
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"*Ale bilang apa par* Mukti?" Sjahrir lupa dia menggunakan bahasa Ambon pada Ambar. Untung Ambar terbiasa jadi dia mengerti walau tak bisa membalasnya. Ambar tahu Sjahrir bertanya dia bicara apa pada Mukti.l
"Aku bilang ada Mukti kalau dalang penggembosan perusahaan Abu adalah eyang Menur. Aku punya bukti fisik. Dan aku juga punya saksi lain tentang kelakuan eyang Menur. Padahal selama ini hal itu aku tutup rapat. Sama rapatnya dengan status Mukti. Aku akan gunakan bila waktunya tepat."
Vonny, Sjahrir dan Adelia pasti tak percaya akan hal itu.
"Bukti apa yang *ale* punya? Kenapa *ale* ( anda ) diam saja?" Sjahrir antusias menyela pembicaraan
"Aku punya foto yang aku buat saat menemukan bukti transferan Imelda dan Vio pada eyang Menur di ponsel eyang yang tertinggal di kamar mandi. Aku langsung kirim bukti-bukti itu ke ponselku dan aku hapus bukti kirim ke ponselku."
"Tapi aku belum cerita ke Mukti. Aku hanya bilang aku punya bukti kalau dalangnya adalah eyang Menur," Ambar berhenti. Itu artinya Abu yang harus ambil alih.
"Sepulang dari beres-beres barang itu, walau belum tahu bukti apa yang Ambar punya, Mukti langsung mendatangiku di kamar hotel. Di Bali aku punya villa tiga, punya rumah tapi aku tinggal di hotel he he he."
"Esoknya aku langsung ke Surabaya. Aku bicara pada eyang Angga. Tentu saja dia tak percaya. Aku langsung masuk kamarku."
"Eh aku lupa, saat eyang Menur sakit di Bali, aku dan papa diskusi. Aku dan papa akan tinggal satu rumah untuk merawat mama yang sudah tak responsif pada apa pun. Kami memilih tinggal di rumah eyang Angga dan tidak menaruh eyang Menur ke rumah sakit jiwa. Jadi sejak pulang dari rumah sakit Bali kami termasuk Mukti membawa eyang Menur ke rumah di Surabaya."
"Baru aku menaruh badan di ranjangku, aku dengar papa *baterek* ( berteriak ) memanggil namaku,"
__ADS_1
"Papa memperlihatkan ponsel eyang Menur di kamar menyala layarnya, dan dia lihat history kegiatannya baru menghapus pesan dua menit sebelum papa masuk kamar dan letak ponsel juga berpindah dari meja rias eyang Menur jadi ke headboard dekat eyang Menur berbaring."
"Saat itu lah papa mulai percaya kalau eyang Menur hanya pura-pura sakit! Bagaimana mungkin orang yang tak responsif bisa mengambil ponsel di meja rias dan berkirim pesan?"
"Kami pun mengikuti permainan eyang Menur. Kami pura-pura tak tahu kebohongannya."
"Aku gantian menghubungi Mukti, dari diskusi kami, aku dan Mukti bertekad cerita pada Sonny. Kami datangi Sonny di Jogja. Sonny tak tahu kalau Ambar punya bukti kalau eyang Menur dalang semua bencana!"
"Dari diskusi itu terbukti, selama ini eyang Menur mengadu domba kami. Karena aku baru tahu selama ini Ambar mengadu pada eyang Menur tapi eyang Menur tak pernah menyampaikan keluhan ke eyang Angga atau menegurku. Sedang sejak Mukti bayi aku tahu dari eyang Menur kalau Ambar tak pernah mengurusi Mukti bila aku pergi. Ambar selalu jahat pada Mukti. Itu sebabnya aku sering membela Mukti!"
"Astagfirullaaaah, jahat sekali sih eyang Menur," Adelia tak menyangka sosok lembut itu sangat licik.
"Dipertemuan itu Sonny mengungkapkan, mengapa bidan menghubungi eyang Menur saat Witri akan melahirkan? Mengapa bukan aku yang katanya ayah bayi dalam kandungan Witri?"
"Pertanyaan Sonny membuat aku menjadi detektif dadakan. Aku menyusuri sejarah hidup Witri. Baik dari keluarga ibuku, mau pun dari para sahabatnya."
"Akhirnya rahasia terungkap! Witri tak pernah sama sekali tidur denganku! Aku bertemu dengan ayah kandung Mukti yang tak tahu kalau dia punya anak dari Witri karena Witri bilang sudah dia gugurkan! Witri tak ingin kalau lelaki itu tahu bayinya masih ada pasti akan klaim."
"Dan yang paling menyedihkan Mukti diprogram ada untuk menjebakku. Eyang Menur tahu bibitku sulit membuahi, jadi dia buat dulu Witri hamil baru dia jebak aku!"
__ADS_1
"Eyang Menur membina Witri sejak anak itu SMP!"
"Enggak mungkin. Rasanya aku tak ingin percaya orang yang begitu lembut berkelakuan seperti itu," Vonny menggeleng tak percaya mendengar hal itu.
"Cerita masih sangat panjang. Kau akan tambah tak percaya lagi kelanjutannya!" Abu meminum sirop yang dihidangkan.
"Sampai segitunya eyang Menur membuat skenario. Kasihan Mukti. Untung tante Ambar merawat dengan penuh kasih. Bukan seperti yang dia katakan pada om Abu," ujar Adelia mengomentari cerita tante Ambar dan om Abu.
"Iya dia yang membuat skenario Witri hamil. Untungnya pacar Witri sedang di Bali jadi bisa langsung bertemu. Dia bersedia jadi saksi saat itu Abu tak menyentuh Witri sama sekali! Selain dia ada dua teman lelakinya yang tahu kejadian malam itu. Sekarang mantan kekasih Witri bekerja di Bandung dan rumahnya di Malang."
"Pacar Witri tahu penjebakan Abu. Dia juga melihat Menur memberi banyak uang pada Witri saat tahu Witri berhasil hamil,"
"*I don't belive it*!" Pekik Vonny. Bagaimana mungkin perempuan lembut nan santun itu punya karakter yang berbeda 180°?
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya NOVI PUTRI
ANG dengan judul PENELUSURAN GAIB RAINA ya.

__ADS_1