
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
'*Mas sudah di depan pintu kedatangan*,' Sonny telah tiba di bandara lima belas menit lalu. Dia mengirim pesan agar begitu Adelia mengaktifkan ponselnya gadis itu tahu keberadaannya.
Sonny belum mengatakan kedatangan Adelia pada Ambar. Dia ingin ini jadi kejutan.
Adelia tersenyum tatkala membuka ponsel pesan dari Sonny telah masuk.
'*Aku sudah landing Ma*,' gadis itu langsung mengirim pesan pada sang mama agar tak membuat wanita yang dia kasihi tak khawatir.
'*Ok Take care and have fun ya*,' balas Vonny cepat.
"Hai Mas Assalamu'alaykum," sapa Adelia saat bertemu Sonny.
"Wa'alaykum salam. Sini kopermu," jawab Sonny.
"Gimana khabarmu? Tante Vonny dan om Sjahrir?"
"Tanyanya jangan borongan gitu mentang-mentang lagi diskon. Waktu berlakunya diskon masih panjang koq," Adelia terkekeh mendengar berondongan pertanyaan Sonny.
Dan mereka pun tertawa bersama melupakan pertanyaan yang Sonny ucapkan barusan.
Sonny membawa Adelia makan ditempat kemarin dia dan Ambar makan. Nasi uduk dan ikan atau ayam bakar dan goreng.
"Aku lele goreng dua enggak garing tambah sate usus tiga juga enggak garing. Nasinya setengah aja," Adelia memesan apa yang dia inginkan.
"Saya nasi full, satu lele goreng dan satu ayam bakar dan tempe tahu," Sonny menyebut pesanannya agar dicatat oleh pegawai.
"Minumnya dua lemon tea dengan sedikit es Mbak." Lanjut Adelia.
"Baik. Satu nasi dengan lele goreng dan ayam bakar serta tempe tahu. Setengah nasi dengan dua lele goreng tidak garing dan tiga sate usus juga tidak goreng. Minumnya dua lemon tea dengan sedikit es."
"Ada tambahan lain?" Tanya si pegawai dengan ramah.
"Cukup Mbak," Adelia menjawab karena dia lihat Sonny memandangnya seakan bertanya ada tambahan lain tidak.
"Mas cerita disini sebelum bertemu mama ya. Nanti disana mungkin akan ada tambahan dari mama.
"Ceritanya dimulai saat kita habis ketemuan hari Sabtu lalu. Kamu ingat kan Mas bilang pengen ke rutan ketemu Vio mau tanya ada hubungan apa dia dan Mukti?"
__ADS_1
"Mas pun langsung masuk dan mendaftar mau ketemu siapa. Petugas bilang Vio sedang ada tamu rutinnya, jadi Mas disuruh menunggu sebentar."
"Mas penasaran. Siapa tamu rutin yang dimaksud. Mas hampiri. Mas lihat si lelaki memegang jemari Vio dan sesekali mengecup tangamnys."
"Tanpa buang waktu Mas bikin video call dengan papa dan eyang kakung. Mas zoom tangan yang dikecupi lelaki itu lalu Mas dekati mereka."
"Vio dan Mukti kaget Mas menangkap basah moment mesra mereka."
"Mas enggak tahu kalau video call itu dilihat mama. Tanpa sepengetahuan papa mama langsung berangkat ke Surabaya. Pamit pada eyang akan menjauh dari papa selamanya."
Pesanan mereka datang. Sonny berhenti sejenak. "Makan dulu. Biar enak ceritanya enggak kepotong" Sonny meminta Adelia makan.
Sesekali mereka bicara tapi bukan persoalan inti. Hanya tentang menu dan cuaca atau sesekali soal kesibukan rutin merrka masing-masing.
"Kalau normalnya, Mas jarang di Jakarta. *Home base* Mas disini sejak kuliah di UGM. Lanjut ke luar negeri pun balik kesini karena sejak kuliah sudah bikin usaha di sini."
"Lalu buka usaha di Bandung yang sedang Mas upayakan pindah ke Cikarang Bekasi. Tapi mau Mas jual aja perusahaan itu. Mas mau konsen disini aja."
"Lho yang Jakarta?"
