ibu boleh marahin saya gitu Umi."
__ADS_1
Indri terkekeh mendengar cerita itu.
"Ya wajar dia juga nggak mau kok di cemburu seperti itu."
"Kalau saran Umi sih kamu salat aja, tanya baiknya sama Allah." Indri mengerti kekesalan suster itu.
"Umi akan bersiap bagaimana menebalkan muka kalau memang harus kita batalkan pertunangan itu. Umi nggak ingin anak tunggal Umi sepanjang hidupnya tersiksa."
"Aku sih suka dia. Cuma kalau di giniin terus ya kelewatan," kata Rezky.
"Kalau bukan Adelia kayaknya aku udah langsung dipecat sama rumah sakit karena berkali-kali dia cemburu pada anak pemilik Rumah Sakit."
"Dia ngapain ke rumah sakitmu apa dia nggak kerja?" Uminya Rezky bertanya hal yang sama dengan Sjahrir.
"Nah itu yang dokter Sjahrir tanya ngapain dia sepanjang hari mantau aku kayak orang enggak kerja."
"Belum tahu aku apa dia nggak kerja. Karena mungkin jam makan siang aja dia kabur ke rumah sakitku," jawab Rezky.
"Dari kantornya dia ke rumah sakitmu itu berapa menit? Minimal 30 menit lah. Jadi kurang lebih pulang pergi sudah 1 jam."
"Lamanya kalian makan berapa menit? Misal kita hitung cepat kalian membutuhkan waktu 30 - 40 menit. Kita bulatkan ke atas kalian makan siang satu jam. Berarti dia minimal pulang pergi ke kantornya 2 jam."
"Sedang jam resmi makan siang adalah hanya satu jam. Apa dia bisa bebas pergi dari kantornya itu karena dia tidak berprestasi jadi dia bisa ngelayap semaunya nggak dicari karena tak ada yang butuh dia. Kalau dia orang penting di kantornya nggak mungkin dia banyak nganggur."
"Cuma saran saja, berpikir ulang lah kamu dengan niat menjadikan dia pendamping hidupmu kelak. Lebih baik tinggalkan dia. Untuk memantapkan keputusanmu coba kamu salat malam berkali-kali. Agar dapat tetap ketetapan hati."
"Baik Umi."
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.
__ADS_1
