INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
KECURIGAAN ADELIA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Kamu dari mana sih Dek,"  Sonny bertanya pada Mukti yang baru menghampirinya.



"Tadi aku ke WC, makanya aku lari begitu selesai sidang. Perutku Nggak enak," ungkap Mukti beralibi.



"Kamu masuk angin?" kata Adelia.



'*Aduh aku lupa kakak iparku kan dokter! Walau dia dokter kandungan spesialisasinya sekarang,  tapi kan pernah jadi dokter umum sebelumnya*.'



"Aku enggak tahu,  tapi mungkin juga sih. Pokoknya aku cuma kebelet aja tadi. Jadi aku lari,"  kata Mukti.



"Mas kira kamu ngejar Vio,"  tuduh Sonny.



"Ngapain aku ngejar dia Mas?"



" Aku akui sampai saat ini aku masih mencintai dia, itu tak bisa aku pungkiri. Dia wanita pertama dan satu-satunya hingga saat ini."



"Inget ya hingga saat ini,  next time aku nggak tahu tapi aku tidak akan pernah mungkin menemuinya lagi untuk bicara.  Aku tak akan mungkin menemuinya lagi untuk berbaik hati, aku tak akan mungkin menemuinya lagi untuk memberi dia toleransi."



"Dia pembunuh Mas, inget itu,  tak ada maaf untuk seorang pembunuh.  Lebih-lebih orang yang membunuh anaknya sendiri."



"Mas bisa bayangkan kalau itu terjadi pada istri Mas, apa yang akan Mas lakukan?"



"Mungkin aku cekek sekalian dianya!" Jawab Sonny geram membayangkan bila istrinya membunuh anak-anaknya.



"Nah kita juga jadi pembunuh kan? Itu yang aku tidak mau Mas. Aku tidak mau jadi pembunuh,  jadi kubiarkan dia jauh dari aku.  Jadi mohon jangan pernah berpikir aku akan mendekati Vio lagi."


__ADS_1


"Sampai kapan pun tak akan mungkin ada pengampunan buat pembunuh anak kandung. Itu pendapatku, aku tak peduli pendapat  orang lain. Banyak orang yang suka nyampurin urusan orang lain. Yang penting untuk aku seperti itu keputusanku," kata Mukti tegas.


\*\*\*



"Ya udah, enggak usah kita bahas sosok yang membuat kita jadi makin sebal."



"Jadi?"



"Jadilah."



"Mukti kita mampir ke toko undangan dulu sebentar ya," pinta Sonny.



"Mau apa?"



"Aku mau merancang undangan pernikahan kami nanti."



"Aku yang buatin aja,  malah tulisannya lebih artistik," ucap Mukti menawarkan jasa merancang design undangan bagi Adelia dan Sonny.




"Oke aku setuju sekarang jadi kita ke mana?" Ta ya Sonny.



"Ke mana ya?  Makan es krim gimana?"



"Oke nggak nolak."



"Kita hilangkan jenuh, kita makan es krim aja, " ajak Adelia.


\*\*\*



"Gimana kabarnya eyang Menur? Apa kalian sudah pernah ngecek?" tanya Adelia.


__ADS_1


"Belum,"  jawab Sonny.



"Ngapain ngecek dia? Kurang kerjaan?" jawab Mukti.



"Ya nggak gitu juga, tapi kan dia lama loh jadi eyangnya kalian." Adelia berupaya mengikis kebencian dalam keluarga om Abu terhadap kelakuan Menur.



" Dia lama menikam kami itu yang pasti  bukan lama  jadi eyang kami,"  kata Mukti.



"Dia sutradara pembuat luka bernanah di dalam otakku."



\*Wah aku salah dong nanya soal eyang Menur," Adelia jadi tak enak karena suasana jadi sedikit panas



"Enggak juga sih, tapi ya memang itu faktanya," jawab Sonny.



"Kalian cek kali aja dia udah kabur. Kalian nggak ada yang tahu bisa aja kan?"



"Terus cek juga bagaimana itu bapaknya eh kakeknya Vio yang katanya di rawat karena kurang waras."



"Soalnya kayaknya Vio tuh tenang banget loh. Dia nggak ada pengacara, nggak ada Imelda tapi kok masih bisa tenang. Itu harus kalian curigai," Adelia memberi penilaian terhadap jalannya sidang tadi.



"Kita nggak kepikir ke situ!"



"Nah itu makanya kalian tuh kayak gitu, enggak lihat terdakwa tak ada kemungkinan lolos jeratan koq bisa setenang itu."



"Aku harus bilang Papa. Biar Papa nyuruh pegawainya yang di Surabaya kontrol ke rumah sakit." Sonny tak mau Vio lolos dari jeratan.



"Jangan nyepelein feelingnya perempuan."



"Oke baik ibu negara," kata Sonny.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE



__ADS_2