
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Aku dapat info Pa. Ini sih baru dengar-dengar kabar angin aja, Papa jangan kaget ya Pa," Abu mulai akan masuk ke pokok bahasan.
"Kaget kenapa? Siap buat apa?" tanya Airlangga.
"Ada yang bilang otak dibalik semua kekacauan perusahaan itu dimulai dari Mama loh Pa."
"Apa maksudmu?" suara Airlangga agak sedikit tinggi.
"Imelda dan Vio itu cuma kroco Pa. Mereka hanya pion. Mama Menur itu otaknya."
"Kami lagi cari bukti lengkapnya. Karena orang yang tahu semua itu, dan punya semua bukti belum mau kerja sama dengan pengacaraku Pa." Airlangga diam. Kalau memang ada yang punya bukti dan pengacara sudah tahu, dia mau bilang apa lagi?
"Itu sebabnya kita harus siap-siap aja kalau ternyata selama ini kita jadi mainan mama tanpa kita sadari," Abu memperingatkan papanya.
Lama mereka berdua diam dengan pikiran mereka masing-masing. Keduanya kalut memikirkan bila.memang terbukti Menur dalang semua ini.
"Kemarin Mukti ketemu sama Ambar," setelah diam lama Abu meneruskan bercerita.
"Ambar bilang ke Mukti rumah Surabaya sini mau dia jual, lalu rumah Bali itu mau dia bikin homestay gitu sih Pa," Abu melipir dulu. Tak mau langsung kasih tembakan ke Airlangga.
"Baguslah." Sahut Airlangga senang. Setidaknya tidak semua rumah dijual menantunya.
"Iya tapi Mukti sedih. Dia kan minta maaf pada mamanya. Ambar bilang dia maafin Mukti. Tapi Ambar tak akan pernah maafin mama Menur." Abu mulai mengokang senapannya. Dia mulai akan membidik papanya.
"Kan mama juga menyesal karena dia naruh Mukti. Mama nyuruh Ambar merawat Mukti, apalagi hanya itu kan masalah Ambar dan mama?" tanya Airlangga.
"Bukan soal nyuruh merawat Mukti Pa."
"Ternyata Ambar itu sejak Mukti kecil, mungkin sejak aku memperlihatkan sikap yang gak imbang antara tiga anak itu, Ambar sering mengeluh dan ngadu ke Mama."
"Ambar pikir mama mau bantu negur aku. Tapi sampai kita ribut kemarin mama nggak pernah satu kali pun negur aku soal keluhan Ambar."
"Ambar pikir kalau mama nggak negur ke aku setidaknya mama lapor ke Papa supaya Papa negur aku. Apa Papa pernah dapat laporan dari Mama soal keluhan Ambar?" Tanya Abu.
"Enggak. Enggak pernah ada keluahan Ambar yang Papa terima." Airlangga bingung dia sama sekali tak pernah tahu soal perilaku putranya yang dikeluhkan menantunya.
"Lihat Pa 28 tahun Ambar nyimpen semuanya padahal dia cerita ke Mama. Ambar sangat terluka."
"Papa tahu kenapa alasannya Mama nggak nyampein ke aku atau ke Papa?" Pancing Abu.
"Mungkin mama berpikir supaya kita nggak ribut," Airlangga berpikir positif dan simple aja.
"Tapi kan harus aku dikasih tahu dong Pa. Orang tua yang bener harusnya ngasih tahu kesalahan anaknya. *Kamu jangan berat sebelah* harusnya seperti itu Pa."
"Kenapa dia nggak bilang apa-apa?" Desak Abu.
"Nah itu Papa nggak tahu," Airlangga tak punya jawaban soal itu.
"Kuncinya satu Pa, Mama nggak ingin aku marah. Baik kalau mama negur langsung atau melalui Papa karena dia takut harta untuk Laksmi dan mama berkurang."
"Astaghfirullahaladzim," kata Airlangga.
__ADS_1
"Kamu dapat pikiran dari mana? Mama enggak seburuk itu," tolak Abu.
"Ambar punya banyak bukti bahwa selama ini uang buat rumah pun banyak diambil mama. Ada saksi lain selain Ambar Pa. Jadi aku juga harus mikir ulang pindah ke sini." Abu meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamarnya.
Airlangga berpikir ulang apa iya istrinya yang lembut bisa bersikap seperti itu? Karena selama ini dia tidak melihat sifat istrinya yang tercela.
Sejak mereka menikah Menur selaku baik nggak pernah membedakan antara Abu dan Imelda serta Laksmi.
'*Tapi kalau memang ada bukti bahwa Menur adalah otak dari penggembosan perusahaan Abu, aku harus gimana*,' pikir Airlangga.
Airlangga jadi bingung.
Airlangga yang sudah ditinggal Abu, masuk ke kamarnya. Saat itu dia melihat Menur seperti baru berbalik badan. Dan Airlangga melihat ponsel Menur wallpapernya masih terang seperti habis dipakai mengirim chat atau bicara.
Siapa yang pakai sedang Menur no respon pada apa pun? Saat Airlangga membaringkan Menur handphone ada di atas meja dekat lampu tidur. Sekarang ponsel berada di atas lemari headboard.
Airlangga langsung mengambil ponsel itu.
"Siapa yang nelpon sih kasihan orang lagi sakit," kata Airlangga pura-pura tak curiga.
