INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
TRAGEDI BERDARAH DI RUANG SIDANG


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Komang kamu sudah sarapan?"  tanya Mukti di belakang.



"Sudah Pak, saya sudah sarapan dan siap berangkat." Jawab Komang cepat.



"Pokoknya kamu kalau berangkat kerja itu harus sudah sarapan. Jangan sampai perutmu kosong."



"Baik Pak," lanjut Komang.



"Sudah kamu siap-siap sebentar lagi kita berangkat."



"Baik Pak saya akan tunggu di depan,"  Komang berjalan melewati pintu samping. Dia menunggu di teras depan. Pagi itu Komang memakai blus warna biru dengan celana kulot panjang dari batik dengan garis-garis  biru. Kombinasi yang manis dan sopan, tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya. Bajunya tidak terkesan murahan.



Komang tidak punya alat make up apa pun tadi dia minta bedak pada pegawai di dapur, juga dia pakai lipstik sedikit yang dia minta. 



"Nanti aku akan pamit sebentar beli alat make up sederhana dan alat mandi deh," Komang bicara sendiri sambil membaca cara membuat schedule sederhana.



"Mukti kamu pakai mobil satu aja ya," kata Ariel 



"Soalnya papamu mamamu sama eyang satu mobil nggak bisa kalau kalian ikut di mobil itu."



"Enggak apa-apa sih berlima bisa koq Om."



"Sudah kamu pakai mobil yang lain aja. Ngapain juga penuh-penuhan, kayak enggak ada mobil lain aja," Ariel tadi sudah menyuruh om Yapie menyiapkan satu mobil untuk Mukti.



"Kenapa nggak pakai mobilku aja?" kata Vonny.



"Enggak kamu langsung aja ke rumah sakit nanti jadi orang harus nganter kamu dulu ke rumah sakit baru ke pengadilan kalau pakai mobilmu. Biar ke pengadilan tetap dua mobil dengan yang dipakai Mukti."



"Kamu berangkat sendiri aku berangkat sendiri," tegas  Sjahrir.



'*Ya ampun satu rumah ini mobilnya berapa sih*?'  batin Komang.



'*Tuan, nyonya dan Bu Adel mobilnya sendiri, belum mobil yang lainnya bener-bener orang super kaya*.'



"Yang aku berangkat kerja ya,"  Adelia pamit pada Angga di teras depan.


__ADS_1


"Iya sayang hati-hati ya," Airlangga menerima salim yang Adelia berikan.



"Semoga harimu baik," lanjut  eyang Angga.



"Maaf ya eyang aku enggak bisa ke persidangan semoga sidangnya sukses." Adelia mencium tangan Angga.



"Ma sukses ya Ma. Nanti ceritain ke aku." Pinta Adelia pada Ambar. Saat itu dia menerima panggilan telepon.



"Siapkan OK, cek bank darah. Maksimal 45 menit saya akan tiba di rumah sakit." Adelia menjawab cepat.



"Ada operasi Yank?" Tanya Sonny cepat.



"Iya. Ayok semua aku kabur. Sukses buat semuaaa," Adelia bergegas masuk ke mobilnya di tempat sopir.



"Kenapa kamu yang bawa?" Protes Sonny.



"Masuk cepat, jangan debat, Adelia memasang sirine. Dia punya surat tugas dan bisa dihubungi ke rumah sakit bila ditangkap polisi. Lain kalau Sonny yang bawa mobilnya.



Komang memandang kagum pada sosok Adelia.



"Anakmu luar biasa," puji Abu.




"Pak Mukti ini kunci mobilnya. Mobil sudah saya siapkan di depan," kata Om Yappie.H.



"Makasih Om Yappie.



"Sama-sama pak Mukti."


\*\*\*



Komang memperhatikan jalan sekitar untuk mengetahui daerah rumah Adelia.



"Pak nanti pulang saya turun disini ya," pinta Komang.



"Mau apa?"



"Saya ingin beli alat mandi Pak," Komang bicara jujur.



"Ya nanti lihat kondisi," jawab Mukti ambigu. Tak jelas mengizinkan atau pun melarang.

__ADS_1


\*\*\*



Jam 08.30 Mukti, Sonny, Abu dan dua orang pengacaranya bertemu dengan Tonny. 



"Apa kondisi mental eyang Angga akan kuat bertemu istri yang telah menipunya bertahun-tahun?"



"Insya Allah kuat. Dia tentu sangat ingin bu Menur ditetapkan sebagai terdàkwa," sahut Abu.



"Insya Allah nanti ibu Menur dan pak Wahid akan di bawa ke ruang sidang dan akan ditetapkan sebagai tersangka," ujar Tonny memberi info.



"Bukti yang memberatkan sudah ada semua kan?" Abu bertanya kesiapan Tonny.



"Insya Allah siap. Kami ingin dia diberi hukuman seumur hidup,"  jawab pengacara yang lain.


\*\*\*



Sidang mulai di buka. Ambar dan Angga di tanya data diri oleh hakim untuk dicocokan dengan data yang hakim miliki.



Tak lama hakim meminta petugas membawa masuk Menur dan Wahid yang saat itu statusnya belum ditetapkan sebagai tersangka.



Menur dan Wahid masuk ruang sidang. Tak ada yang curiga pada apa yang akan terjadi.



"Silakan saudara Wahid dan saudari Menur menempati posisi yang telah disediakan agar bisa kita lanjut."



Sama seperti  Angga dan Ambar, hakim menanyakan jati diri keduanya. Saat semua sedang fokus pada Wahid, tanpa ada yang menduga Vio menerjang Menur dan terlihat banyak darah setelah Menur teriak. Entah dapat darimana, Vio membawa pisau kecil cukup runcing dan dia gunakan menikam Menur berkali kali sebelum dia menusuk lehernya sendiri!"



Kejadian tak terduga dan sangat cepat. Petugas cepat bertindak mengamankan TKP.



Tak ada yang bisa keluar atau masuk. Abu memeluk Ambar yang tak percaya melihat hal itu secara live.



Vio langsung dinyatakan MD ( mati ditempat ) sedang Menur segera dilarikan ke rumah sakit tapi dalam perjalanan nyawanya tak tertolong.


\*\*\*



"Aku enggak nyangka Vio akan nekad seperti itu," Adelia berkomentar saat mereka semua berkumpul di ruang tengah sehabis makan malam.



"Rupanya dia teramat dendam pada Menur sehingga dia nekad membunuhnya. Tapi dia tak mau dihukum berat jadi dia memilih bunuh diri," Ambar mencoba menganalisa.



"Pa, apa sudah beritahu Laksmi kalau ibunya meninggal dibunuh cucu kandungnya?" Abu mengingatkan Airlangga.



"Ya ampun. Papa sampai lupa kalau Laksmi anak dia. Papa pikir Laksmi anak Papa dan enggak ada hubungan apa pun dengan Menur." Airlangga mengambil ponselnya dan menghubungi anak kandung Menur itu.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!



__ADS_2