
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Sebaiknya kalian berdua langsung aja urus Vio dan Imelda di Jakarta karena kejadiannya kan di sana."
"Sebaiknya Mama dan Papa ikut aja," kata Abu.
"Lalu kamu pikir Aksa aman ditinggal sendiri? Dia mau ujian nasional! Bagaimana bila nilainya ambruk?" tanya Menur.
"Aku lupa tak ada Ambar yang jaga anak-anak bila aku pergi," jawab Abu pelan.
"Kamu baru sadar kan bagaimana besarnya peran Ambar selama ini. Tak pernah dia mengeluhkan hal itu padamu sama sekali." Ungkap Menur.
"Iya Ma, aku salah," jawab Abu selanjutnya.
"Ya sudah kalian bersiap. Kalian urus masalah Vio dan Imelda. Dan kamu Mukti, syarat kembali ke keluarga ini kamu harus buktikan kata-katamu. Kamu harus cabut itu surat kuasa di pengacaranya Vio."
"Iya Eyang, pasti aku akan cabut. Aku harus ke Jakarta untuk menandatangani pencabutan surat itu," jawab Mukti dengan pastinya.
Abu dan Mukti pun bersiap untuk ke Jakarta.
"Kamu cari tiket dulu tiket tercepat apa pun! Biar Papa urus Aksa dulu agar dia siap ditinggal kita," kata Abu pada Mukti.
"Baik Pa," jawab Mukti dia pun langsung menghubungi jasa travel penyedia ticket yang biasa digunakan oleh keluarga Lukito.
"Enggak bisa kalau yang satu jam lagi Mbak terlalu cepat. Kami masih jauh dari bandara minta yang minimal dua atau tiga jam karena jarak tempuh kami itu butuh 45 menit ke bandara," kata Mukti pada petugas travel yang sedang bicara dengannya.
"Oke nggak papa ekonomi enggak apa-apa yang penting kami cepat berangkat," jawab Mukti lagi.
__ADS_1
Tok tok tok
Aksa mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dia belum mengunci pintu padahal sedang berkirim pesan dengan Ambar.
Abu lah yang mengetuk pintu kamar anaknya.
"Iya masuk aja," sahut Aksa mematikan tampilan layar ponselnya.
Lelaki kecil itu sedang belajar menggunakan laptop.
"Boleh papa masuk?" Abu berbasa basi pada pemilik kamar.
"Masuk aja dari tadi udah depan pintu ngapain tanya?" Jawab Aksa santai.
'*Ih songong nih anak*,' kata Abu tapi hanya dalam hati. Abu tak mau membuat Aksa marah saat ini anak itu sedang sendirian.
"Jadwalnya udah aku kasih ke Papa sejak minggu lalu! Eh salah aku kasihnya ke Mama sih. Papa kan nggak pernah perhatian sama aku."
"Papa punya anak cuma mas Mukti aja. Bukan aku dan Mas Sonny. Kami berdua bukan anak papa," kata Aksa dengan dendamnya.
Abu diam. Mau marah, memang seperti begitu kenyataannya kan selalu seperti itu.
"Papa enggak pernah tahu kapan aku pertandingan futsal. Apa Papa tahu kapan jadwal Aku ujian semester sebelum ini? Apa Papa tahu berapa nilai hasil ujianku? Enggak pernah kan?" Mata tajam Aksa memandang Abu dengan tanpa takut.
"Papa tahu, walau semua itu aku laporkan tapi papa nggak peduli," Abu diam dia merasa bersalah dalam hal ini.
"Apa Papa tahu kapan aku harus ambil rapot nilai bayanganku semester ini padahal itu aku sudah laporkan." Abu masih diam.
"Tapi Papa tahu kapan mas Mukti pameran. Papa tahu kapan mas Mukti pergi ke Surabaya. Papa bahkan tahu kapan Mas Mukti harus memperpanjang STNK-nya mobilnya dan mengingatkannya."
__ADS_1
"Semua Papa tahu kalau soal mas Mukti tapi soal aku dan Mas Sony Papa tak peduli karena kami bukan anak Papa!" Aksa terus berceloteh tanpa henti.
Rupanya Aksa ingin mengeluarkan semua yang mengganjal di daddanya.
"Sekarang Papa mau bicara apa?" Tanya Aksa datar.
"Papa nanti mau ke Jakarta mau mengurus perusahaan. Papa ingin kamu tetap belajar dengan baik untuk ujianmu," jawab Abu. Sejak tadi sebenarnya dia sudah tak tahan berada didepan anak bungsunya itu.
"Selama ini Papa nggak peduli sama aku di rumah. Papa tak perlu izin untuk pergi. Aku bukan anak Papa. Setidaknya tak pernah ada aku dan mas Sonny dihati dan pikiran Papa."
"Papa juga nggak pernah tahu kan gimana aku di sekolah? Papa enggak perlu perhatian, walau mama dan mas Sonny entah dimana, mereka selalu ada buatku!"
"Mama dan mas Sonny tetap kasih perhatian sama aku setiap hari! Tiap hari mama dan Mas Sonny telepon ke sekolahku bukan ke ponselku, jadi aku enggak tahu mereka ada dimana."
"Tapi yang pasti mereka selalu ada jadi nggak usah repot pura-pura ada untukku. Urus aja anak papa sendiri itu."
Mukti dan Menur yang mendengar percakapan itu hanya bisa diam. Mereka merasakan sakit yang Aksa rasakan selama ini. Rasa sakit yang dia pendam. Pasti ada dendam yang Aksa rasakan untuk Mukti.
'*Harus ada pendekatan pada Aksa berkaitan dengan rasa bencinya pada Abu dan Mukti*,' pikir Menur.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.
__ADS_1