"Jakarta punya papa. Usaha itu yang diincar Vio dan tante Imelda," Sonny menjelaskan usaha sang papa.
Mereka telah selesai makan. "Lanjutin Mas," pinta Adelia.
"Saat itu Mas sudah beli tiket ke Jogja."
"Mama langsung membeli tiket ke Jogja, dan malam itu Mas menunggu mama di bandara daripada bolak balik ke rumah."
"Di rumah setelah salat, mama cerita. Dulu papa pernah di jebak oleh sepupunya yang masih SMA. Sepupunya itu mengaku hamil pada eyang dan mama."
"Papa tak bisa mengelak karena mereka memang pernah satu malam bersama. Tapi papa bersumpah itu jebakan dan dia tak pernah bertemu sepupunya itu lagi."
"Papa menolak menikahi gadis itu dan eyang uti mengusir Witri nama sepupu papa itu. Dia keponakan mama kandungnya papa."
"Mama pulang ke Jember dan papa pikir mama hanya sedang mendinginkan pikiran."
"Papa kalang kabut, saat menerima panggilan sidang dari pengadilan agama. Rupanya mama tak ingin melanjutkan pernikahan mereka yang telah koyak."
"Ditemani eyang, papa pergi ke Jember dan memohon maaf pada mama. Mama yang welas asih pun memaafkan papa. Saat itu mereka masih tinggal di Surabaya dan usiaku dua tahun lebih sedikit"
"Saat aku berumur tiga tahun, eyang putri menerima telepon dari seorang bidan. Disanalah Mukti lahir. Witri meninggal karena perdarahan."
__ADS_1
"Kasihan pada bayi tak bersalah itu, eyang putri meminta mama memeliharanya. Dan sekali lagi dengan besar hati mama menerima bayi itu serta merawat penuh kasih tanpa emmembedaka antara aku dengan Mukti."
"Demi keamanan identitas Mukti yang bukan anak kandungnya, mama mengusulkan mereka pindah ke Bali. Di Bali semua orang tahu nya Mukti adik kandungku."
"Tapi, papa yang merasa bersalah pada bayi itu karena dia kehilangan ibu kandungnya menyayangi Mukti melebihi apa pun."
"Papa sering memarahi mama bila Mukti menangis atau kotor atau apa pun. Puncaknya papa memarahi mama karena meninggalkan Mukti dengan pengasuh saat mama menjemputku sekolah."
"Mama berpikir panjang. Untuk bisa hamil aku, mama butuh waktu tiga tahun padahal di tahun pertama belum hamil mama dan papa periksa ke dokter kandungan kalau rahim mama subur dan \*\*\*\*\*\* papa kurang benih sehat."
"Diam-diam mama test kebenaran anak siapa Mukti. Bagaimana berhubungan hanya satu malam walau dikatakan berkali-kali Witri bisa langsung hamil?"
"Keraguan mama terbukti. Mukti bukan anak papa. Saat itu juga mama test DNA dengan Mukti sebagai pelengkap kalau suatu saat Mukti membutuhkan nya kelak."
Sonny melihat Adelia terpaku mendengar kenyataan Mukti bukan anak Abu apalagi Ambar.
"Tapi mama memang malaikat dalam wujud manusia. Mama tetap menyayangi Mukti dengan tulus dan tidak memberitahu siapa pun hasil test DNA itu."
"Bahkan saat papa mewariskan usahanya untuk Mukti mama tetap diam."
"Mama mulai terusik saat dengan jelas melihat jahatnya Mukti menikamku saat video call itu.
"Malam itu mama memberikan salinan test DNA padaku di Jogja. Saat itu selain mama, baru aku yang tahu fakta itu."
"Mama memutuskan akan kembali menggugat cerai papa."
"Aku langsung meminta staff di Bandung mengirim copy test dengan alamat kantor Bandung pada eyang dan papa dengan ekspedisi same day."
"Sengaja aku kirim lewat kantor Bandung agar keberadaan kami disini aman."
"Aku kirim juga ke alamat tiga galery milik Mukti. Agar dia segera tahu."
"Aku ingin semua tahu rahasia yang selama ini mama pendam dalam-dalam."
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul CINTA KECILNYA MAZ itu ya.