INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
TIKUS DI KANTOR ADELIA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Maaf Bu. Bisa saya perlihatkan data asli saya?” tanya Catthy sambil memegang flash disk miliknya. Napasnya tersengal karena dia berlari kecil bolak balik ke ruangan Adelia.


“Silakan,” Adelia menggeser laptopnya agar mengarah ke kursi dimana Chatty duduk.


Chatty membuka file berisi laporan bulan ini langsung di depan Adelia. “Ini Bu. Tak ada dua input data seperti itu dan jumlah yang saya buat tentu beda dengan yang tertulis disitu.”


Chatty pias. Mengapa bisa berbeda data yang ia buat dengan data laporan dari keseluruhan bagian pembelanjaan?


“Tolong kamu save data itu di laptop saya. Akan saya selidiki siapa yang membuat kecurangan. Untuk sementara kamu diam. Jangan bicara pada siapa pun walau terhadap sahabatmu. Sahabat itu tetap berpeluang menikam kita,” Adelia sudah merasakan tikaman itu. Bahkan dari sosok yang bilang mencintainya setengah mati seperti Jeffy dan dari kakak kandungnya sendiri.


“Baik Bu,” sahut Chatty. Tak lama perempuan itu keluar ruangan setelah Adelia memberi banyak pesan.


‘Aku tahu Chatty tak mungkin membuat kecurangan. Karena dia hanya berkutat dengan angka. Bukan dengan langsung pembelanjaan. Orang yang membuat kecurangan pasti yang langsung berhubungan dengan uang!’ Adelia langsung bisa menyimpukan apa yang dia lihat.


Dua item. Mungkin orang akan berpikir di angka DUA. Tapi jumlah pengeluaran dua item itu hampir enam ratus juta. Bukan jumlah yang sedikit. Kalau tiap bulan ada defisit sejumlah itu, apa rumah sakit milik ayahnya ini tak akan rugi?


***


“Kamu dari mana Chatt?” tanya kepala divisi pembelanjaan barang.


“Dari ruang bu Adelia Bu,” sahut Chatty jujur.


“Ada apa?”


“Bu Adelia menanyakan program yang saya buat untuk membuat laporan. Dia minta dibuatkan agar laporan keuangan rumah sakit secara keseluruhaan bisa dia ubah,” balas Chatty sambil memasukkan flash disk ke tempat pensilnya dan dia masukkan kembali kedalam tasnya.


‘Nanti di rumah akan aku buat back up data dalam Flash disk ini. Dan besok aku akan buat back up data semua yang ada di komputer meja dengan flash disk baru yang tadi bu Adel berikan padaku,’ Chatty duduk kembali dan mulai memasukkan data dari berkas yang sejak tadi ada di mejanya.


“Lanjutkan kerjaanmu. Lain kali kalau pergi itu pamit.”


“Baik Bu. Tadi saya dipanggil melalui pak Rico. Ibu bisa tanya beliau saja apa saya pergi atas kemauan saya sendiri atau dipanggil,” sahut Chatty.


***

__ADS_1


“Pa, ada tikus di kantor,” lapor Adelia pada Sjahrir saat makan malam kali ini.


“Mana mungkin Del. Cleaning service kita kan selalu bekerja dengan benar,” sahut Vonny tak menangkap apa yang putrinya maksudkan. Tentu saja Sjahrir dan Adelia tertawa mendengar komentar Vonny itu.


“Tikusnya dudu manis di kantor Ma,” sahut Adelia.


“Itu sebabnya Papa tak mau bagian keuangan dipegang orang lain. Papa yakin pasti banyak yang ingin menggerogoti keju di dapur,” Sjahrir mengerti maksud Adelia.


“Kalau keju mah jelas enak Pa. Ini yang digerogoti sabun laundry dan disinfectant,” sahut Adelia.


“Justru dua barang ecek-ecek itu yang rutin dibeli, kontinyu dan dalam jumlah besar,” sahut Sjahrir.


“Bener Pa,” sahut Adelia.


“Kalian bicara apa?” tanya Vonny.


“Tikus kepala hitam Ma,” sahut Adelia.


“Kecuali tikut mencit yang buat percobaan lab. Semua tikus kan kepala hitam,” sahut Vonny lagi.


“Ah Mama lemooooooooooot,” ledek Adelia.


