
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Bagaimana mungkin kamu dipagari seperti itu?” tanya Imelda pada sekutunya.
“Aku tidak tahu Tante, sekarang aku enggak boleh keluar kantor di luar jam kerja dan mobilku juga sudah ditarik. Jadi kita kalau bicara diluar jam kerja kantor saja,” balas Vio.
Ya Violine memang berhasil Imelda gaet untuk bersekutu dengannya. Mereka bertekad mengambil harta Sonny dan Abu untuk mereka berdua. Dan sejak awal semua uang yang mereka ambil langsung mereka bagi dua. Karena mereka sama-sama ketakutan dikhianati dan tidak kebagian uang.
“Dan sementara aku tak pegang berkas keuangan Tante. Aku sedang ditugaskan mendata ulang usaha milik Sonny di Bali. Jadi aku belum bisa bergerak lagi,” Vio memberi khabar tante tunangannya.
“Baik, aku tunggu kalau kamu sudah aktiv kembali di keuangan,” sahut Imelda. Dia tak boleh ceroboh. Harus sabar menanti waktu. Toh sekarang sudah cukup banyak uang yang dia dapat dari perusahaan Sonny.
***
“Ini surat istirahat dokter. Saya hanya beri satu hari saja karena nona Violine tidak sakit,” Halim menerima surat istirahat dari dokter saat Vio diperbolehkan pulang.
“Kamu jaga terus didepan terasnya hingga waktu jam kerja. Nanti kamu boleh gantian pulang ketika penjaga yang saya siapkan sudah datang. Penjaga akan berjaga disana hingga kamu datang besok pagi. Dan selama jam kerja, walau Vio libur, kamu selalu standby diterasnya. Laporkan siapa saja yang datang,” Sonny kembali memberi perintah saat mengetahui Vio sudah boleh pulang dan mendapat istirahat dari dokter selama satu hari.
Vio senang bisa segera pulang. Dia berpikir habis ini bisa lari ke bank untuk membuka rekening baru yang tak terlacak oleh Sonny.
“Terima kasih pak Halim,” Vio berupaya turun dipapah pembantu rumah tangganya.
“Sama-sama mbak Vio. Saya akan berjaga disini sampai jam kantor habis dan akan digantiin penjaga malam saat saya pulang nanti,” sahut Halim santai. Dia turun dari mobil, duduk di teras dan menyalakan korek untuk menikmati asap tembakau.
‘Apa? Bahkan sekarang aku dijaga 24 jam?’ Vio sadar dirinya tak bisa lagi lari dari Sonny. Jelas sudah dia ditahan oleh tunangannya.
***
“Del, besok temani mama bicara dengan kontraktor yang menangani rehab rumah sakit ya,” Vonny menghubungi Adelia melalui direct phone di mejanya.
__ADS_1
“Jam berapa Ma?” tanya Adelia.
“Jam sembilan di ruang papa,” sahut Vonny. Seharusnya Sjahrir yang bicara, tapi besok Sjahrir ada pertemuan dengan dokter spesialis jantung dari Singapore yang berkunjung ke Indonesia dan mereka membuat janji bertemu dengan dokter spesialis dan rumah sakit lain juga.
“Oke Ma, Adel catat jadwalnya,” sahut Adelia. Lalu Adelia kembali menekuni berkas yang dia
Awalnya pertemuan akan diadakan sesudah makan siang, lalu Sjahrir minta diubah jam sembilan. Sekarang setelah diubah, Sjahrir tetap tak bisa. Alhasil maka Adelia dan Vonny lah yang harus menghadapi kontraktor itu.
***
‘Mereka ada hubungan apa? Mengapa sejak mereka dekat lalu perusahaan mulai di goyang? Apa ini alasan papa melarangku langsung menikahi Vio? Apa papa tahu sesuatu?’ dan banyak tanya yang butuh jawaban dalam benak Sonny.
Dia makin terbawa dalam pusaran tanya yang makin lama makin besar seperti angin putting beliung.
Sonny memandang berkas yang harus dia jabarkan besok. Sudah MOU tapi owner minta diterangkan ulang pada istri dan putrinya. Materi dan tenaga untuk menjalankan proyek itu sudah siap. Akan dia mulai minggu depan. Hari Senin agar mempermudah perhitungan honor pekerja kasar yang dihitung mingguan.
