
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Adelia memperhatikan kehidupan malam di pantai Bali dengan kekaguman. Dia antusias melihat semuanya.
"Serius baru kali ini keluar malam?" tentu Sonny sulit percaya melihat gadis Jakarta tak pernah keluar malam.
Kalau keluar malam diluar sama keluarga serius baru sekali ini. Kan sama Papa nggak boleh keluar malam. Bahkan saat di Bali sendirian juga enggak berani keluar malam sendiri karena enggak biasa. Apalagi kalau di Ambon, keluar malam pasti dengan keluarga," Adelia terus melihat suasana malam itu.
"Maaf. Dengan tunanganmu dulu?" Tanya Sonny penasaran.
"Aku maksimal jam sepuluh sudah sampai rumah. Ada beberapa kali sampai jam sebelas tapi sebelum pulang selalu lapor papa atau mama sudah sampai mana. Kebetulan orang tua kami bersahabat. Sehingga mereka selalu berkomunikasi juga kami sudah dimana."
'*Walau kamu sudah sarjana S2. Dokter spesialis tapi kamu memang masih lugu*,' batin Sonny.
'*Tadi aja kamu nggak mikir minta orang bersandiwara. Kalau aku mau nakal bisa aja kan. Dasar anak kecil*,' ejek Sonny dalam hatinya.
Sonny suka pada Adelia sebagai teman saja. Saat ini tak ada rasa sayang atau cinta pada seorang kekasih.
Tak ada, atau tepatnya belum ada rasa suka sama sekali pada Adelia.
"Ya udah mau ke mana lagi," kata Sonny lagi. Dia kasihan pada Adelia yang pengetahuan kehidupannya belum banyak.
"Aku nggak mau ke mana-mana. Disini aja, cukup ngeliatin orang-orang berlalu lalang," kata Adelia.
"Mau ngapain lagi memangnya?" Adelia bertanya lagi dengan polosnya.
"Besok ada rencana apa?" tanya Sonny.
"Enaknya ngapain ya Mas," Adelia menjawab cepat.
"Kamu nggak mau nyoba diving?"
"Aku nggak berani diving. Kita jetski aja lagi yuk Mas. Kemaren aku ajak Aksa dia enggak berani kalau enggak sama kamu," ajak Adelia.
"Oke besok kita sama Aksa. Kita jalan bertiga. Biar Aksa enggak jenuh. Nanti hari Minggu baru Aksa mulai belajar lagi," Sonny memutuskan besok mereka akan main jetski.
"Hari Minggu aku cuma pengen beli coklat banyak," kata Adelia lagi.
Cukup malam, hampir jam 12.00 Sonny mengajak Adelia pulang.
"Rapetin jaketmu kalau dingin," kata Sonny.
"Enggak kok Mas ini cukup. Kan di luar juga aku pakai pashmina," kata Adelia. Sonny merangkul bahu Adelia dan mengajak ke mobil. Dan kembali Jeffry melihatnya. Saat itu tak sengaja Jeffry berpaling.
'*Seharusnya tanganku yang melingkar di bahumu*,' batin Jeffry.
__ADS_1
Jeffry, Agus dan Mulan baru akan kembali ke kamar kos mereka.
Lewat tengah malam Adelia baru sampai di villa.
"Besok serius ya Mas," kata Adelia. Dia takut kalau besok tak jadi main jetski.
"Iya besok serius. Kita bawa Aksa." Balas Sonny.
\*\*\*
"Pa, aku pulang dulu ya. Selain bawa baju kotor kita, dan ambil baju bersih baru aku juga mau beberes semua barangku di rumah." Hari Sabtu pagi sehabis sarapan bareng Airlangga dan Mukti, Abu pamit pulang ke rumahnya.
"Iya, bereskan juga kamar Papa. Kirim aja semua barang ke rumah Surabaya," jawab Airlangga.
"Ayok aku bantu Papa. Eyang enggak apa apa ditinggal sendiri?" Mukti juga bingung bila bengong saja menemani Airlangga tanpa beraktivitas.
"Eyang eggak apa apa. Lebih baik kamu packing saja. Kita semua kan harus bereskan barang kita. Bukan hanya papamu," jawab Airlangga.
"Sonny waktu itu beli kardus banyak. Tapi hanya tersisa beberapa. Sebaiknya sambil jalan pulang kalian beli lagi kardus besar yang kuat seperti yang Sonny beli," Airlangga pun sadar, barang miliknya dan milik Ambar di rumah itu harus dibawa pulang ke Surabaya.
\*\*\*
Abu mulai packing hari ini dibantu dengan Mukti. Sama seperti Ambar barang-barangnya pun dikirim ke Surabaya, karena kalau di semua di mobil tak cukup. Dia ke Surabaya satu mobil.
"Pa, bagaimana bila semua kita packing saja. Jangan dikirim pakai ekspedisi. Bagaimana bila sewa mobil bak atau mobil box saja?"
"Sewa satu mobil dengan kirim ekspedisi biayanya sama," usul Mukti.
"Barang eyang juga hanya baju," balas Abu.
"Kirain papa mau bawa beberapa alat," Mukti berpikir bila ada bawa alat mending cari mobil sewaan saja.
