
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Ayo bismillah kita naik." Ajak Mukti pada Komang.
"Eh maaf, agama kamu apa? Koq saya ajak kamu mengucap Basmalah," tanya Mukti.
"Ibu saya muslim. Bapak saya Hindu."
"Saya nggak tanya sejarah kamu." Jawab Mukti sambil menaiki tangga pesawat.
"Awalnya dulu ikut dengan keluarga ayah saya, sehingga di surat raport hingga data ijazah saya Hindu. Tapi akhirnya ibu mengambil saya dan dia membawa saya ke Badung karena di rumah ayah saya, saya hanya dijadikan pembantu oleh istri ayah saya."
"Saat saya mulai dekat dengan ibu, akhirnya saya mempelajari Islam."
"Di surat-menyurat saya sesuai dengan sekolah dulu saya masih Hindu. Di KTP sudah tertulis Islam."
"Apa pun agama yang kamu anut, baik Hindu mau Islam jalani dengan baik."
"Bila kamu Hindu ya kamu jalani dengan hatimu. Kalau Islam jadilah Islam yang taat. Jangan separuh separuh."
"Tidak ada agama yang mengajarkan pada pengikutnya untuk berlaku buruk," kata Mukti seakan dia adalah ahli agama.
\*\*\*
Mukti memasukkan tas milik Komang kedalam cabin. Lalu dia suruh Komang duduk di kursi yang sudah dia pesan.
"Ini tiket dan KTP mu." Mukti menyerahkan KTP milik Komang Ayu.
__ADS_1
"Kamu tinggal di Badung sama siapa?"
"Hanya dengan ibu. Lalu dua tahun lalu saya dibawa oleh kerabat ibu katanya mau dikasih pekerjaan lalu saya bekerjalah di kafe itu udah mulai dua tahun ini Pak."
"Tahun ini Ibu mulai sakit sehingga semua uang gaji saya saya serahkan pada ibu. Saya bayar kos separuh, kadang semuanya ditanggung Sri teman saya tadi."
"Bapak pasti tanya bagaimana saya bertahan hidup tanpa gaji. Untuk makan kalau saya tidak libur maka saya bisa makan."
"Siang kan kami dapat jatah makan di cafe Pak. Makan siang itu saya bagi, separuh untuk makan malam tidak saya makan semuanya saat siang," jelas Komang lagi.
'*Kasihan sekali gadis ini*,' kata Mukti.
"Lalu nanti, maaf saya tanya ya. Kamu dari Denpasar ke Badung ada ongkos nggak?"
"Kamu tahu kan naik bus pun nggak cukup uangmu itu."
"Saya mengerti Pak. Nanti saya akan jual ponsel saya di Denpasar agar saya bisa tiba di rumah. Saya akan hubungi dulu tetangga di rumah kalau saya sudah di Denpasar sebelum saya jual ponsel. Jadi nanti mereka bisa tunggu saya sebelum memakamkan ibu."
"Kamu sudah punya nomor ponsel saya. Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung hubungi saya," Mukti mengambil uang di dompet dan menyerahkan pada Komang.
"Ini kamu pegang dan gunakan sebaik mungkin," Mukti memberi 10 lembar uang merah ke telapak tangan Komang.
"Semoga bisa kamu gunakan untuk pemakaman ibumu."
"Ini sangat besar Pak. Nggak usah sebanyak ini. Saya cukup seratus ribu saja untuk tiba di rumah." Tolak Komang.
__ADS_1
"Jangan pernah menolak kamu juga harus ngurus pemakaman ibumu. Jadi terima aja nanti kalau kurang kamu hubungi saya."
"Nanti kalau sudah selesai pemakaman dan urusan ibumu, bila ingin bekerja, kamu bisa kerja di galery saya yang di Badung."
"Ini kartu nama saya. Kamu bisa datang ke galery di Badung atau yang di Denpasar juga bisa. Upayakan teleponsaya dulu agar karyawan saya disana bisa saya beritahu. Karena saya tak setiap saat ada di galery. Terlebih empat bulan kedepan saya akan sibuk di Solo dan Jakarta." Mukti akan sibuk di Solo berkaitan pameran yang dia ketuai. Dan sibuk di Jakarta berkaitan pernikahan Sonny.
"Baik Pak terima kasih," jawab Komang Ayu.
"Saya tidur ya."
"Saya takut Pak."
"Kamu pegangan saya kalau takut. Atau kamu juga tidur saja."
"Tapi saya nggak ngerti."
"Sudah ini sabuk pakai aja tak perlu kamu buka sampai turun nanti."
"Enggak apa apa."
"Maaf Pak, tapi saya takut."
"Kamu peluk aja lengan saya. Saya sangat lelah dan butuh tidur." Mukti langsung memejamkan matanya. Semalam dia pulang sangat larut yaitu jam 02.00 pagi dan jam 05.00 sudah harus berangkat ke bandara.
"Baik Pak terima kasih," ucap Komang Ayu lirih yang sudah tak terdengar oleh Mukti karena lelaki itu sudah tidur.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR
__ADS_1