INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
BUKAN BUAT BEROBAT


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Usai sudah pemakaman Prilly, satu persatu keluarga yang menginap mulai pulang yang tersisa hanya keluarganya Abu dan keluarga Sjahrir. Mereka sekarang berada di ruang belakang berbincang tentang proses hukum yang sidangnya akan berlangsung besok.



"Kamu lama atau enggak di sini?" tanya Sjahrir.



"Aku mau pulang tanggung karena besok jadwal sidang, tapi buat lama disini juga enggak bisa.  Besok sehabis sidang aku pulang. Aku lihat kemungkinan aja gimana. Maka belum berani pesan tiket," kata Abu.



"Oh iya besok sidang ya, aku malah enggak ingat besok jadwal sidang. Untung bukan hari ini ya." Ucap Sjahrir.



"Iya besok sidang. Aku ingin datang karena besok yang jadi saksi adalah papa dan Ambar," kata Abu.



" Aku tak ingin Papaku dan istriku bersidang tak ada aku," kata Abu lagi.



"Baguslah," ulas Ariel.



"Papa, Mama, Eyang,  besok aku nggak bisa datang ya," Adelia malah bilang dia besok tak bisa hadir di Peñgadilan negeri.



"Kenapa?" Tanya Ambar. Dia tahu biasanya calon menantunya itu sangat setia mendampingi Sonny.



"Enggak enak aja sih sudah dua kali aku tinggalin praktek hari Rabu Jadi besok aku nggak bisa datang kebetulan kan bukan Mas Sonny yang maju nggak apa apa ya?"



"Enggak apa-apa," kata Ambar.



"Sorry ya Ma, aku sudah dua kali hari Rabu nggak dateng kasihan pasienku."



"Iya Mama ngerti."



"Enggak apa-apa ya eyang?"



"Eyang ngerti kok, santai wae," Angga tak marah karena Adelia memang punya kewajiban pada pasiennya.



"Mama malah bangga dan bahagia punya kamu yang sangat berdedikasi pada tugas utama," bujuk Ambar.


__ADS_1


"Ih, enggak bangga punya aku?" Tanya Mukti. Dalam keluarga itu hubungan kembali normal, jadi buat mereka semua Mukti adalah "*anak kandung*" tak beda dengan yang lainnya.



"Ngapain bangga dan bahagia punya dua anak lelaki ini. Mama cuma suka sama Adel dan Aksa."



"Lho Mama nggak suka Mamas toh?" protes Sonny juga.



"Enggak lah, kamu sama Mukti itu nggak Mama suka. Ngeribetin dan makannya banyak. Mama cuma suka Aksa dan Adelia saja."



"Yeeee karena Aksa-nya nggak ada aja. Coba kalau ada Aksa, Mama pasti juga bilang nggak suka Aksa." Kekeh Mukti membuat semua tertawa.



Dari jauh Komang melihat kebahagiaan kedua keluarga besar ini kehangatan yang dia tak pernah punya. Kehangatan yang dia miliki sudah terkubur bersama jasad ibunya.



Komang hanya punya cinta kasih dari ibunya karena dari ayah dan ibu tirinya dia hanya mendapat siksaan.



Sebenarnya Ayahnya baik tapi kalau di depan ibunya ayahnya kalah. Berapa kali ayahnya menegur dan mengucapkan kata-kata manis bila di belakang istrinya. Komang tak bisa menyalahkan karena memang semua terjadi karena kesalahan ayahnya.



Komang bukan anak resmi sang ayah,  dia hanya anak seorang pembantu yang dihamili manikannya. Ibu Komang adalah pembantu asal Banyuwangi. Jadi tidak salah kalau akhirnya majikan ibunya sangat benci pada ibunya dan dirinya.



Walau ibu tirinya atau majikan ibunya tidak punya anak, tapi menghamili pembantu adalah kesalahan besar.




Istri sah ayahnya tak berani minta cerai karena tahu dia mandul, sang ayah tak berani menceraikan istrinya karena dia hidup dari kekayaan istrinya.



Jadilah ibu Komang yang disalahkan dalam kejadia kehamilan itu.



Keluarga ayahnya juga nggak bisa berkutik walau tahu ada cucu dari anak mereka tapi kekuatan uang istri sag dari ayahnya membuat keluarga ayahnya juga tak berani membela Komang.



Komang tak tutup mata sesekali memang ayahnya memberi uang secara sembunyi, sembunyi, tapi dalam jumlah sangat kecil dan sangat jarang. 



Komang tak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibu dalam keluarga hangat. Kalau saja Ayahnya bisa hidup dengan Ibunya walau sembunyi-sembunyi tentulah nasib Komang tak akan sekering ini dalam hal kasih sayang.



"Sudahlah nggak usah ngomong masa lalu dan berharap banyak dari ayah," Komang bicara sangat pelan dan menjauh dari keluarga itu karena dia merasa dia tidak bertugas saat ini.



Komang melihat Mukti sedang sibuk bersama dengan para keluarganya.


\*\*\*

__ADS_1



"Besok pagi kamu ikut saya ke pengadilan," baru Komang mau masuk kamar Mukti memanggilnya. Kode Mukti memanggil adalah dia misscall!



"Jam berapa Pak?"



"Kamu harus nyiapin semua keperluan saya, baju saya juga sarapan saya."



"Loh bagaimana saya mau siapin baju Bapak sedang saya tak tahu di mana letak lemari yang harus saya ambil  baju untuk Bapak?"



"Kalau sarapan saya akan siapkan karena saya bisa bekerja sama dengan petugas dapur di sini. Boleh saya catat apa yang tak Bapak sukai dan yang Bapak suka sebagai menu sarapan?"



"Saya suka kopi tidak terlalu manis tidak terlalu kental,"  kata Mukti.



"Kalau sarapan apa saja boleh roti boleh nasi atau yang lain nggak apa apa yang penting kopi harus siap lebih dulu saat saya bangun."



"Baik Pak," kata Komang.



"Kita berangkat jam 08.30 karena jam 09. Sidang dimulai. Mungkin nanti barang dengan mamaku."



"Baik Pak." 



"Karena mas Sonny akan antar Adelia ke rumah sakit dulu,  baru dia ke pengadilan."



"Apa bu Adelia sedang sakit?"



"Bukan, Adelia itu dokter kandungan. Dan papanya itu pemilik Rumah Sakit, mamanya dokter anak. Jadi Adelia ke rumah sakit bukan karena ingin berobat."



"Saya mengerti Pak," kata Komang.



'*Jadi orang kaya ini pemilik Rumah Sakit .Wow benar-benar orang hebat*.'



"Ya sudah sekarang kamu tidur."



"Baik Pak Terima kasih."


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

__ADS_1



__ADS_2