“Permisi Pak. Ada ibu Imelda minta bertemu,” resepsionis di lobby kantor menghubungi Sonny dengan direct phone di mejanya.
“Tanyakan apa keperluannya. Ini jam kerja. Saya sibuk dan tidak mau menggunakan waktu saya untuk beramah tamah urusan pribadi,” Sonny tegas menolak bertemu tantenya. Dia sedang curiga pada orang itu.
“Kamu koq bisa bekerja di kantor saya? Tadi saya sudah bilang, saya sibuk dan tidak mau menggunakan waktu saya untuk beramah tamah urusan pribadi. Kalau kamu tak bisa usir dia, kamu yang saya usir dari kantor saya selamanya.” Sonny langsung menutup sambungan telepon.
“Pak satpam,” resepsionis memanggil satpam di lobby yang memang selalu siap.
“Kenapa Bu?”
“Pak Sonny bilang sedang sibuk dan tak terima beramah tamah untuk urusan personal. Tapi ibu ini ngotot minta masuk. Silakan Bapak urus. Karena pak Sonny bilang kalau ibu ini sampai masuk ke ruangannya kita berdua akan dipecat.”
Tentu saja satpam tak mau dipecat. Sonny memang sangat tegas. Dia tak kenal ampun pada orang yang tak bisa kerja. Maka dengan tega satpam menarik Imelda keluar dan dia seret ke parkiran.
“Jangan merugikan orang lain. Kalau saya dan rekan-rekan sampai dipecat, anda akan saya bikin merana seumur hidup!” ancam satpam dengan tegas.
Imelda tahu satpam ini bukan hanya gertak. Karena berhubungan dengan napas dan isi perut keluarganya. ‘Siaaaal. Dia benar-benar membuat aku tak bisa bergerak. Padahal aku ingin meletakkan banyak penyadap dalam kantor ini untuk bisa mendapat info akurat,’
__ADS_1
Imelda pun masuk ke mobilnya. Dia ingin mengunjungi Vio yang hari ini masih di rumah karena mendapat surat istirahat dokter.
***
“Pak, ada ibu Imelda berkunjung,” Halim yang bertugas di rumah Violine Ayaka memberitahu Sonny.
“Dia boleh masuk bila dia menggunakan name tag yang kamu bawa. Pastikan alatnya kamu tekan lebih dulu,” jawab Sonny.
“Apa-apaan ini bertamu di rumah pribadi pakai name tag?” Imelda tak mau memakai kartu tanda pengenal tamu.
“Ibu jangan lupa. Ini rumah perusahaan. Dan mbak Violine adalah calon istri CEO. Semua tamu harus melalui prosedur baku. Atau Ibu tak boleh masuk sama sekali,” Halim pun berkata tegas.
“Mbak Vio, tadi pak Sonny bilang. Besok mbak Vio mulai masuk kerja. Dan semua rumah dinas akan dipasangi CCTV. Bukan hanya rumah ini saja. Perusahaan sedang digerogoti maling. Jadi pak Sonny bertindak bukan hanya untuk rumah ini. Harap jangan salah paham,” Halim memberitahu Vio saat gadis itu keluar untuk menemui Imelda.
“Eh saya lupa. Pak Sonny tadi bilang bu Imelda tabungannya besar banget. Pak Sonny selalu mengamati semua transaksi rekening Ibu,” kata-kata Halim membuat Vio tak mau menitipkan uangnya ke rekening Imelda. Tadinya dia berniat menitipkan ke rekening sekutunya.
‘Kalau semua transaksi rekening tante terdeteksi, bisa gawat kalau ada transferan dari rekeningku dalam jumlah besar. Bisa ketahuan Sonny,’ Vio makin kalut. Dia merasa sudah berdiri dipinggir jurang.
“Hallo Tante. Silakan masuk,” Vio bercipika cipiki dengan Imelda. Dia menerima bingkisan buah yang Imelda bawa sebagai oleh-oleh menengok orang sakit pada umumnya.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta