INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
KAWAN LAMA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Ini kenapa digabung," tanya Jeffry atau kalau di kantor sekarang dipanggil dengan nama aslinya yaitu Jafar.



Jeffry menunjukkan lembaran kertas yang habis dia koreksi.



"Kalau menurut Mbak Sashi seperti itu,"  jawab Mulan pelan. 



"Sashi masuk tim kita nggak?" Nanti yang bertanggung jawab kan kita bukan Sashi," lanjut Jeffry lagi.



"Masukkan atau usulan dari semua orang itu baik dan bagus, tapi nggak langsung kita masukin di berkas laporan," Jeffry  terus bicara.



"Gabung kan semua masukan atau usulan dalam kumpulan tersendiri. Nanti baru kita bahas. Kalau keterima baru kita aplikasi di data kita," Jeffry benar-benar kesal terhadap pola kerja yang tidak sistematis.



"Jadi aku salah?" Tanya Mulan pelan.



"Sebagai ahli hukum anda pasti tahu salah atau tidak. Kita satu team walau dari bidang yang beda tapi kan mengerjakan proyek yang sama."



"Siapa yang mau bertanggung jawab kalau kita dimarahi karena kesalahan salah satu dari kita seperti ini?" 



"Semua pasti enggak mau suruh tanggung jawab. Giliran enak semua mau ikutan ngerasain. Itu sebabnya kita harus cegah agar enggak dimarahin."  Jeffry sengaja bicara fakta.



"Kalau nggak mau disalahin ya jangan digabungin."



"Nanti digabunginnya belakangan kalau sudah dirapatkan. Sebelum kita bahas jangan dimasukkan."



 "Kalau saat rapat usulan itu diterima, kita revisi sesuai keputusan rapat."



"Kamu kenapa sih, lagi PMS ya koq ngomel2 begitu," protes Mulan.



"Kita lagi deadline kita harus mempertanggungjawabkan semua yang kita kerjakan. Saat saya komplain kamu bilang saya PMS?"



"Hei di mana logika kamu?" tanya Jeffry.



Lalu dia meninggalkan berkas di mejanya Mulan. Agus dan Menik serta Wulan yang melihat kejadian itu hanya diam. Sementara Resty sedang ke ruang bu Dwi Haryani. 



Agus yang melihat keributan itu diam aja karena memang semua salah Mulan.



Selama ini orang agak enggan menegur Mulan, karena dia adalah keponakan atau anak angkatnya Dwi Haryani.



Tak ada yang berani ngomel seperti itu. Biasanya mereka menegur saat meeting. Itu pun dengan lembut tidak ngomel seperti Jeffry tadi.



Jeffry kembali ke mejanya lalu meneliti berkas yang ada. Jeffry mencoret-coret yang tidak sesuai dan dia tulisi pula dengan sarannya. Semua itu dikerjakan menggunakan pensil bukan pulpen apalagi bolpoin dengan tinta merah.


\*\*\*



"Lu lagi kenapa?" tanya  Agus. Kadang mereka ber saya kamu, tapi kadang elo gue. Suka-suka mereka lah.



"Enggak kenapa-kenapa," balas Jeffry datar.



"Rasanya diluar akal sehat aja kalau kita kerja hanya cepet selesai dan berdasar saran orang. Kita lagi kepepet gini, dia malah kerja atas dasar itu. Nanti yang disalahin kalau itu dipakai kan kita semua bukan cuma dia atau pemberi saran."



"Kalau kalian mau ambil atau pakai saran orang dari luar team tanpa diskusi dengan semua anggota, silakan aja. Gue nggak ikut campur dan enggak mau tanggung jawab," jelas Jeffry panjang lebar.



"Iya bener juga, gua ngertiin sih," balas Agus.



"Ya iyalah! Kita kepepet! ini waktunya udah kepepet banget. Kerja buru-buru lalu dimaki-maki! Gua nggak mau!" 



"Iya Iya gua ngerti," sahit Agus lagi.



"Ya udah ngapain lu ke sini lagi?" Usir Jeffry.



"Tanya doang," balas Agus tapa merasa bersalah.



"Tadi udah dapat jawaban gue kan? Sekarang ngapain masih di depan meja gue?"



