
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Halo Tante maaf aku baru sempat hubungin, padahal mas Sonny udah ngomong kalau tante mau bicara. Aku bukan lupa tapi beberapa hari ini aku capek banget karena banyak operasi. Sampe rumah udah enggak konsen kalau bicara."
"Ada apa ya Tante?" Tanya Adelia pada Ambar.
"Itu loh, Tante nggak tahu bagaimana prosesnya kalian. Yang Tante tahu Sonny katanya mau serius sama kamu. Itu benar?"
"Benar Tante, kami memang akan serius," jawab Adelia tanpa ragu.
"Lalu bagaimana seharusnya? Kapan Tante bisa melamar? Apa kamu nunggu pernyataan cinta dari Sonny dulu karena setiap Tante tanya dia bilang belum utarakan hal itu secara romantis. Tapi dia bilang kamu dan dia tahu perasaan kalian masing-masing."
"Enggak Tante. Aku enggak mengharuskan mas Sonny melakukan pernyataan cinta romantis."
"Itu hanya klise dan kami tidak mewajibkan itu ada. Tak ada ya enggak masalah. Ada ya bagus. Kami butuh yang real. Jadi enggak wajib lah pernyataan cinta romantis itu. Dari sikap mas Sonny sudah terlihat jelas koq bagaimana perasaannya ke aku."
"Aku sudah pernah merasakan pernyataan cinta romantis yang cuma buat melambung sesaat tapi kemudiannya nggak manis seperti itu."
"Biarlah cinta kami yang real aja," Adelia lancar mendeskripsikan cinta dirinya dan Sonny.
__ADS_1
"Seperti manisnya permen coklat ya," goda Ambar.
"Bener Tante, bener banget. Seperti manis dan lumernya coklat di mulut. Itu lebih enak daripada lamaran pengungkapan cinta yang klise dan berujung menyakitkan," ungkap Adelia.
"Jadi kapan Tante bisa *maso minta* yang resmi?"
"Ha ha ha Tante ada-ada aja, emang ada *maso minta* enggak resmi?"
"Kok bisa aja, kamu tahu Sonny itu sudah *maso minta* sama papa dan mamamu saat di Singapura. Mamamu langsung heboh dan telepon Tante dari Singapura."
"Serius Tante? Aku malah nggak tahu loh Tante, aku baru tahu sekarang."
"Dia udah lebih dulu bicara ke mama dan papamu karena dia bukan mau main-main pada kamu. Dia minta izin dulu pada mama papamu."
"Begitu dapat izin baru dia mendekati kamu, nggak seperti orang-orang dekati anaknya dulu baru minta izin mama papanya."
"Wah aku bener-bener nggak tahu Tante. Aku nggak bisa ngomong apa-apa deh. Ih bener-bener *speechless* aku dengernya Tante," kata Adelia dengan senang.
"Makanya kapan Tante akan melamarmu?"
__ADS_1
"Wah aku nanti tanya mama dan papa dulu Tante. Mas Sonny juga belum ngomong sih."
"Memang belum ngomong, maksudnya ini antar kita berdua aja, kira-kira kapan? Jadi Tante kan bisa memperkirakan barang-barangnya. Tahu sendiri Sonny nggak bakal ngerti apa yang harus Tante siapkan untuk lamaran," jelas Ambar.
"Oh gitu, gimana kalau kita ambil waktu tiga bulan lagi Tante kelamaan nggak?" Adelia tentu tak mau memaksa Ambar. Dia memberi kesempatan Ambar menghitung sendiri kapan dia siap, bukan berdasarkan permintaannya semata.
"Tiga bulan nggak apa apa. Tiga bulan itu kan pas libur panjang. Gimana kalau sekalian, sehabis itu kita jalan-jalan sama Farhan dan Fahri kan kamu janji mau bawa mereka naik bajaj?"
"Setuju Tante, kita bikin tiga bulan lagi."
"Nanti biar Tante ngomong sama mamamu prosesnya gimana."
"Iya Tante, aku nanti kasih tahu adik-adik juga kalau liburan nanti aku ngundang mereka ke Jakarta buat naik bajaj. Akan aku bawa mereka ke Monas dan ke Taman Mini. Pokoknya aku ajak mereka muter-muter Jakarta."
"Baguslah biar adik-adikmu tambah wawasan.
"Oke Tante, aku setuju tiga bulan lagi."
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang baru aja terbit dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
Atau juga judul lain yang baru terbit dengan judul BETWEEN terminal BUBULAK ~ GIWANGAN
__ADS_1