INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
TIBA DI BADUNG


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Pak sudah mau sampai," Mukti merasa ada yang menggoyang lengannya.



"Kenapa" tanya Mukti setengah sadar.



"Itu Pak, barusan dikasih tahu udah sampai. Eh sudah mau sampai," Komang Ayu memberitahu pengumuman dari pengeras suara kalau penumpang diminta bersiap-siap dan kembali menggunakan sabuk pengamannya karena pesawat siap mendarat.



"Baiklah. Oke terima kasih ya. Lumayan bisa tidur satu setengah jam," kata Mukti.



Memang pramugari sudah memberitahu bahwa pesawat akan landing.



"Kamu nggak tidur?" tanya Mukti.



"Enggak Pak saya kalau takut nggak bisa tidur." 



Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat. Begitu turun dari pesawat Mukti langsung menyalakan ponselnya.



"Sudah di mana?" tanya Mukti.



"Sudah di lobby  kedatangan Pak." balas orang diujung telepon.



"Kamu enggak pakai mobil sportku kan? Aku sudah minta kamu pakai mobil yang bisa bawa lebih dari satu orang kan?" Mukti memastikan kalau dia tak lupa memerintah jangan pakai mobil sport miliknya.



"Iya, saya pakai mobil yang biasa dipakai den Aksa," jawab orang itu.



"Oke tunggu aku," perintah Mukti.



"Ayo kamu ikut sampai ketempatku nanti kamu diantar oleh sopirku aja ke tempatmu karena rupanya aku harus ke Badung!"



Memang  tadi Mukti langsung minta sopir menjemputnya dengan mobil rental milik Sonny di bandara lalu minta diantarkan ke Badung karena beberapa teman meminta mereka ngumpul di Badung dulu siang ini.



Menerima permintaan itu Mukti langsung minta semua rekannya hari ini menuju Badung saja karena dia ada di sana ada urusan di sana. Nanti semua rekan termasuk Made yang akan tergabung dalam paguyuban seniman Bali akan bertemu dirinya di galery.


\*\*\*

__ADS_1



"Ini galeri saya yang di Badung nanti temuin Sita agar dia bisa langsung mengenal kamu. Sekarang kamu turun dulu." Mukti dan Komang tiba di galery milik Mukti.



"Sebentar saya panggil Sita untuk temuin kamu." kata Mukti begitu mereka turun di galerinya.



 "Kamu turun aja sebentar nanti diantar sopir ke rumahmu."



"Tidak usah Pak. Saya bisa kok pulang sendiri. Banyak angkot dari sini menuju daerah rumah saya," tolak Komang merasa tak enak terus merepotkan Mukti.



"Sudah jangan banyak ngebantah." Mukti langsung masuk galery dibuntuti oleh Komang



"Sita mana?" tanya Mukti.



"Ada Pak sedang di kamar mandi," jawab seorang pegawai lelaki.



"Suruh ke ruangan saya cepat."



"Baik Pak."




"Kamu biasa dipanggil siapa?"



"Terserah pemanggilnya Pak. Ada yang panggil Komang. Ada yang panggil Kokom. Ada yang suka goda panggil kopyang kalau di Jakarta. Kalau di Bali sini saya biasa dipanggil Omy.



"Oke terserah orangnya ya.  Saya akan sebut kamu Komang buat semua orang, tapi saya akan panggil kamu Ayu," kata Mukti.



'*Nama Ayu itu sesuai untuk wajahmu yang Ayu*,' kata Mukti dalam hati tentunya.



"Iya Pak. Bapak manggil saya?"  Sita yang tadi dipanggil Mukti masuk ke ruangan yang memang tak ditutup oleh Mukti.



"Sita empat bulan ini saya akan jarang datang karena saya punya program untuk pameran di Solo. Kebetulan saya ketuanya."



"Kamu harus stanby saat saya tanya stock barang dan semua data."



"Baik Pak."

__ADS_1



"Lalu kakak saya akan menikah di Jakarta. Jadi saya super sibuk."



"Wah Pak Sony akan menikah?" Sita sebagai pegawai lama tentu tahu siapa kakak pak Mukti.



"Ya dua bulan lagi lamaran, tiga atau empat bulan lagi dia akan menikah."



"Saya minta kamu benar-benar bekerja yang baik."



"Ya Pak. Saya akan tetap bekerja dengan baik." Janji Sita.



"Lalu ini Komang. Hari ini mau pulang untuk pemakaman ibunya. Dia baru datang dari Jakarta. Nanti kalau sudah selesai urusannya Komang akan datang ke sini."



"Kalian saling tukar nomor ponsel saja. Kalau saya sedang sibuk lupa membalas pesannya, nanti dia langsung kerja di sini."



"Kamu juga jangan lupa beritahu saya langsung saat mau bekerja."



 "Iya Pak," lalu Komang dan Sita bertukar nomor telepon.



Buat Sita, sikap dan kelakuan Mukti seperti ini tak aneh. Banyak pegawai di galery adalah karena ditolong kerja, bukan karena melamar. Termasuk dirinya.



Sita masuk kerja saat dia butuh uang buat biaya calon suaminya yang tabrakan. Dia butuh biaya rumah sakit. Sita dan calon suami sama-sama anak yatim piatu. Ada seorang pegawai galery di Denpasar yang Sita minta bantuannya. Dan pegawai itu lapor pada Mukti.



Walau tak mengenal Sita, Mukti langsung membantu biaya rumah sakit.



Sejak itu Sita dan calon suami bekerja di Galery sebagai balas jasa pada Mukti. Gaji mereka tak dipotong karena Mukti tak menganggapnya sebagai hutang!



"Jadi jelas ya kalau saya nggak ada, kamu langsung temui Sita tapi kamu tetap kabari saya." kata Mukti 



"Baik Pak."



"Ya udah sekarang kamu langsung masuk mobil dan sopir saya akan langsung antar kamu ke rumahmu!"



"Terima kasih Pak." Komang langsung menyalami Mukti. Dia tak menyangka malah akan diantar sampai ke rumah oleh sopirnya Mukti.


\*\*\*

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR



__ADS_2