
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Abu memikir ulang pindah ke Surabaya setelah tahu keburukan Menur.
"Kayaknya Papa mau balik ke Surabaya hari ini aja. Papa mau ke kantor dulu lalu siang balik ke Surabaya," kata Abu pada Mukti saat mereka sedang sarapan di hotel.
"Hati-hati bicara sama eyang Airlangga Pa. Papa jangan emosi," kata Mukti. Dia takut eyang Airlangga emosi karena istri tercintanya dituduh tak benar.
"Iyalah Papa tahu," kata Abu.
"Selama ini kita nggak ngerti kalau eyang Menur itu seperti itu. Kemarin aku ingat sih Pa, mama bilang mbok Darmi aja tahu kok kelakuan eyang Menur," Papar Mukti.
"Mbok Darmi kan ikut mama dari sebelum kamu lahir. Pasti bu Darmi tahu lah semua kejadian di rumah," Abu ingat mbok Darmi ikut dia sejak Sonny berusia empat bulan.
Mereka sarapan di hotel lalu Abu langsung check out. Dia ke kantor dulu untuk membatalkan surat pemindahan administrasi kantor miliknya.
Kemarin Abu berpikir ulang dulu. Jangan sampai perusahaan sudah pindah ke Surabaya lalu dia balik ke Bali karena keadaan berubah.
Jam 02.00 siang baru Abu ke Surabaya dengan pesawat. Sengaja dia tunda pulang ke rumah. Dari bandara dia ke barber shop untuk merapikan rambutnya sekalian creambath agar kepalanya dipijat biar sedikit fresh.
Habis maghrib baru dia sampai rumah Airlangga.
"Kenapa cepat kembali?" kata Airlangga.
"Ada sesuatu yang penting Pa nanti aja aku cerita. Bagaimana kondisi mama hari ini?" Abu memberi attensi buat Menur. Dia lihat mamanya duduk tanpa ekspresi di sofa.
"Masih biasa. Tadi ada dokter datang. Tadi juga dapat suntikan dokter."
__ADS_1
"Papa ke rumah sakit?" Selidik Abu.
"Enggak. Dokter di Bali telepon, temannya yang dia rekomendasikan akan datang berkala ke rumah. Tak perlu kita ke rumah sakit," Airlangga cukup senang dokter di Bali sangat baik. Mungkin karena dokternya teman Menur dulu.
"Dokter mana yang telepon? Dokter jiwa atau dokyer yang hypno di Bali?" Desak Abu.
"Iya dokter Bali. Yang dokter hypno," jawab Airlangga.
"Papa bawa mama masuk dulu. Biasanya habis makan dan minum obat jam segini mama akan tidur. Habis itu kita makan malam," Airlangga memapah istrinya.
"Kita ke kamar yok. Mama harus tidur. Isirahat ya," bisik Airlangga dengan lembut dan sabar pada Menur.
Sambil makan Abu melanjutkan obrolan. Abu ingin mencari kepastian tentang Menur sejelas-jelasnya.
"Papa udah kenal lama sama dokter hypno itu?"
"Oh, jadi dokter yang di Surabaya ini dikasih rekomendasi dari dokter Bali Pa?" Bayu kembali ingin memastikan
"Iyalah kan kamu yang urus," sahut Airlngga.
"Iya takut salah. Kan dokter di Bali enggak bilang kalau dokter akan datang. Kita dikasih rujukan untuk kontrol ke ruang prakteknya. Maka aku kaget aja ketika dibilang dokternya yang malah datang," Abu tentu aneh akan hal ini.
"Aku lagi inget-inget Pa. Papa kenal mama di mana ya Pa? Kayaknya Papa enggak pernah cerita," pancing Abu.
"Mamamu dulu Itu kan kerja di kantor Papa. Apa sih bagian dia, Papa lupa juga tuh. Kalau nggak salah dia dia lulusan sekretaris."
"Papa ingat waktu itu apa ya, kalau nggak salah staf HRD. Staf HRD punya anak masih satu tahun." Kata-kata Airlangga muter-muter mengingat kejadian sekitar 50 tahun lalu.
"Waktu itu kan sekretaris Papa cuti melahirkan, Papa minta ke HRD carikan pengganti untuk tiga bulan. Papa enggak mau sekretaris yang cuti melahirkan diganti karena kinerjanya sangat bagus."
__ADS_1
"Papa minta ganti ke HRD dikasih dia," kata Airlangga.
"Wah jadi kenal nggak sengaja. Ketemu di kantor ya Pa," respon Abu.
"Iya terus dia pas lagi sibuk, dia bilang anaknya sakit, minta izin pulang satu jam lebih cepat. Papa kira masih gadis ternyata dia bilang dia janda anak satu."
"Selama tiga bulan dia gantiin sekretaris Papa itu, kami jadi berteman dekat lah. Ngobrol-ngobrol nyambung ya udah Papa pikir jadiin istri aja."
"Satu tahun kami dekat lalu nikah," kata Airlangga.
"Dia cerai kenapa Pa?" selidik Abu.
"Suaminya waktu itu nggak bisa menuhin kebutuhan mereka. Udah punya anak tapi suaminya nggak kerja. Jadi dia yang harus bantingin tulang. Itulah sebabnya dia cerai dengan mantan suaminya," mereka telah selesai makan dan pindah kembali ke ruang tengah.
"Bukannya versinya Imelda, papa Imelda atau suaminya mama itu kerja ya Pa? Suaminya itu apa sih gitu. Pokoknya bukan orang pengangguran kok Pa. Seingat aku Imelda cerita perempuan yang jadi istri kedua itu kan ngejar papanya karena papa nya kaya," Abu mulai membalik-balik cerita lama agar Airlangga sadar siapa jati diri Menur sesungguhnya.
"Iya ya kata Imelda seperti itu. Dia punya istri kedua lalu cerai kan karena dia kaya. Kok kata mama dia pengangguran. Yang bener yang mana?" Airlangga mulai goyah.
"Wah Papa nggak ngerti deh kalau ribet begini," lanjut Airlangga lagi.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.
__ADS_1