Airlangga melihat ponsel belum terkunci, artinya memang baru dibuka.
Selama ini Airlangga tak pernah tahu kunci wallpaper ponsel Ambar.
Airlangga melihat ada pesan terkirim dua menit untuk nomor Y dan Z hanya kode itu nama kontak terakhir.
'*No respon pada apa pun. Tapi koq dia bisa kirim chat*?'
"Abu … Abuuuuu," panggil Airlangga sedikit berteriak.
Abu yang baru masuk kamarnya kaget dipanggil oleh Airlangga.
"Kenapa Pa?"
"Lihat baru ada orang kirim chat," kata Airlangga.
"Padahal kan mama sakit nggak ngerespon apa pun tapi ini chat baru terkirim dan jejak lalu langsung dihapus jadi nggak ada bukti apa pun soal isi chat."
"Cuma ada tulisan chat dihapus," seru Airlangga.
"Kelihatan kan Pa bawa selama ini kita dibodoh-bodohin Pa. Memang chat ini nggak ada yang bisa terlacak orang Semuanya dihapus tapi kan baru dihapus Pa. Ini bukti selama ini mama enggak sakit. Dokter yang datang dan ahli hypno itu pasti kerjasama. Karena teraphys hypno yang seharusnya bukan laki-laki tapi perempuan Pa!"
"Jelaskan aku nggak bohong Pa. 28 tahun kita ditipu." Sesal Abu.
"Kalau dia menipuku sejak awal ya nggak 28 tahun lah. Kami menikah sudah hampir 50 tahun."
"Sekarang terserah papa lah setelah tahu kita di bodoh-bodohin. Berarti dokternya juga itu kerjasama paling dokternya suntik vitamin."
"Sekarang ponsel diambil aja Pa. Biar nggak bisa komunikasi. Kita putus jalurnya. Biar nanti kalau ada pesan atau telepon masuk aku yang pegang Pa," Abu bersikap tegas.
"Iya pegang aja sama kamu," Abu langsung mengganti kunci teleponnya. Seandainya Menur buka pun tak akan bisa. Sidik jari sudah dia ganti juga.
"Kita masih pura-pura enggak tahu dulu. Papa mau cari cara buat jebak dia," kata Airlangga geram.
__ADS_1
"Iya Pa. Aku akan ikuti permainan Papa," jawab Abu.
Airlangga kembali ke kamarnya Airlangga berniat mulai besok akan menyimpan surat berharganya dan dia tak mau minum atau makan sembarangan agar tidak diberi obat oleh Menur.
Airlangga juga menyimpan ponselnya selalu di dalam sakunya nggak mau geletak agar tak disalahgunakan istrinya.
\*\*\*
"Kenapa Pa?" tanya Mukti begitu papanya menghubungi.
"Kami habis nangkap bandit," kata Abu.
"Maksud Papa gimana?" Mukti malah tak mengerti apa maksud Abu.
"Kamu tahu kan eyang Menur bagaimana kondisinya? No respon kan? " Abu menggiring pikiran putranya.
"Iya Pa," kata Mukti. Sejak di rumah sakit, selama perjalanan ke Surabaya. Bahkan setiba di rumah Surabaya eyang Menur memang tak ada respon apa pun.
"Barusan eyang Airlangga masuk ke kamar. Eyang Airlangga bingung ponsel eyang Menur seperi baru aja dipakai. Di situ terlihat ada chat yang baru dihapus. Eyang Airrlangga langsung keluar bawa ponsel itu. Sekarang ponselnya ada di Papa.
"Kalau eyang Menur nggak bisa ngerespon masa ada Chat baru dihapus padahal di kamar itu juga enggak ada orang."
"Papa udah ganti passwordnya jadi kalau buka layar kodenya udah berubah. Eyang Menur pun enggak akan bisa mbuka lagi."
"Jelas sakitnya pura-pura kalau sakit kan dia nggak akan kena kalau ada kasus!"
"Iya ya Pa. Dia enggak akan bisa dituntut akan tindak kejahatan."
"Iyalah orang sakit jiwa kan nanti bisa diminta rekomendasi ke rumah sakit agar nggak bisa diadili nggak bisa dipenjara," sahut Abu.
"Wah licik banget ya Pa."
"Nah itulah. Eyang Airrlangga langsung kaget saat Papa bilang itu sekarang." Jelas Abu.
"Rasanya cium kaki mama tuh belum ada artinya dengan lukanya mama ya Pa." Mukti menyadari bagaimana penderitaan Ambar selama ini.
"Rasanya Papa juga mau minta maaf khusus ke Mama. Papa mau jelasin semuanya. Selama ini kita di kadalin sama eyang Menur," kata Abu.
"Iya Pa nanti pas Aksa udah selesai ujian kita langsung aja Pa," ajak Mukti.
"Kita bilang dulu sama mas Sonny Pa. Kita ceritain tentang kakuan eyang Menur selama ini. Nanti kalau mas Sonny kasih jalan baru kita ketemu mama.," Mukti memberi saran agar .ereka tak langsung menemui Ambar.
"Oke lusa kita ketemu aja di Jogja. mumpung Mama masih di Bali." Usul Abu.
"Siap kita ketemu di Jogja aja," Abu dan Mukti pun janjian jam dan tempatnya untuk bertemu di Jogja.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.
__ADS_1