
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Hari ini rombongan berangkat bersamaan. Mukti, Sonny, Ambar, Airlangga dan Adelia tentu juga dengan Vonny.
Mereka menggunakan dua mobil yaitu mobilnya Vonny berisi Mukti, Angga, Vonny dan Ambar juga sopir. Sedang Sonny bersama dengan Adelia di mobil sportnya Adelia.
\*\*\*
"Selamat pagi semuanya saya minta semua berdiri menyambut majelis Hakim ketua dan jajarannya akan masuk ke ruangan."
Setelah segala macam seremonial pembukaan maka sidang pun dimulai.
"Saudara penggugat silakan duduk di kursi yang telah disediakan," Sonny pun menempati kursi yang sudah dua kali dia duduki.
"Oke mohon pengacara baru memberikan surat kelengkapannya." Tonny langsung maju dan memperlihatkan kelengkapan penunjukan dirinya sebagai pengacara tambahan dari pihak Sonny dan Abu.
Keberadaan Tonny memuat ada beberapa sosok hakim jadi ketar-ketir dengan keberadaannya.
"Silakan Pak Pengacara."
__ADS_1
"Saya cuma menambahkan dua saksi saja tapi belum saya hadirkan kali ini hanya mereka sudah datang yaitu bapak Airlangga dan ibu Ambarwati." Airlangga dan Ambarwati berdiri ketika namanya disebut Tonny lalu duduk kembali.
Vio masih tenang melihat kehadiran Ambar dan Angga. Dia tak merasa.ada bahaya siap menerkamnya
"Bapak dan Ibu hakim yang terhormat."
"Perkenankan saya membacakan cerpen untuk menyudahi semua permasalahan ini sejak awal. Karena apa yang akan saya ungkap adalah kunci semua permasalahan."
"Silakan Pak Pengacara tidak usah bertele-tele dan mohon tidak melebar." Seru seorang hakim menegur Tonny.
"Saya beritahu terdakwa adalah tunangan penggugat lalu diam-diam masih berstatus tunangan dengan penggugat, terdakwa menikah siri dengan adik penggugat!"
"Bisa bayangkan betapa rendah moral terdakwa?" Sonny menggiring semua hadirin setuju dengan asumsinya.
Kalau Vio punya pengacara, tentu pengacaranya akan keberatan dengan bahasan ini.
"Jangan salahkan suami siri dan tunangannya karena mereka sama-sama tak tahu kalau dikadalin oleh terdakwa."
__ADS_1
"Dan yang lebih parah lagi terdakwa adalah boneka dari nenek dan kakek kandungnya. Dia hanya diperalat oleh nenek dan kakeknya yang hari ini sudah bersiap meninggalkan Indonesia dan akan menjebloskan cucu kandungnya sendiri di penjara. Nenek dan kakeknya pura-pura gila agar bebas lalu mereka membuat identitas baru untuk kabur."
"Saya jelaskan sekali lagi di depan semua dan satu media yang secara resmi mendapat tugas dari kepolisian untuk meliput sidang kali ini karena ada beberapa Hakim di sini yang terlibat dalam kasus ini secara langsung!"
Hakim itu akan membantu memberi hukuman sangat ringan satu atau dua tahun dengan sejumlah uang. Bukti rekaman serah terima uang sudah ada di saya karena transaksi seperti ini tentu tak mau melalui transfer bank karena mudah terlacak."
"Data hakim yang terlibat sudah ditangan polisi dan nenek serta kakek terdakwa sudah ditangkap saat akan melarikan diri meninggalkan terdakwa bodoh yang percaya pada keduanya."
"Dua pelarian itu bisa keluar dari rumah sakit jiwa karena ada surat sakti dari hakim dan bisa pindah ke rumah umum tanpa perlu masuk rutan seperti keharusan dari oleh Polisi."
Tonny lalu membuka laptopnya dan menyiarkan foto bukti saat transaksi dan terlihat para hakim yang sedang duduk bareng menerima uang dari Wahid.
Lalu ada juga foto tertangkapnya Wahid dan Menu yang sudah berpenampilan baru tentu dengan identitas baru pula.
Tentu saja media sudah mengarahkan kamera ke layar monitornya Tonny dan polisi siap di depan ruang sidang. Tak ada yang bisa keluar dari sana tanpa izin polisi.
"Sidang saya hentikan sementara." Tanpa menunggu Tonny selesai bicara hakim ketua menskors sidang. Hakim ketua tak bisa menahan marah dan malu karena ternyata jaksa PU ( penuntut umum ) dan beberapa yang lain bersekongkol dengan Wahid juga dengan Vio dan Menur.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER
__ADS_1