
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Akhirnya Abu mendatangi Ferry di hotelnya mereka duduk di lobby. Setelah berbasa basi maka Abu bertanya soal Witri pada Ferry.
"Menurut Ferry, mereka pacaran saat Witri baru naik kelas dua dan Ferry kelas tiga SMA. Sayang orang tua Witri melarang karena Witri masih kecil dan juga mereka beda keyakinan."
"Tapi ada dukungan penuh dari tante Witri yang bernama Menur. Mereka di supply uang jajan dan uang bensin untuk pergi kemana pun."
"Tante Menur itu juga bilang kesaya, dia akan selalu mendukung kami Pak," Abu memutus ceritanya.
"Jadi sejak SMA eyang Menur malah pro ke Witri?" Tanya Mukti.
"Hus, dia mamamu. Biar bagaimana pun jangan hanya sebut namanya," Sonny memperingatkan Mukti.
"Eh," balas Mukti.
"Suatu kali entah bagaimana Ferry dan Witri tidur bersama. Bapak tahu lah anak muda. Sejak hari itu kami tinggal satu kamar di rumah saya Pak. Witri kost di rumah saya. Orang tua saya tidak tahu kalau saya selalu tidur di kamar Witri."
"Sejak saat itu Fitri enggak pernah pergi kemana pun, nggak pernah pergi dengan siapa pun kecuali dengan saya Pak."
"Sampai tiba-tiba suatu siang tante Menur datang."
"Tante Menur lalu bertanya : BERHASIL?"
"Saat itu saya ada disana Pak. Tante Menur dan Witri mengira saya tidur."
"Belum cek Tante, tapi sudah telat sih. Saya dengar jawaban Witri seperti itu Pak."
"Pastikan cepat! Itu yang saya dengar. Lalu saya lihat Witri menuju toilet."
"Yes! kata Witri sekeluar dari toilet. Berhasil Tante, Berhasil. Pekik Witri kala itu."
"Oke besok eksekusinya. Begitu kata Menur pada Witri Pak."
"Siap Tante," lalu Menur pulang sambil memberi uang jajan pada Witri dalam jumlah sangat banyak."
__ADS_1
"Ferry penasaran. Eksekusi apa yang dimaksud tante Menur dan Witri. Besoknya saya ikuti Witri sejak pagi. Witri membuntuti Bapak sejak keluar kantor!"
"Ferry melihat Witri dan temannya datang ke kafe tempat Bapak sedang bertemu rekanan. Saya tahu Witri berpura-pura mabuk."
"Lalu saya melihat Witri menyerahkan alamat kamar kosnya pada Bapak. Saya lihat Bapak mengantarkan Witri."
"Saya tahu saat di cafe Witri sama sekali tak minum apa pun."
"Sesampai di kamar Bapak terengah-engah dan Bapak minum air di gelas yang berada di meja. Air putih dalam gelas kembang-kembang yang ditutupi."
"Papa ingat kejadiannya persis seperti yang Ferry ceritakan. Papa bawa Witri ke kamarnya. Karena cape Papa minum air putih di meja belajar. Namanya kost jaman dulu kan enggak ada kulkasnya." Abu menerangkan kalau perkataan Ferry benar adanya.
"Saya melihat Bapak langsung tidur atau pingsan, atau apalah saya tak tahu."
"Siapa dia? Saya bertanya ada Witri melihat Bapak tidur dikamarnya."
"Witri bilang Bapak anak tante Menur. Bapak adalah sepupunya. Witri bilang kalau tak percaya panggil tante Menur saat itu juga."
"Tentu saja saya percaya. Saat itu saya melihat Bapak berpeluh dan tersenyum puas seakan sedang berfantasi. Dan 'maaf'', saya bahkan melihat Bapak ejakulasi."
"Kami jemur angin-anginkan agar bisa Bapak gunakan lagi. Sampai pagi Bapak tak melakukan apa pun pada Witri. Malam itu seperti biasa saya dan Witri rutin melakukannya. Bapak sama sekali tak terganggu mendengar suara kegiatan kami."
"Jadi semua itu juga jebakannya eyang Menur?" Sonny geram!"
"Sejak hari itu Witri pindah kost Pak. Dia tak pernah mau lagi saya hubungi."
"Saat saya tanya apa dia hamil anak saya, Witri bilang dia sudah diantar tante Menur menggugurkan bayi kami."
"Saya bersedia jadi saksi kalau malam itu Bapak tak melakukan apa pun dengan Witri karena saat itu Bapak tak sadar."
"Saat tahu Witri membunuh anak kami, hari itu juga saya memutuskan pergi Pak."
"Jadi Ferry tak tahu kalau ada kamu Mukti. Dia juga tak tahu kalau Witri sudah tiada." Abu berkata pada Mukti.
"Aku lebih baik tidak kenal dia. Papa aku cuma Lukito Prabunegara."
__ADS_1
"Dia juga kan nggak tahu keberadaanku. Sebagai lelaki aku tidak butuh punya wali nikah, terlebih dia juga bukan muslim." Mukti memang merasa tidak perlu menambah masalah.
Bisa jadi istri Ferry akan sakit hati bila tahu keberadaannya. Bukankah tu malah bikin runyam?
"Aku nggak nyangka segitu jahatnya eyang Menur. Dia memang ingin menghancurkan rumah tangga papa sejak awal! Dan dia memupuk prajuritnya sejak Witri SMP!"
"Please Mukti. Satu kali lagi kamu tak menghormati ibumu, Mas tak mau kenal kamu. Setidaknya sebut dia dengan bu Witri, atau tante Witri bila kau tak mau menyebutnya mama," ancam Sonny.
"Maaf Mas. Maaf. Tak akan aku ulangi lagi. Aku akan sebut dia bu Witri. Karena buatku mamaku hanya Ambarwati Soetiono. Perempuan berhati bidadari yang bahkan setelah tahu siapa diriku tak pernah satu kali pun benci padaku."
"Eyang, tolong tulis tanggapan eyang ke group," Sonny bicara pada Airlangga.
'*Eyang merekam pembicaraan ini. Ini bisa buat bukti*.'
"Aku juga rekam koq eyang," sahut Sonny.
'*Tunggu kelengkapan bukti lain. Kemarin eyang 'iseng' mengambil rambut tante Laksmi. Eyang takut dia bukan anak kandung eyang*,' tulis Airlangga.
'*Ya ampuun*,' tulis Mukti.
'*Semua sabar. Sekarang cari cara agar Ambar mau memberikan semua bukti*,'
"Siap Eyang malam ini aku akan bicara dengan mama. Itu tujuanku pulang ke Bali." Sonny memberitahu pada Airlangga.
"Yang jahat itu, sutradara hamilnya Witri sampai penjebakan papa sebagai penanggung jawab kehamilan Witri adalah eyang Menur! Eyang Menur tahu benih papa sulit tumbuh maka dia nyiapin agar Witri hamil lebih dulu. Ini bener-bener bi-adab."
"Maaf Eyang. Tapi emang dia seperti itu," Sonny keqi sekali eyang Menur adalah dalang kelahiran Mukti.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.