
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Setelah selesai memeriksa pasien Adelia langsung bersiap makan siang.
"Hari Kamis yang padat," kata Adelia. Dia pun mencuci tangan dan bersiap untuk makan siang. Saat keluar dari ruangan baru dia lihat ada seorang laki-laki yang duduk sendirian.
"Nunggu siapa Kak?" Adelia bingung mengapa Bastian ada di depan ruang periksanya.
"Nungguin kamu," jawab Bastian santai.
"Loh Kakak nggak kerja?" Adelia melihat Bastian dengan kemeja rapi, bukan baju santai seperti saat mengantar adiknya atau saat ke rumahnya dua minggu lalu.
"Pengangguran kayak saya kapan kerjanya?" jawab Bastian bercanda.
"Jangan suka merendah gitu Kak," Adelia cemberut Bastian tak mau jujur padanya.
"Iya serius," jawab Bastian santai.
"Kamu free kan buat keluar makan siang?" tanya Bastian.
"Free Kak. Sebentar saya taruh snelli dulu. Saya pikir saya mau ke lantai dua jadi saya bawa snelli." Adelia kembali ke ruangannya untuk menaruh snelli atau baju dokternya lebih dulu.
"Mau makan apa?" Tanya Bastian.
"Terserah Kakak aja maunya di mana." Adelia gadis pemakan segala sehingga diajak kemana pun dia tak menolak."
"Kamu senangnya apa?" kata Bastian.
"Saya sukanya makanan tradisional Indonesia," jawab Adelia.
__ADS_1
"Makan masakan Padang yuk," jawab Tian senang. Adelia tak jaim atau ingin yang mewah padahal semua tahu lah kemampuan Adelia.
"Di seberang Rumah Sakit ada rumah makan Padang enak," Adelia memberitahu Bastian.
"Oh ya udah ke situ aja berarti kan nggak usah pakai mobil." Jawab Bastian. Mereka pun berjalan beriringan menuju ke depan rumah sakit.
"Ma aku makan di luar sama teman ya Ma," Adelia langsung menghubungi mamanya. Memberitahu kalau dia tidak akan makan bersama kedua orang tuanya.
"Ya," jawab Vonny.
"Jadi kalian semuanya satu kantor?" Tanya Bastian.
"Ha ha, nepotisme atau KKN nih namanya?" kata Adelia.
"Hebat ya pemiliknya mau terima orang yang satu keluarga." Puji Bastian. Padahal di perusahaan ayahnya juga sama aja.
"Beda kantor kan beda kebijakan. Di sini nggak apa-apa sih diterima kalau keluarga asal dalam hal kerjaan kan tanggung jawabnya sendiri-sendiri." Adelia memberitahu kebijakan rumah sakit ini yang sebenarnya miliknya.
"Wah hebat ya kalian," puji Bastian.
"Kebetulan ada posisi yang kosong dan pas buat keahlian aku dan mama."
"Mama kamu dokter apa?" tanya Bastian.
"Dokter anak."
"Klop ya, mamanya dokter anak dan kamu dokter kandungan. Pas banget tuh," kata Bastian.
"Sebentar ya aku angkat telepon," kata Adelia. Saat itu mereka telah tiba di depan, tinggal menyebrang menuju rumah makan yang jadi tujuan mereka.
"Iya kenapa?" Panggilan itu dari IGD.
__ADS_1
"Ada ibu yang baru selesai periksa. Dia jatuh di apotek. Perdarahan dan sekarang sedang observasi tapi seperti perlu tindakan Dok," dokter umum di IGD merinci status data pasien yang baru saja mengalami kecelakaan di apotik rumah sakit ini.
"Siapkan OK," pinta Adelia.
Penyebutan OK berasal dari bahasa Belanda yaitu Operatie Kamer ( OK ) yang artinya kamar operasi. Penyebutan tersebut digunakan saat zaman penjajahan Belanda di Indonesia dan terus menjadi bahasa serapan hingga sekarang.
"Kak saya harus kembali. Maaf ya enggak bisa makan siang bareng. Saya harus melakukan operasi mendadak." Adelia langsung berlari kembali ke rumah sakit.
\*\*\*
"Ayah tenang, Bunda dan Dedek kuat koq. Kami insya Allah kuat Yah. Ayah berdoa buat kami ya," ternyata pasien yang mengalami kecelakaan adalah Wiwien.
Dia sudah dipasang infus dan transfusi darah. Wiwien dan Tonny baru tiba di apotik. Baru menaruh resep vitamin yang Adelia berikan. Mereka hendak duduk saat ada dua anak berlarian kejar-kejaran. Satu anak sembunyi di belakang Wiwien yang lain mengejar membuat Wiwien terdorong dan hilang keseimbangan.
Perawat dan dokter yang berada di sana langsung memberi pertolongan pada Wiwien. Saat mendengar teriakan Tonny yang melihat istrinya jatuh dan mengeluarkan darah.
"Pak, tolong minta identitas orang tua kedua anak itu. Kalau sampai tak dapat identitasnya, rumah sakit ini akan saya hancurkan!" Pekik Tonny sambil mengikuti Wiwien yang didorong dengan kursi roda ke IGD.
"Ingat jangan sampai lolos. Dan saya minta rekaman CCTV kejadian ini," Tonny memberikan kartu nama sambil membaca nama satpam yang dia berikan kartu namanya.
Tentu banyak saksi disana. Dan kedua anak itu sedang mendekap seorang ibu yang juga bingung. Terlebih saat pak satpam mengajak dia bicara sambil memperlihatkan kartu nama pengacara milik Tonny.
\*\*\*
Tonny tak bisa menahan kesedihannya. Dia terus terisak. Dia tak siap kehilangan adiknya Awan.
"Istighfar Yah. Doain kami." Sebenarnya Wiwien juga takut putri kecilnya tak selamat. Siapa yang siap kehilangan?
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya penulis VIRZHA dengan judul TERNODA SEBELUM MENIKAH ya.
__ADS_1
