
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Serius Pa?" Tanya Sonny yang mendapat telepon dari Abu
"Seriuslah."
"Ya ampun, itu feelingnya Adelia mentok banget ya Pa."
"itulah, makanya Papa juga kaget kok kamu nyuruh cek eyang Menur. Langsung Papa nyuruh ke orang kepercayaan Papa di Surabaya."
"Nanti malam kita zoom meeting. Biar jelas semuanya." Ucap Abu.
"Papa masih di kantor notaris, enggak bisa cerita lengkap sekarang. Begitu dapat info lanjutan dari karyawan Papa, kita bicara lagi. Kamu masih di Jakarta?"
"Masih lah Pa, kan besok sidang lagi." Jawab Sonny.
"Wah kalau gitu Papa harus bisa dapat bukti langsung. Ya sudah, nanti kasih tahu Mukti."
"Oke aku tunggu Pa. Mukti mungkin masih tidur."
"Emang kamu di mana?"
"Aku mau jemput Adel kerja, tadi Mukti bilang sore ini dia mau pergi ke galeri apa gitu aku lupa."
"Kok hari gini sudah di jemput?"
"Adel itu kalau hari Senin sampai hari Kamis praktek cuma sampai jam 12 aja. Lepas iti dia urus keuangan di kantor. Kalau kerjaan kantor kan enggak ganggu pasien kalau dia pergi. Paling izin sama papa dan mamanya aja."
"Besok sidang lagi, dia bilang akan datang lagi."
"Hebat banget tu pandangan jelinya Adel. Bilangin ke Adel makasih banget gitu."
"Ya nanti aku bilangin ke Adel."
"Ya udah nanti malam aja kita lanjut ngobrol. Bilang ke om Ariel juga biar semua jelas."
__ADS_1
"Oke nanti aku kabarin kalau kami sudah sampai rumah."
\*\*\*
"Serius? Mas enggak salah denger?" Adelia memastikan info dari pangeran pujaan hatinya.
"Bener lah Papa tadi telepon kok. Papa bilang katanya mau zoom meeting aja sama mama, eyang, Mukti dan orang tuamu."
"Semua karena feeling kamu. Untung kamu kasih tahu. Kalau nggak, enggak ada yang tahu info terbaru itu."
"Menurut aku sih bukan feeling Mas. Lebih tepat kecermatan ku melihat kejanggalan. He he udah kaya detektive belum bahasaku Mas?"
"Aku melihat ada kejanggalan dalam sikap Vio. Masa tertuduh dengan alibi yang tidak bisa lolos kok tenang banget gitu padahal dia tak didampingi pengacara."
"Kita harus cari bukti Mas. Kalau nggak asa bukti akurat, bisa lolos melenggang dia."
"Iya makanya nanti malam kita zoom meeting."
"Oke nanti aku bilang Papa sama Mama, malam aja jadi tenang ya?"
"Jam berapa, 19.30 atau jam 20.00?"
"Tapi mungkin jam segitu Mukti belum gabung karena masih sibuk dengan rekan senimannya."
\*\*\*
"Kenapa?" tanya Mukti.
"Aku baru mau berangkat ke galeri, Ini dikasih mobil pakai mobil mu lagi."
Adelia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Mukti begitu Sonny bilang malam ini kemungkinan Mukti akan mboloz zoom meeting karena sedang kumpul dengan sesama rekan seniman.
"Nggak apa apa lah pakai mobil kesayanganku."
"Kenapa kamu nggak pakai mobilmu sendiri? Mas Sonny ngapain sih malah ambil mobil besar padahal kalian berdua?"
"Mas Sonny maunya pakai mobil yang ini, mau diapain kalau dia nggak suka pakai mobilku?"
__ADS_1
"Mobilmu terlalu feminin," kilah Sonny.
"Alah alasan. Mobil kita sama merk dan tahun, hanya beda warna." Adelia tak terima pernyataan Sonny yang mengatakan mobilnya feminim.
"Iya tapi mobilku walau pun sama tipenya, sama tahun cuma beda warna nya terlihat macho gak kayak mobil pun kesannya feminim," Sonny bersikeras pendapatnya benar.
"Warna mobilmu bahkan merah dan mobilku hitam, mengapa yang merah lebih macho dan yang hitam feminim?"
"Terserahlah. Terus kalian mau ngapain telepon aku cuma mau pamer ribut?"
"Aku disuruh dengerin kalian ribut gitu?" Mukti sewot mendengar keduanya malah meributkan mobil mereka masing-masing.
"Nanti kita jam 08.00 zoom meeting dengan Papa." kata Sonny.
"Wow kalau ada Papa pasti urusannya heboh nih," ujar Mukti yang sudah bisa menduga pentingnya pembicaraan nanti malam.
"Iya, masalah eyang Menur."
"Seriusan?" Pekik Mukti.
"Serius. Makanya kalau nanti Jam 08.00 kamu nggak ikutan kita nggak mau ceritain ke kamu. Jadi di mana pun kamu berada, kamu harus ikutan zoom meeting biar langsung tahu info akuratnya." Sonny tentu tak mau menceritakan ulang semua dari awal bila Mukti tak hadir.
"Ya udah kalau gitu jam 08.00 aku udah sampai rumah deh." Tanpa pikir panjang Mukti langsung memutuskan.
"Ye gimana sih."
"Ya nggak apa-apa. Aku atur jadwal ulang daripada aku ketinggalan berita buat besok."
\*Papa juga sedang menunggu info terkini dari Surabaya agar bisa mendapat data buat pegangan kita."
"Lah untung di teleponnya sebelum berangkat, jadi aku bisa atur waktu dengan teman-teman. Kalau di telepon saat sudah ketemu teman-teman di galeri, aku enggak bisa ngehindar, bisa nongkrong sampai dini hari," kata Mukti sambil membawa keluar mobilnya Adelia.
"Nggak ada bocoran apa poinnya?"
"Enggak Papa nggak ngasih tahu. Nunggu sampai nanti malam aja," sahut Sonny.
"Ya wis, aku berangkat. Sampai ketemu nanti malam." Mukti memutus pembicaraan.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR