
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Serius?" Tanya Ambar begitu mendengar Laksmi menghubunginya.
"Serius Mbak, baru saja mas Dwi menghubungi aku. Aku sedang mempersiapkan anak-anak dulu agar tak repot bila aku tinggal. Mereka tak aku bawa. Jadi harus aku cek buku dan seragam untuk besok sebelum aku berangkat," jawab Laksmi.
Hari ini ada kabar tidak mengenakkan Mursinah atau Mumun yang tak bisa menutup hutang modal yang dia pinjam dari Airlangga, dan juga tak mampu dapat lokasi baru agar bisa keluar dari ruko yang ditempati merasa sangat putus asa.
Akhirnya Mursinah bunuh diri, dia sengaja menabrakkan dirinya ke kereta api. Banyak saksi mata di TKP yang melihat bagaimana dia sengaja bunuh diri.
Tentu saja kabar itu menjadi buah bibir media mau pun keluarga.
"Turut berduka ya," kata Abu pada Dwi. Abu memang langsung menghubungi adik iparnya begitu Laksmi memberitahu Ambar.
"Terima kasih Mas," kata Dwi.
Airlangga tidak memberikan ucapan apa pun pada Dwi atau Giyatno.
"Itu bukan takdir, itu sudah resikonya," kata Airlangga.
__ADS_1
"Kenapa dia melakukan hal buruk pada anakku!"
Airlangga agak tenang karena sekarang sosok yang menindas Laksmi sudah tidak ada. Kalau Giyatno itu tidak pernah jahat pada Laksmi.
Sebagai menantu yang baik Laksmi tentu datang saat ibu mertuanya meninggal. Dia juga yang membiayai semua keperluan jenazah hingga pemakaman.
Eka, Dwi dan Giyatno melihat bagaimana sosok yang sudah diinjak-injak Mumun masih mau "ngragati" atau mengurusi jenasah Mursinah.
"Kamu tidak boleh memberi uang sedikit pun untuk acara selamatan!" kata Ambar pada Laksmi.
"Kamu sudah memberikan banyak untuk Rumah Sakit, ambulans, polisi sampai pemakaman. Mbak tahu semua."
"Cukup! Kalau sampai Mbak tahu kamu memberikan uang buat selamatan, kamu silakan keluar dari keluarga Lukito," ancam Ambar.
"Kami bukan mau mengatur hidupmu tapi setidaknya kamu tahu bagaimana selama ini kamu tidak bisa mengatur hidupmu sendiri. Kami tidak ingin kamu kembali terpuruk karena kamu kasihan ada keluarga Dwi," jelas Abu.
"Ya Mas," kata Laksmi.
Abu,Ambar dan Airlangga sudah memutuskan akan menerima kembali Dwi sebagai suami dari Laksmi. Tapi tidak serta-merta begitu saja. Mereka tetap akan membiarkan berproses.
Abu, Airlangga dan Ambar ingin Dwi bisa menjadi pemimpin untuk keluarganya dan tak lemah dengan tekanan. Dwi harus punya keyakinan agar bisa menjadi imam yang baik. Tidak seperti kemarin-kemarin selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh ibunya.
__ADS_1
Walau ibunya sekarang sudah tidak ada tapi sikap Dwi itu tidak baik.
"Pak, maaf saya tidak bisa menginap. Anak-anak baru masuk sekolah. Mereka masih penyesuaian dan tiap hari ada saja yang harus dibawa." Laksmi pamit pada Giyatno.
"Iya, terima kasih. Kamu sudah mengcover semua biaya sejak mengurus ke polisi hingga ke pemakaman. Itu saja sudah berkah untuk kami," Giyatno menyampaikan terima kasih pada Laksmi.
"Aku antar ya Ma," pinta Dwi.
"Nanti kamu pulang bagaimana?" Jelas Laksmi membolehkan Dwi mengantar, tapi tak boleh menginap. Itu tersirat dari kata-kata : *nanti kamu pulang*.
"Aku bisa naik ojol," jawab Dwi.
"Memang enggak apa apa kamu ninggalin rumah saat masih banyak kerabatmu disini?"
"Enggak apa apa," jawab Dwi. Dia ingin melihat kedua putranya.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.
__ADS_1
