INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
FIRST


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Maaf ya Mas," kata Adelia.



"Maaf kenapa?  Kamu enggak wajib datang. Toh selama ini kamu sudah berkali-kali datang. Kan aku yang punya urusan, bukan kamu. Kamu support aku  aja sudah alhamdulillah," kata Sonny.



"Aku merasa bersalah enggak dampingin Mas," sesal Adelia.



"Enggak apa-apa, sudah yok kita keluar, jangan dikamar  terus nanti dikira kita ngapa-ngapain," kata Sonny.



"Ngapa-ngapain ya nggak apa apa kan?" Goda Adelia.



Sejak kemarin Adelia udah bilang ke Sonny minta izin bahwa dia tak bisa hadir di persidangan. Itu dilakukan Adelia sebelum Adelia bicara pada eyang dan Ambar.



"Enggak usah merasa bersalah. Kamu tenang aja. Hari ini Mas kan enggak bersidang, yang menjadi saksikan mama dan eyang. Hari ini Tonny akan menghadirkan Menur dan Wahid ke persidangan."



"Buat apa ya?"



"Kalau buat apa mas kurang ngerti. Mungkin buat saksi atau apalah. Yang Mas tahu mereka berdua sudah berhasil dibawa dari Bali."



"Kalau Mas pikir kayaknya mereka akan jadi terdakwa baru bukan hanya sebagai saksi. Mas tahu kehebatan Tonny menggiring kasus."



"Oh gitu." Adelia memperlihatkan wajah polosnya membuat Sonny gemas.



Sonny memeluk Adelia lembut dan mendaratkan bibirnya di bibir gadis yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu.

__ADS_1



Dengan pelan dan lembut Sonny berhasil mencium Adelia. Ciuman pertama mereka sebelum pernikahan.



Tak ada penolakan dari dokter muda itu. Dia malah menanggapi dengan penuh suka cita.


\*\*\*



Adelia keluar dari kamar dengan tangan dalam genggaman Sonny.  Wajah bahagia terpancar  pada pasangan itu.



"Aduh pagi-pagi udah bikin orang iri aja nih," goda Mukti.



"Makanya cepat cari pasangan, ngapain aja sih kamu," Sonny menjawab seakan selama ini dia bukan jomlo.



"Aduh sombongnya Masku ini. Kemarin kemana aja Mas?"




"Cepat sarapan, nanti kalian terlambat," ujar Vonny sebagai nyonya rumah.



"Ya enggaklah yang terlambat malah bu dokter. Kami kan mulainya jam 09.00," bantah Mukti.



"Jam praktik aku juga jam 09.00." Adelia membalas Mukti yang tidak tahu jadwal praktik dirinya.



Mereka pun menuju ruang makan.



"Loh kok kopinya Mukti udah ada duluan?"



"Aku sudah pesan pada asistenku Ma. Begitu bangun tidur. Aku nggak mau belum ada kopi saat aku bangun tidur," kata Mukti tanpa merasa bersalah.

__ADS_1



"Daripada pakai asisten kamu cari istri aja lah, biar nggak ribet," kata Ambar.



"Mama nih." Protes Mukti. Memang dari tiga anak Ambar, Mukti yang paling ribet. Mungkin karena faktor genetik yang berbeda.



"Iyalah, buat apa cari asisten buat ngurusin kamu dari pagi siang sampai malam.  Mending cari istri beres kan?"



"Emang istri tugasnya ngeladenin suami Ma?"  kata Adelia. Dia jadi harus berpikir ulang kalau konsep seperti itu yang ada dalam pikiran Sonny tentang figur istri.



"Ya nggak juga. Mama juga waktu awal-awal menikah masih kerja. Bahkan saat itu Mama lebih sibuk karena sedang membangun perusahaan sendiri, bukan milik papa. Mama berhenti ketika hamil Sonny berapa bulan."



"Waktu itu hamil berapa bulan Pa?"  tanya Ambar pada Abu.



"Sudah masuk enam bulan Ma."



"Oh iya enam bulan deh. Berhenti kerja bukan nggak boleh sama Papa, tapi karena Mama sendiri mau berhenti. Itu karena mikir nunggu dapetin Sonny aja delapan tahun, masa begitu dapat enggak diurus dengan baik, kata Ambar.



"Istri itu buat teman sharing," kata Ariel.



"Bukan menjadi pengasuh kita atau menjadi pembantu kita."



"Bener banget," Angga menyetujui pendapat Ariel.



"Jangan seperti Eyang yang sangat jauh beda antara pernikahan yang memang benar-benar nikah karena cinta dengan pernikahan karena ditipu."


\*\*\*


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

__ADS_1



__ADS_2