“Astagaaaaaaa, siapa? Berapa?” Vonny langsung mendesak putrinya.


“Belum tahu Ma. Yang ketahuan baru enam ratus juta. Lagi Adel selidiki,” sahut Adelia menyudahi makan malamnya.


“Satu kali tembak enam ratus juta, woow juga ya Del.” Sjahrir juga terkejut mendengar jumlah itu.


“Eh, Abu jadi datang hari Sabtu? Dengan istrinya enggak. Mama kangen samaAmbarwati Soetiono,” Vonny memang mengenal Abu dan istrinya dengaan baik.


“Sepertinya enggak. Dia sendiri. Nanti dia kesini diantar anak sulungnya yang sering berada di Jakarta walau usahanya lebih banyak di Bandung dan Jogja. Sekarang anaknya masih di Jogja,” Sjahrir menyampaikan info yaang Abu berikan.


“Baik. Jadi hanya dua orang saja ya tamunya. Estimasi tiga orang tamulah ya. Biar masaknya enggak kekurangan atau kelebihan,” jawab Vonny.


***


Esoknya -hari Jumat- Adelia tekun mencari celah siapa yang mulai bermain dengannya. Dia selidiki semua lubang tikus. Dia telusuri semua got dan coberan bahkan sampai ke saluran air di atap untuk mengetahui sosok tikus itu.


“Pak Rico, mau salat Jumat?” tanya Adelia yang tumben langsung masuk keruang divisi keuangan.

__ADS_1


“Iya Bu, sedang bersiap, masih ada waktu sepuluh menit lagi,” jawab Rico, bahkan dia belum membuka sepatunya. Rico adalah kepala divisi perbekalan.


“Ini meja siapa? Kenapa kosong?” tanya Adelia.


“Meja bu Sarah Damara, kepala divisi pengadaan barang,” sahut Rico.


“Bu Susan kemana?” tanya Adelia melihat bendahara divisi keuangan juga tak ada di ruangan. Pak Andika bendahara gaji karyawan sedang berkutat dengan data di komputer meja miliknya.


“Saya tidak tahu Bu,” sahut Rico pelan.


“Pak Ruddy, tolong ke ruang keuangan sekarang juga,” dengan ponselnya Adelia memanggil manager HRD.


“Perhatikan ini. Jam kerja, jam sibuk di akhir bulan. Dua kepala divisi keluar tanpa anak buahnya tahu ketika saya tanya. Padahal kemarin saat saya memanggil Chatty bu Sarah menegur Chatty kalau keluar kasih tahu yang lain agar bisa menjawab kalau ditanya dia kemana.”


“Saya tak mau panjang mulut. Saya minta langsung SP 1 apa pun alasannya. Terlebih bila alasannya ada saudara di ICU atau hal lain yang mengerikan. Tak mungkin hal seperti itu tak kita kasih tahu ke rekan kerja di ruang yang sama ‘kan?” tanpa basa basi Adelia menghampiri Chatty dan meminta flash disk yang dia berikan kemarin.


Semua hanya bisa diam setelah Adelia keluar dari ruangan itu. Tak ada yang berani bicara karena kunjungan dadakan atau istilah kerennya SIDAK yang Adelia lakukan kali ini.


“Tadi flash disk apa Chatt?” tanya Rico.


“Laporan bulan ini Pak. Bu Adel bilang ingin dia cek di rumah saja,” jawab Chatty sesuai skenario yang Adelia ajarkan.


Rico tentu tak takut bila Adelia mengecek. Karena dia tak ada kesalahan atau kecurangan yang dia buat. Sebelas orang di ruangan itu masih tak percaya Adelia minta SP1 hanya karena saat sidak tak ada yang dipamiti oleh bu Susan dan bu Sarah.


“Kalian semua disini, jangan ada yang membocorkan masalah ini ke bu Susan atau bu Sarah sebelum saya memberikan SP1 tadi. Kalau kedua orang itu sudah tahu sebelum surat saya keluarkan, kalian semua akan saya beri SP juga,” Ruddy tak mau kalah tegas. Dia juga ikut mengancam sepuluh orang dalam ruangan itu sebelum dia keluar untuk bersiap salat Jumat.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL WANT TO MARRY YOU YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL WANT TO MARRY YOU ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa.


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


__ADS_2