
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Pagi ini Giyatno dan Mumun mendapat tamu penting seorang pengacara Airlangga yang merinci kapan harus bayar uang pinjaman modal dan kapan harus mengosongkan ruko yang mereka gunakan.
Pengacara tersebut juga mengingatkan sanksi bila menyalahi aturan tersebut.
"Sebenarnya pak Airlangga tidak akan melakukan itu bila bu Mursinah tidak melakukan hal buruk."
"Tapi karena ada info tentang semua kelakuan Ibu pada mbak Laksmi, maka semua itu diberlakukan oleh pak Airlangga."
"Semua bisa berkurang atau ada dispensasi tambahan waktu bila bu Mursinah mau minta maaf bersujud di kaki mbak Laksmi Itu pesan pak Airlangga Bu. Itu karena Ibu telah menyiksa mbak Laksmi selama 13 tahun."
Mursinah tentu tak mau terhina melakukan hal itu. Untuk mengembalikan Laksmi ke pak Airlangga saja dia enggak mau.
Lebih-lebih minta maaf ke Laksmi. Tak akan dia lakukan tapi di depan pengacara dia menyanggupi semuanya.
Dwi tambah bingung mendengar serdiri bahwa sudah ada pengacara yang datang ke rumah orang tuanya.
Bukan Dwi tak mau bantu tapi dia juga tidak bisa bantu. Mau ngapain dia ke sana. Dwi juga sudah lihat sendiri siapa yang punya power. Ternyata selama ini dia kerja di perusahaannya Ambar. Tentu mereka tahu jumlah gajinya makanya Laksmi juga tahu berapa besar gaji yang diterima.
Tentu saja Dwi malu terhadap Laksmi yang sudah dia selingkuhi dengan ibunya. Bukan selingkuh hati tapi selingkuh uang.
Memang Dwi selingkuh uang. Itu karena Mursinah selalu minta Dwi menceraikan Laksmi bila tidak diberi separuh gajinya.
Jadi Dwi memberikan gaji itu agar dia tidak menceraikan Laksmi. Sungguh Dwi laki-laki yang sangat taat pada ibunya. Itu sebabnya Abu dan Airlangga membuat skenario Laksmi bercerai dulu karena kalau nggak gitu Dwi terus di bawah dominasi ibunya.
Jadi jelas 'kan alasan Dwi selingkuh dengan memberikan separuh gaji? Bukan karena dia sangat mencintai ibunya tapi karena dia mempertahankan cinta Laksmi!
Memang sangat ribet cinta Dwi dan Laksmi bukan ribet dengan hadirnya orang ketiga atau cinta orang ketiga tetapi dominasi orang ketiga yaitu dominasi ibu mertuanya Laksmi.
\*\*\*
Kemarin sehabis menerima Dwi saat menyerahkan laporan keuangan dan BPKB mobil, Abu dan Airlangga menyelesaikan penjualan rumah Airlangga.
__ADS_1
Karena ada Airlangga di Surabaya maka langsung Airlangga yang tanda tangan proses jual beli.
Sore sehabis serah terima jabatan Ambar dan Abu kembali ke Solo tidak jadi hari Kamis, tetapi hari Rabu mereka sudah kembali ke Solo karena besok Kamis rombongan Sjahrir sudah tiba.
Walau pun rumahnya kecil tapi setidaknya kan Ambar ingin memasak teh lah untuk tamunya. Ibaratnya seperti itu kan?
Ambar juga sudah tahu hotel Vonny menginap selama di Solo.
Mukti dan Sonny pun akan pulang ke Solo karena kebetulan Laksmi juga akan ke Solo hari Jumat bersama dengan Airlangga dan dua anaknya.
"Ada-ada aja ya rumah cuma segini akan terima banyak tamu." Ungkap Abu.
"Banyak tamu kan berkah Mas," kilah Ambar.
Ambar sengaja akan menaruh Laksmi di hotel yang sama dengan Sjahrir sehingga nanti mereka akan punya teman.
Mukti dan Sonny tidak mau tinggal di hotel. Mereka ingin tetap di rumah kecil itu walau pun hanya gelaran tikar atau karpet.
"Bener Mas, aku juga setuju dengan pendapatmu," jelas Mukti yang merasakan kumpul keluarga adalah segalanya. Terlebih dia sadar, dirinya "yatim piatu" walau masih ada papa kandungnya.
Hari Kamis pagi Mukti sudah tiba di Solo.
"Assalamu'alaykum Ma," Mukti memeluk dan menciumi Ambar setelah memberi salim pada perempuan terhebat dalam dirinya itu.
"Koq sudah sampai? Bukannya kamu bilang sampai nanti sore ya atau besok pagi?" Abu kaget mendapati putra keduanya telah tiba di rumah mereka.
"Enggak lah Pa. Aku kangen sama Mama," kata Mukti.
"Lha, cuma mama ya yang dikangenin, Papa enggak?" Protes Abu.
Mereka bertiga tertawa. Ambar sedang masak buat makan siang, Abu bersiap ke rumah mereka dengan motor matik yang memang digunalan sebagai kendaraan operasional sehari-hari. Buat kepasar atau ke warung.
Aksa punya motor sendiri, pagi ini dia mulai mengisi form daftar ulang di SMA yang dia masuki.
__ADS_1
"Jauh rumahnya dari sini Ma?" Mukti bertanya sambil mengambil krupuk kulit yang akan dimasak Ambar.
"Tadi kamu udah lewatin loh. Kalau kamu naik taksi atau naik apa pun pastikan ngelewatin tanah yang sedang dibangun sebelah kiri jalan. Kalau dari sini sebelah kanan jalan," jawab Abu.
"Oh itu."
"Papa bangun di sana, sedikit demi sedikit biar benar-benar sesuai keinginan mamamu," ucap Abu dengan tatapan penuh cinta pada Ambar.
"Wah keren kalau yang itu, aku tadi juga ngebatin rumah siapa yang keren kayak gitu. Walau bangunannya masih belum terlihat tapi aku tahu itu kayaknya pakai etnik Jawa," komen Mukti.
"Iya kita bikin seperti rumah Bali. Rumah Bali kan pakai etnik Bali. Di sini Papa bangun pakai etnik Solo."
"Ngebayangin aja aku udah nggak sabar Ma," kata Mukti.
"Papa hunting GOBYOK tua, juga perabotan-perabotan tua menyesuaikan dengan bangunan yang ada nanti," kata Ambar.
"Eyang pasti suka banget ya Ma?"
"Eyang excited banget tahu Papa bangun mansion etnik begitu buat Mama," jawab Ambar dengan senyum.
"Eyang belum pulang?" tanya Mukti lagi.
"Eyang nanti hari Jumat bareng tante Laksmi dan dua jagoannya."
"Oh gitu Aku kira eyang juga bareng Mama dan Papa."
"Enggak sengaja eyang bareng sama tante Laksmi agar tante Laksmi aman sementara dari keluarganya Om Dwi."
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR ya.

__ADS_1