
DAri SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Dwi mengecup kening Farhan pelan-pelan. Putra sulungnya itu sedang tidur. Ada buku terbuka di sebelahnya.
Dwi mengambil buku itu lalu menutupnya dan meletakkan di meja belajar anaknya.
Dia selimuti tubuh kecil putra kebanggaanya itu. "Papa kangen kamu Nak," kata Dwi sambil berbisik di telinga anaknya.
"Sehat terus ya," lalu dia keluar dari kamar itu.
Dwi pun menuju kamar Fahri. Selimut si kecil sudah terjatuh. Fahri memang tidurnya lasak.
"Wah anaknya Papa kalau tidur enggak pernah berubah," Dwi membetulkan mengambil selimut anaknya dan menyelimuti lagi. dia usap kening Fahri dan dia kecup lembut.
"Met bobok ya sayang," kata Dwi. Memang selalu seperti itu setiap malam dia lakukan Waktu mereka masih bersama.
Sebenarnya Laksmi juga kasihan dan Laksmi juga sudah diberitahu oleh Airlangga apabila Dwi bisa berubah mungkin akan ada maaf bagi Dwi.
Tapi memang harus bertahap karena kalau tidak Dwi akan selalu seperti itu, kalah terhadap tekanan keluarganya. Walau sudah tak ada ibunya sekali pun.
"Aku pamit ya Ma," kata Dwi.
"Ya," jawab Laksmi dengan tegas. Laksmi tidak mau bersikap cengeng walau pun Sebenarnya dia sedih melihat suaminya seperti itu.
"Aku boleh melamar jadi sopirmu enggak?" Tanya Dwi. Dia yang penting bisa dekat dengan anak dan istrinya.
"Aku tanya Mas Abu dulu. Kalau berkaitan denganmu, aku tak berani mengambil keputusan sembarangan," balas Laksmi.
"Aku tunggu kabar baiknya," jawab Dwi.
__ADS_1
Kita **FLASHBACK** ya tadi waktu di mobil dari rumah orang tua Dwi menuju rumah Laksmi.
"Saat ini apa kegiatanmu?" Pancing Laksmi.
"Sekarang jadi ojol motor," jawab Dwi tanpa malu.
"Dari siapa motornya? Punya siapa?" Laksmi bingung karena mereka tak punya motor, dan di keluarga Dwi juga tak ada yang punya motor nganggur.
"Aku kredit motor yang DP 0. Jadi saat motor datang aku bayar angsuran pertama." Dwi memberitahu status motor yang dia gunakan sekarang.
"Ibu nggak marah kamu jadi sopir ojol?" tanya Laksmi penasaran.
"Marah pun dia tidak bisa ngasih aku makan kan? Sedang aku butuh makan," jawab Dwi tenang.
"Uangmu kan banyak di ATM. Bahkan buat beli motor terbaru secara cash tiga buah juga masih *turah* koq." Laksmi tahu setiap ada rejeki apa pun Dwi tidak gunakan uang itu tapi dia tabung. Laksmi pun tak meminta dan senang Dwi punya tabungan. Mereka terbuka soal tabungan itu.
"Itu aku memang sisihkan. Biarin aja kalau keadaan mendesak siapa yang mau bantu aku. Jadi aku tidak mau bertahan hidup dengan tabungan. Aku harus punya income rutin tiap hari," kata Dwi.
"Lalu kamu tinggal di mana?" tanya Laksmi lagi.
"Aku kost di rumah kost yang khusus laki-laki dekat rumah sakit. Jadi pagi-pagi banyak order dari situ," kata Dwi.
"Jam berapa biasanya jam kerjamu?"
"Tergantung dapatnya order aja sih. Cuma ya memang aplikasi sudah aku nyalakan sejak habis salat Subuh dan aku matikan nanti sehabis jam pulang kerja. Biasanya sampai jam 07.00 malam masih rame tarikan," kata Dwi.
**FLASHBACK OFF**.
"Lalu sekarang dia tinggal di mana?" tanya Abu ketika Laksmi melaporkan permintaan Dwi sebelum suaminya pulang.
"Katanya dekat Rumah Sakit Mas," jawab Laksmi. Padahal Abu tahu dari A sampai Z perihal Dwi hari-hari terakhir ini karena ada orang yang dia suruh memata-matai adik iparnya itu.
__ADS_1
"Aku sih nggak keberatan ya dia jadi sopirnya anak-anak sehingga dia nggak terpisah dari anak-anak. Jangan beritahu profesi itu pada anak-anak."
"Yang penting dia tidak jadi sopirku Mas, Mbak," ucap Laksmi.
"Kenapa?" Tanya Ambar.
"Aku sulit memberi dia ketegasan kalau dekat tiap hari. Biar dia merasakan apa fungsi diriku untuknya," balas Laksmi.
"Ya sudah terima aja sebagai sopir anak-anak. Biar dia menemani anak-anak. Jadi anak-anak nggak kehilangan Papanya," kata Ambar.
"Dan jangan pernah ada yang tahu kalau dia adalah sopir."
"Injih Mas aku ngerti," Laksmi setuju pendapat kakaknya.
Ambar dan Abu sengaja ngasih kesempatan itu. Setidaknya mereka tidak memisahkan Farhan dan Fahri dari papanya karena Dwi juga sebenarnya nggak bersalah kok.
Yang bersalah kan ibunya. Hanya Dwi yang kurang tegas terhadap almarhum ibunya sampai setengah gajinya diminta pun dibiarkan karena diancam harus menceraikan Laksmi. Padahal harusnya dia tegas.
Dia yang punya istri kok suruh nyeraikan sama ibunya takut.
Iya sih kesalahan Dwi hanya itu, jadi Abu dan Ambar membiarkan saja Dwi jadi sopir daripada dia narik ojol. Karena Laksmi memang butuh sopir sejak dia bekerja. Dulu Laksmi tak butuh sopir karena dia yang antar jemput anak-anaknya.
\*\*\*
"Alhamdulillah," kata Dwi membaca pesan yang Laksmi kirim. Dwi menjadi bersemangat karena mulai besok habis subuh dia akan meluncur ke rumah Laksmi untuk menjadi sopir bagi putra-putranya.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.

__ADS_1