"Besok Senin, saya akan bawa Ibu ke Surabaya. Satu minggu kemudian saya akan kembali ke rumah ini. Kami akan pindah. Jadi kita kosongkan sama-sama ya."
"Besok kalian bersiap-siap aja yang mau pindah bilang mau pindah ke mana. Bisa ke Villa 1 Villa 2 atau Villa 4 juga boleh. Villa tiga sudah penuh," kata Abu.
"Atau kalau mau ikut Mas Mukti bisa. Dia banyak butuh pegawai tapi ya beda kerjaannya" kata Abu.
"Kalau kalian mau keluar dan pindah kerja juga enggak saya larang. Pokoknya nanti satu minggu dari bawa Ibu ke Surabaya saya akan kembali kita putuskan meninggalkan rumah ini dan kuncinya akan saya kembalikan kepada nyonya Ambar," Abu juga memberitahu kepada para pegawai di rumah itu bahwa dia akan mengosongkan rumah itu.
Jadi semua harus bersiap. Abu tidak memecat mereka tapi boleh pindah ke tempat usaha yang dia punya lainnya.
Para pegawai tahu pak Abu harus pindah karena akan merawat Bu Menur di Surabaya. Tapi kalau untuk ikut ke Surabaya nggak mungkin mereka juga punya keluarga yang harus dihidupi di Bali dan rumah Surabaya juga sudah penuh sehingga tak mungkin menambah pegawai.
"Haduh lumayan capek ya," kata Abu. Dia sudah selesai packing barangnya dan milik kedua orang tuanya.
Abu melihat rumah itu dengan sedih. Rumah yang dia bangun sejak awal pernikahan dengan Ambar. Di sini anak-anak mereka tumbuh.
Abu flashback saat anak-anak berkembang dari balita. Dia melihat ketimpangan yang dia buat untuk Sonny dan Aksa dan tak terasa air mata menetes di pipinya.
__ADS_1
'*Aku teramat bodoh sangat bodoh. Tak ada wanita sebaik Ambar*,' keluh Abu dalam batinnya lagi.
'*Sekarang aku tak mungkin buang Mukti. Anak itu tak pernah punya kelakuan buruk selain masalah Vio kemarin*.'
'*Dia tetap manis tak bertingkah meski dia tahu aku selalu membedakan perlakuan untuknya dan Sonny. Bahkan Aksa saja tahu perbedaaan perlakuanku itu*.'
'*Yang salah adalah aku yang membedakan Mukti. Tapi Mukti tetap nggak pernah bertingkah buruk*.'
'*Mukti hanya punya kesalahan berkaitan dengan Vio itu saja. Tak ada keburukan lainya. Jadi aku buang juga percuma*.'
'*Aku terbiasa dia sebagai anakku. Terlebih sekarang aku* ***kehilangan*** *dua anak kandungku*.'
'*Kalau dua anak kandung ku hilang aku malah nggak punya siapa-siapa bila tak ada Mukti*,' batin Abu lagi.
'*Itu memang kesalahan yang fatal. Aku akan menerima. Aku tidak akan ngoto lagi untuk meraih cintanya Ambar. Cukup sudah luka yang aku gores selama ini. Aku bersimpuh di kakinya dengan air mata darah pun tak akan mengobati pedih luka yang dia rasakan*.'
"*Bila rumah tangga kami teruskan, luka itu akan terus dia ingat dan aku tak mau*.'
'*Biarlah aku menerima hukuman ini dulu entah sampai kapan. Tapi yang pasti hanya ada cinta Ambar dalam hati dan pikiranku*.'
"Ini foto-fotonya gimana Pa?" Mukti melihat foto di dinding.
"Papa bingung, mungkin nanti mamamu yang urus saat pengosongan rumah ini. Tapi kalau Papa nggak berani lah. Papa sudah bawa foto pernikahan papa dan mama serta foto kalian. Cukup itu, foto di dinding Papa nggak berani," kata Abu.
"Iya Pa. Kita jangan ganggu mama lagi. Barang dapur dan semua koleksinya biarin aja mama yang urus."
"Nanti kita salah lagi Pa," kata Mukti menenangkan Abu.
"Bilang pada semua pegawai jangan pernah sentuh apa pun karena itu punya mama," Abu mengingatkan Mukti untuk berkata pada semua pegawainya selama ditinggal satu minggu ini.
Karena rumah itu mau dikosongkan tentu saja Mukti juga angkat-angkat barangnya. Tak mungkin kan dia tetap tinggal di situ. Lebih-lebih minggu depan rumah akan dikosongkan jadi Mukti pun mulai packing dan barangnya dia bawa ke galeri 3 tempatnya dia akan tinggal di sana. Galery 3 itu satu lokasi dengan Made. Tak terlalu jauh lah.
"Rasanya barangku belum selesai semua hari ini Pa," seru Mukti. Memang dari tadi dia membantu Abu lebih dulu karena barang Abu harus dikirim melalui ekspedisi ke Surabaya sehingga Mukti lebih mendahulukan membereskan barang-barangnya Abu dan Airlangga daripada barangnya.
Barangnya masih bisa sia bereskan besok.
"Kamu kan masih di sini satu minggu ini," kata Abu.
"Ya Pa, makanya aku sambil bereskan tempat di Galery agar lebih layak pakai." Balas Mukti.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING itu ya.