
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Mas sudah tahu kan cerita tentang Jeffry. Mas tahu dari aku secara langsung bagaimana hubungan kami dari awal hingga berakhir. Dan Mas juga tahu tentang dia dari berbagai narasumber."
"Tapi aku sama sekali nggak tahu cerita tentang Vio. Baik dari Mama Ambar dari Mukti atau dari siapa pun tentang awal perkenalan mu dengan Vio sampai kalian tunangan."
"Itu prosesnya gimana? Kalau aku kan jelas karena memang ada cinta waktu itu kan. Kalau Mas gimana?" Adelia bertanya pada Sonny saat mereka baru keluar dari rumah Farah.
"Kenapa sih pengen tahu?" Sonny bertanya alasan Adelia ingin tahu masalah Vio.
"Paling nggak kalau ada orang ngomong tentang hubungan kalian aku enggak kepancing karena sudah tahu hal yang sebenarnya dari Mas langsung."
"Aku jadi punya basic, aku nggak cemburu atau marah. Biar gimana pun kita nggak mungkin menghapus masa lalu."
"Masa lalu enggak mungkin kita ubah Mas. Aku nggak cemburu. Masa lalu nggak bisa kita ubah."
"Mau kita jungkir balik kayak apa pun, mau nangis darah kayak apa pun nggak akan mungkin kita bisa merubah sakitnya aku, saat melihat calon suamiku sedang making love dengan kakak kandungku!"
"Itu nggak akan mungkin aku merubahnya. Sudah kita terima aja. Gitu loh Mas."
"Kamu cintanya kayak apa pun sama Vio saat kalian bertunangan, aku nggak bisa ubah Mas. Aku harus sadar itu masa lalumu!"
"Aku nggak pernah cinta sama Vio," bantah Sonny cepat dengan sewot.
"Iya kan misal! Kita bicara misal kan Mas. Jadi udah kita terima aja, sekarang kita menapak hari ke depan tapi sejarah tetap harus kita ketahui."
"Bukan untuk dikenang dengan segala penuh perasaan dan segala macamnya membuat kita mendayu-dayu. Enggak gitu juga. Kita hanya tahu oh itu cerita sebenarnya."
"Sudah. Itu buat pembelajaran kita Mas." kata Adelia.
"Aku pertama lihat Vio itu saat meeting dengan staff keuangan dikantor papa." Sonny memulai cerita yang diminta Adelia.
__ADS_1
"Waktu itu papa baru tugasin aku untuk memegang kantor Jakarta karena papa sedang menghadapi trouble di Bali."
"Papa sedang pegang proyek besar di Bali yang tak bisa disambi. Butuh perhatian penuh dari papa, sehingga nggak mungkin ke Jakarta." Sonny berpikir kapan awal perkenalan Vio dimulai.
"Saat meeting papa denganku untuk memperkenalkan posisiku di kantor, aku minta papa membuat sesi pertemuan dengan tiap divisi dalam waktu yang berbeda."
"Saat aku bicara dengan semua staff keuangan, aku bingung waktu itu ada tante Imelda. Aku tanya ke papa apa jabatan dia di kantor?"
"Papa bilang tante Imelda sering nongol aja nggak punya kerjaan apa pun."
"Bicaralah aku dengan manajer keuangan dan semua staffnya. Saat itu ada satu orang staff keuangan yang sangat sederhana, lugu dan diam."
"Gadis itu, aku mengira dia gadis, hanya menunduk. Dia tidak mencari perhatianku seperti staff lainnya."
"Bahkan ada staff lain yang sudah janda atau masih punya suami pun cari perhatian denganku. Jauh berbeda dengan gadis sederhana itu. Dia cuma menunduk nggak pernah cari perhatian."
"Tentu saja bikin aku penasaran. Rupanya itu trik dia untuk menarik hati seorang laki-laki."
"Karena itulah aku penasaran terhadap gadis itu. Saat tahu kinerjanya cukup bagus aku makin tertarik. Waktu itu dia baru satu tahun kerja di perusahaan papa dan dia jadi staf kepercayaan dari manajer keuangan yang lama."
"Rupanya dia dapat rekomendasi dari tante Imelda. Dia masuk pun atas saran tante Imelda dan dapat rekomendasi kerjaannya."
"Ibu manajer yang lama, manajer yang lama juga perempuan sangat terbantu dengan ketekunannya bekerja."
"Aku senang cara kerjanya, cara perhitungannya, cara kecepatan dia bekerja."
"Saat itu di rumah, Mama sudah memberi aku ultimatum, aku harus segera menikah."
"*Enggak bisa Ma aku belum punya calon*. Begitu jawabanku ketika mama terus mendesakku."
"*Ya carilah pokoknya tahun ini kamu harus sudah punya pendamping*. Begitu yang mama bilang."
__ADS_1
"Saat itu eyang Angga sudah mulai sakit. Mama ingin memperlihatkan pada eyang Angga, sebelum dia meninggal cucunya eyang Angga sudah ada yang menikah!"
"Itu alasannya terjadi nya aku cari jodoh instan."
"Aku dekati dia karena waktu itu aku butuh mencari pendamping. Kami nggak pacaran sama sekali."
"Aku ingat saat minta dia jadi pendampingku. *Kamu sudah punya calon*? Begitu tanyaku padanya di kantor, bukan tempat ngedate atau apa pun. Kamu tahu betapa kakunya aku pada perempuan. Terlebih pada perempuan asing yang tidak aku cintai."
"*Calon? Maksud Bapak apa*? Itu jawaban malu-malu yang aku terima kala itu."
"Calon suami lah, balasku."
"*Mana lah ada yang mau dengan saya Pak. Saya tak punya apa-apa*. Begitu jawabannya."
"Aku langsung tanya : *kalau kita nikah gimana*? Aku hanya butuh nikah karena disuruh mama. Jadi beda dengan kamu."
"*Wah jangan main-main Pak*, jawab Vio dengan mimik menampik. Aku makin senang karena dia tidak langsung antusias aku ajak nikah."
"Maaf bukan sombong tapi gadis mana yang menolak kharismaku?"
"Aku!" kata Adelia cepat.
"Kamu beda Yank, kamu punya power. Aku bicara perempuan yang statusnya di bawah kita. Tidak punya apa-apa, aku ajak nikah nolak. Padahal perempuan yang setara denganku aja banyak yang ngejar-ngejar aku."
"Ingatkan waktu di Bali banyak gadis yang mengejarku padahal mereka levelnya setara kita loh. Walau ada juga yang di bawah kita."
"Kamu ingat teman kuliahku di luar negeri? mereka ngajar-ngejar aku. Ini gadis desa yang enggak punya apa-apa bisa nolak aku. Kan aneh?"
"Semua bikin aku tambah penasaran. Sekali lagi sampai saat itu belum ada cinta dan tidak akan pernah ada cinta karena memang nggak ada rasa untuk dia!"
"Aku hanya mengejar target dari mama dan eyang Menur. Waktu itu eyang Menur yang memang mendesak banget dia selalu bilang kasihan Eyang Angga cucunya belum ada yang nikah sedang umurku sudah lewat dari 25 tahun. Aku enggak tahu kalau Vio adalah pionnya eyang Menur."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
__ADS_1