INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
LADANG PAHALA DARI TEMAN TERBAIK


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Dengan pak Mukti?" suara perempuan seperti bergetar ketakutan di ujung telepon menyapa Mukti.



"Iya, Saya sendiri. Ada apa?" Tanya Mukti. Mobil yang mengantarnya baru masuk ke lokasi bandara.



"Pak, saya sudah sampai di Bandara. Apa benar Bapak akan membawa saya pulang ke Denpasar?" Tanya suara itu tak percaya.



"Saya baru tiba di terminal keberangkatan. Sebentar saya turun dulu." Mukti tidak bawa baju atau apa pun dia hanya bawa slingbag saja.



"Saya sudah lihat kamu sebentar." Tanpa menutup sambungan telepon Mukti bicara pada sopir yang mengantarnya ke bandara.



"Terima kasih ya Pak. Bilang om Ariel saya sudah selamat tiba di bandara," kata Mukti pada sopir yang mengantarnya. Komang masih bisa mendengar dengan jelas semua percakapan itu.



"Iya hati-hati Mas Mukti." Jawab si sopir lalu dia melajukan mobilnya agar tak dimarahi mobil dibelaknagnya.



Mukti melambai pada Komang Ayu. Dia lalu mematikan sambungan percakapannya.



"Aku enggak percaya bapak ini ternyata benar-benar mau menolong." Bisik Komang pada sahabat baiknya.



"Semoga kamu bisa bekerja di Bali seperti yang dia bilang. Tak perlu lagi kamu kembali ke Jakarta lagi. Karena orang yang butuh uang hasil perjuanganmu sudah tak ada."


__ADS_1


"Kamu tinggal bekerja untuk dirimu sendiri. Tapi bila kamu  mau ke Jakarta, sayang rumahmu di Bali dan juga tak enak pada orang-orang yang telah membantumu pulang ke Bali dengan membelikan tiket pesawat juga membayar semua hutangmu."



"Tapi terserah kamulah nanti gimana." Teman Komang Ayu memberi pendapatnya. Biar bagaimana pun dia hanya bisa kasih pendapat. Tak bisa mengharuskan atau melarang Komang.



Sementara Komang Ayu masih tak percaya ada orang tak dikenal yang membantunya sedemikian rupa.  Sedang dia sudah tak akan bisa berhutang lagi karena gajinya sudah habis untuk biaya berobat ibunya.



"Uang kost tunggakan ku nanti aku bayar bulan depan kalau aku sudah gajian ya Sri," ucap Komang. Sri nama sahabatnya sejak dia datang ke Jakarta dua tahun lalu.



"Kamu nggak usah berpikir seperti itu, ada orang membelikan tiket tanpa apa pun aja itu udah lebih dari aku, ada orang melunasi semua hutangmu ke managemen. Aku cuma uang kost yang tak seberapa. Biar tak perlu kau hitung agar itu bisa jadi ladang pahala yang aku tanam saja."



"Kalau aku berpikir untung rugi berteman denganmu tentu aku nggak akan antar kamu kesini. Akan aku biarkan kamu sendirian." Ucap Sri serius.



"Iya terima kasih ya Sri, kamu teman terbaikku," Komang Ayu lalu memeluk teman sekaligus teman satu kamar kostnya.



"Ayo mana kartu identitasmu kita masuk kita sudah harus mulai check in." Pinta Mukti pada Komang Ayu.



"Dan siapa namamu?" tanya Mukti pada teman Komang.



"Saya Sri Pak."



"Oke perhatikan nama saya ada di kartu nama kalau dia terjadi kenapa-napa kamu bisa lapor polisi bawa saya menculik dia atau menjual dia. Di kartu nama saya ada  tiga galery milik saya di Bali. Cari saja saya disana."



"Teman-teman saya juga sering nongkrong di cafe tempat kamu kerja. Suruh tanya mereka dimana saya bila saya berbuat buruk ada temanmu ini."

__ADS_1



"Dan jangan lupa kirim semua hutang Komang pada Ali seperti kemarin agar semua bisa terbayar oleh teman-teman saya. Saya tidak akan menjual nya kok."



"Saya tahu Bapak memang  menolong dengan tulus. Hanya Allah yang bisa membayar kebaikan Bapak dan teman-temannya." Ucap Sri.



"Ya sudah kami harus masuk," kata Mukti. Lalu Mukti pun langsung chek in menggunakan KTP miliknya dan milik Komang. Mukti melihat tas lusuh Komang Ayu.



"Ini mau taruh di bagasi atau di dalam cabin pesawat?" 



"Saya nggak ngerti mau ditaruh dimana Pak. Saya belum pernah naik pesawat. Dulu saya dibawa naik bus," dengan jujur Komang Ayu memberitahu dia tak tahu mau ditaruh mana tas pakaian miliknya.



"Jadi kamu belum pernah naik pesawat?" 



"Benar Pak. Saya belum pernah naik pesawat."



"Oke kalau gitu taruh di kabin aja biar nggak usah nunggu saat kita turun nanti." 



"Di mana tempat tinggalmu?"



"Saya di Badung Pak."



"Oke, kita masuk dulu. Nanti kita ngobrol lagi." Mukti mengajak Komang segera naik ke pesawat karena mereka datang memang dengan waktu yang mepet akan berangkat. Tak perlu menunggu lama.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY

__ADS_1



__ADS_2