"Eh …," kata Agus lalu dia meninggalkan mejanya Jafar yang sekarang tambah sewot.


\*\*\*


__ADS_1


"Zahra!" Sapa seorang lelaki yang mengantar perempuan hamil ke ruangan Adelia.



Adel bingung mengngat-ingat siapa lelaki yang memanggilnya dengan nama Zahra.



Semua teman sekolahnya sejak TK hingga SMA menyebut dengan nama itu. Dulu sejak TK Sjahrir menulis A.Zahra di sampul buku atau alat tulis milik Adel. Karena saat TK ada dua teman Adel yang juga bernama Adelia.



"Siapa ya? Maaf dengan siapa?" Tanya Adel dengan bingung karena tak merasa kenal dengan sosok lelaki ini.



"Kamu lupa aku?" Tanya lelaki itu dengan pedenya.



"Maaf Pak saya lupa," balas Adelia lama.



"Aku Bastian, kakak kelas kamu waktu SMA dulu. Kita satu club pecinta alam," sahut lelaki itu.



"Bastian? Bastian yang pecinta alam?" Adel masih belum ingat.



"Oh iya Kak Bastian aku ingat ," akhirnya Adel ingat seperti apa sosok itu saat SMA dulu.



"Apa kabar Kak?" Adelia berbasa basi.



"Alhamdulillah, ini istrinya anak ke berapa ya Ibu?" Lanjut Adelia lagi. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan hari ini.



"Bukan, dia adik saya, bukan istri saya," kata Bastian cepat.



Wajah perempuan itu langsung sedih. 



"Maaf ya Bu saya nggak ngerti. Maaf ya," Adelia kembali mengucap kata itu. 



"Enggak apa apa Dokter," balas perempuan yang di data pasien bernama Fitriani itu.



"Oke sekarang kita lihat, ini baru cek pertama ke sini ya Bu,"  Adelia memperhatikan data pasien baru itu.



"Iya Dokter."



"Kalau dari data terakhir mensnya,  ini sudah masuk 16 Minggu."



"16 Minggu baru cek pertama ke sini."




"Oke silakan berbaring diranjang periksa dibantu suster  Bu." Adelia meminta suster membantu Fitriani.



Adelia memeriksa ibu hamil itu. "Untuk kehamilan 16 Minggu, panjangnya pas bagus, berat bayinya juga pas."



"Selama ini ada keluhan?" Adelia memindah-mindah alat ditangannya seakan mencari sesuatu.



"Enggak ada Dok," jawab Fitriani.



"Ibu ini belum kelihatan ya jenis kelaminnya. Biasanya 16 Minggu ada yang sudah bisa kita lihat. Tapi dia masih ngumpet nih," kata Adelia.



"Mungkin bulan depan kita bisa lihat," Adelia meletakan alatnya dan segera mencuci tangan.



"Ayo kita kembali ke meja ya," ajak Adelia. Suster membantu pasien turun dari ranjang.



"Saat awal kehamilan apa merasakan muntah-muntah mual dan sebagainya?"



"Enggak Dokter, saya biasa aja kok."



"Saya hanya kasih vitamin saja ya. Ini semua untuk kebutuhan pertumbuhan bayi. Semoga bisa terkejar karena fase pertumbuhan awalnya tidak terpantau oleh saya."  Adelia menuliskan resep vitamin ibu hamil.



"Semoga sehat terus ya Bu. Ssampai saat melahirkan nanti."



"Aamiiin. Iya Dokter.  Kalau kak Tian mau ngobrol dulu nggak apa-apa."



"Enggak, nggak apa apa. Enggak usah. Nanti ganggu pasien lain. Nanti aja ngobrolnya kalau sudah selesai periksa," sahut Bastian.



"Ibu Fitriani ini pasien terakhir hari ini kok Pak," kata suster.



"Oh iya kah? Boleh ngobrol sebentar Zahra," tanya Bastian.



Fitriani keluar, dia memberi waktu kalau kakaknya ingin bicara dengan teman lamanya itu.

__ADS_1



"Zahra, aku boleh minta nomor teleponmu?" Pinta Bastian.



