
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Jadi saya tegaskan ke kamu yang meninggalkan rumah ini hanya kamu dan mobil juga harus kamu kembalikan sesuai jadwal."
"Laksmi dan anak-anak akan tetap ada di rumah ini karena rumah ini milik saya."
"Kamu sebagai Direktur karena sudah saya pecat kamu harus mengembalikan rumah ini pada saya. Tapi saya memberikan hak pada adik saya untuk tetap tinggal di sini. Itu yang harus kamu ingat kamu tidak perlu repot membawa anak-anak dan istrimu atau lebih tepatnya calon mantan istrimu."
"Tidak Mas tidak akan pernah saya menceraikan Laksmi. Dia tahu, sebelum ini pun saya melawan keinginan ibu saya. Saya tak pernah satu kali pun ingin berpisah dengan Laksmi dan anak-anak." Bantah Dwi.
"Saya akan keluar dari rumah ini, saya akan kembalikan mobil. Saya akan berupaya mencari pekerjaan agar saya bisa terus memberi nafkah untuk anak dan istri saya sesuai dengan kewajiban saya," dengan yakin Dwi tetap pada komitmennya akan mempertahankan rumah tangganya dengan Laksmi.
"Saya cuma ingin melihat ibumu merangkak di kakinya Laksmi," kata Ambar dengan sinis.
"Saya sangat ingin melihat itu. Saya akan sangat suka melihat ibumu merangkak karena itu yang harus dia lakukan! Tak akan pernah saya izinkan Laksmi memaafkan kamu, bila ibumu tidak merangkak di kaki Laksmi."
"Tidak akan pernah ada maaf tanpa itu." Ambar sangat membenci perempuan seperti Menur dan Mumun serta Imelda.
"Ibumu terlalu sombong. Merasa lebih baik dan lebih bagus, lebih tinggi derajatnya dari Menur. Padahal dia sama sampahnya dengan Menur. Dia mencintai uang Laksmi dia menyukai semua fasilitas yang Laksmi miliki tapi dia membenci Laksmi!"
__ADS_1
"Sama seperti Menur. Menur membenci saya dan Abu tapi dia mencintai uang Abu, mencintai uang saya."
"Jadi Laksmi tidak akan saya izinkan menerimamu lagi. Terserah kalau Papa atau Mas Abu izinkan tapi saya tidak akan pernah mengizinkan kamu kembali bila ibumu tidak merangkak di kaki Laksmi."
"Kalau itu belum dilakukan Laksmi tidak boleh masuk ke keluarga saya."
"Saya yang menentukan Papa atau Mas Abu menerima Laksmi lagi atau tidak," dengan tegas Ambar mengatakan keputusannya.
Dwi hanya diam dia tahu kalau Ambar sudah bicara pasti itu adalah ketetapan dari Abu dan Airlangga.
Terlebih saat ini Ambar bicara di depan keduanya bukan sembunyi-sembunyi di belakang Abu dan Airlangga.
Dwi juga bingung kenapa Laksmi tidak menangis? Kenapa Laksmi tidak meronta-ronta protes membela dirinya. Apa Laksmi sudah pasrah kalau mereka harus berpisah dan rumah tangga mereka tidak bisa diselamatkan lagi?
"Tak ada yang perlu dibicarakan. Seperti tadi Mbak Ambar bilang saya hanya akan menurut semua perintah papa dan Mas Abu."
"Bila ibumu belum minta maaf pada saya dengan cara merangkak, Saya tidak akan bisa menerima kamu sebagai suami karena sampai kapan pun kamu pasti akan ada di bawah kaki ibumu. Di bawah perintah ibumu sedang ibu sudah menginjak-injak kepala saya lagi dan lagi!"
"Tak ada harganya saya di mata ibumu sehingga kalau dia belum merangkak berarti dia belum bisa menerima saya."
"Saya sadar, surgamu ada ditelapak kaki ibumu. Tapi apa pantas ibumu berlaku seperti itu sedang selama ini kalian semua hidup dari harta keluarga saya?"
__ADS_1
"Apa sejak saya menikah saya pernah kasar pada semua keluargamu terutama ibumu? Kalau kamu belum bisa mengubah kelakuan ibumu, saya sarankan kamu hidup di surga ibumu saja. Kamu belum bisa nerima maaf saya," Jawab Laksmi tegas.
"Saya dan anak-anak akan ikut Papa. Kemauan papa itu adalah kemauan saya saat ini."
Rasanya suara bom di Pearl Harbour kalah dahsyat dengan kata-kata yang barusan Dwi dengar langsung diucapkan oleh Laksmi.
Dwi benar-benar tak terduga istrinya mengatakan hal seperti itu. Laksmi yang selama ini sangat lembut dan penurut menjadi sangat berani dan punya kemampuan untuk bicara tidak seperti Laksmi yang selama ini dia kenal.
"Kamu bingung dengan sikap Laksmi?" Seakan mengerti pikiran Dwi, Ambar langsung bicara lagi.
"Semut aja bila ditekan akan balas menggigit! Jangan sepelekan perempuan yang diam. Karena bila dia marah suara bom akan kalah." Ambar lalu meninggalkan ruangan itu.
"Sekarang jelas 'kan semuanya? Silakan kamu mulai bersiap untuk meninggalkan rumah ini, menyerahkan mobil dan juga membuat laporan keuangan," kata Abu. Dia pun juga meninggalkan Ambar yang kemudian juga diikuti Airlangga.
Sekarang tinggal Laksmi dan Dwi berdua di dalam ruangan tersebut.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR ya.
__ADS_1