"Boleh kak," Adelia memberikan kartu nama yang terletak di meja. Dikartu nama ada nomor ponselnya kerja bukan nomor ponsel pribadi.



"Maaf Zahra, kakak cuma mau kasih tau takutnya adikku ikut trauma."



"Saat kehamilan awal, adik saya sama suaminya dan ibu mertuanya kecelakaan. Yang selamat cuma dia. Itu alasan dia nggak pernah periksa hamil."



"Sampai minggu kemarin mamaku ambil tanggung jawab dan membawanya ke Jakarta dan tinggal sama mama. Gitu loh maka dia nggak pernah periksa."



"Aku pikir itu istrinya Kak. Kasihan kalau bayi tak dapat gizi yang baik sejak awal pembentukannya." Adelia mengerti alasan Fitriani tak pernah periksa. Mungkin merasa tak enak hamil tanpa didampingi suami.



"Aku belum nikah. Nungguin kamu,"  kata Bastian santai.



"Eh enak aja ngomongnya. Baru ketemu udah langsung ngomong gitu.  Aku udah punya anak dua," jawab Adelia bercanda.



"Halah bisa aja," akhirnya mereka ngobrol sebentar lalu Bastian pamit pulang.


\*\*\*



Sejak SMA Bastian menyukai sosok gadis tomboy yang ikut di kegiatan pecinta alam.  Tapi Zahra kecil belum suka sama lawan jenis jadi dia nggak pernah merespon siapa pun.



Hobby nya belajar dan bersosialisasi tapi tidak suka pacaran sampai dia hampir selesai kuliah.



Saat hampir selesai kuliah Zahra mulai ditaksir seorang lelaki tapi sayang orang tersebut adalah duda dan beda agama sehingga Vonny mewanti-wanti agar Adelia berpikir ulang untuk dekat dengan lelaki itu, bila ingin sakit hati karena tak akan mungkin bersatu. Jadi Adelia pun mundur.


\*\*\*



Saat hendak keluar untuk makan siang ada pesan masuk ke ponsel kecil yang untuk nomor pasien.  



'*Ini nomor aku, Bastian*.' Chat yang Adelia baca seperti itu.



'*Baik Kak saya simpan*,' balas Adelia.



Adelia tak punya memori apa pun tentang Bastian. Dia hanya ingat Bastian adalah kakak kelasnya dan sama-sama di pecinta alam. Saat SMA nggak pernah ada hubungan dekat atau apa pun. Tak pernah ngobrol. Adelia hanya ingat Bastian dulu adalah ketua pecinta alam sekolahnya itu aja sih yang dia tahu dengan rambut ikal gondrong.


\*\*\*



"Kamu makan di mana Del?" tanya Vonny.



"Ini mau ke luar Ma sama  dokter Farah," kata Adelia.



"Oh ya udah. Enggak apa apa. Mama enggak perlu nunggu kamu kesini."



"Iya Ma, Adel janjian dengan Farah kepengen makan masakan Korea."


\*\*\*



Tak pernah terpikirkan oleh Adelia kalau sore itu kembali dia dapat pesan dari nomor Bastian.



'*Udah pulang ya*?' tanya Bastian.



'*Sebentar lagi kak saya mau pulang. Ada apa ya Kak*?' balas Adelia.



'Boleh *main ke rumahmu*?'Tulis Bastian.



'*Saya biasa pulang dengan ibu dan bapak saya dan saya kasih tahu ini nomornya nomor rumah sakit ya Kak di luar jam kerja nomor ini off*,' Adelia dia tak ingin disalahkan bila Bastian chat lalu dia tak cepat respon. 



'*Kalau gitu Kakak minta nomor personalmu*,' pinta Bastian.



'*Maaf Kak kalau untuk urusan pasien ke nomor ini*,' balas Adelia.



'*Aku kan berhubungan sama kamu bukan nama pasien*,' elak Bastian.



'*Ya nanti-nanti aja lah Kak. Sekarang saya mau beres-beres dulu ya*.' Adelia langsung mematikan nomor itu lalu dia segera bersiap pulang.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING ya.



![](contribute/fiction/6262777/markdown/10636434/1677569047967.jpg)

__ADS_1



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING itu ya.


__ADS_2