
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Menur tak percaya kalau perbuatannya mengasihi bayi merah tak berdosa adalah kesalahan besar dalam hidupnya.
'*Selama ini aku tak menyadari kalau telah merusak hidup Ambar. Dan juga hidup semua orang yang terkait*.'
'*Aku melukai Sonny dan Aksa secara tak langsung. Aku berdosa pada mereka*.'
'*Semua berawal karena aku kasihan pada anak Abu dan Witri*!'
Menur tak menyangka rasa kasih sayang pada bayi merah tak berdosa membuat Ambar terluka seumur hidupnya.
Selama ini yang Menur tahu Ambar hanya diam dan menerima saat dia meminta Ambar memelihara bayi mungil itu.
'*Mengapa setiap Ambar mengeluh tentang kelakuan Abu aku tak pernah lapor pada mas Angga sehingga Abu ditegur*?'
'*Kalau sejak dulu aku minta Abu ditegur tentu luka Ambar cepat teratasi dan tak akan separah ini*,' pikir Menur.
'*Aku bisa membayangkan sakit yang Ambar rasakan saat menggendong Mukti ketika bayi. Pasti Ambar akan membayangkan suaminya sedang melakukan proses pembuatan bayi dengan Witri*.'
'*Bagaimana aku tak berpikir itu sejak dulu? Istri mana yang bisa dengan senyum memelihara bayi yang dia bayangkan suaminya sedang berzina dengan ibu bayi itu*?'
'*Tiga tahun Ambar merawat bayi dengan membayangkan Abi sedang bergelut bersama Witri. Pasti sangat menyakitkan*!'
'*Dan Ambar pasti lebih terluka membayangkan cinta mati Abu pada Witri sehingga tak pernah membolehkan Mukti terluka oleh Ambar*.'
Menur terpukul jiwanya, dia menangis terisak hanya terisak tapi tak bisa diam.
Airlangga melihat istrinya menangis. Dia pun tak menyangka akibatnya akan seperti ini. Ambar yang selama ini terlihat menerima dan mengasihi Mukti rupanya memendam tangis darah untuk diri sendiri.
'*Ambar memang ibarat lilin. Rela terluka dan kepanasan untuk dirinya demi menerangi sekelilingnya*.' pikir Airlangga.
__ADS_1
Menur tidak histeris hanya terisak terus.
"Sudah cukup. Mereka kan nggak pergi jauh," kata Airlangga.
"Kita masih bisa menghubunginya. Kita masih bisa mendatangi mereka" kata Airlangga lagi.
'*Mas Angga rupanya mengira aku menangis karena kepergian Ambar dan anak-anak. Dia tak tahu betapa aku sangat berdosa. Kesalahanku tak termaafkan*!'
Menur terus menyesali dirinya. Lamat-lamat dia mendengar teriakan Angga suaminya lalu semua gelap.
Airlangga memang sedang berupaya menghibur istrinya saat dia melihat tubuh Menur merosot lemas di kursi. Airlangga mendapati istrinya pingsan.
Airlangga menyuruh dua orang pegawai membantunya untuk mengangkat Menur dan dibawa ke kamar tidur.
"Eh, salah!" Airlangga langsung membatalkan panggilan yang dia lakukan.
Airlangga langsung menghubungi dokter keluarga yang ada di Bali.
Cukup lama Airlangga menunggu. Dia telah memancing agar Menur sadar dengan memberi olesan cologne di hidung istrinya. Dokter baru datang 30 menit kemudian.
"Nadinya sangat lemah. Saran saya Ibu langsung dibawa ke rumah sakit saja," kata dokterl itu.
"Lakukan yang terbaik saja," pinta Airlangga.
Airlangga memutuskan membawa Menur untuk dibawa ke rumah sakit dengan ditemani oleh dokter.
Di rumah sakit Menur langsung mendapat tindakan bantuan pernapasan dan diinfus.
\*\*\*
"Pa, telepon Papa bunyi," Mukti memberitahu Abu yang terlihat memandang layar televisi tapi dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Mukti bisa menduga kalau Abu sedang melamun. Televisi menyiarkan film kartun dora emon. Tak mungkin kan Abu menonton film itu? Kalau tom and jerry masih bisa masuk akal lah semua orang suka dengan persaingan dua makhluk beda jenis itu. Tak ada yang pernah bosan dengan pertengkaran tikus dan kucing serial kartun lawas itu.
Satu kali Mukti bicara, Abu tak mendengar. Akhirnya Mukti mengambil ponsel Abu yang sedang di charge, dan dia sentuh lengan papanya. Mukti melihat eyangnya yang menghubungi sang papa.
" Assalamualaikum Pa. Ada apa?" tanya Abu pelan.
"Kamu sedang dimana?" Airlangga bertanya lirih.
"Tentu saja aku di rumah bersama Mukti," Abu meloudspeaker volume ponselnya agar Mukti bisa ikut bicara.
"Kami di rumah Eyang," kata Mukti membenarkan posisi yang Abu katakan barusan.
"Menjelang magrib mamamu dirawat di rumah sakit," Abu langsung memikirkan Aksa yang sendirian di rumah. Padahal anak bungsunya sedang menghadapi persiapan ujian akhir SMP.
"Mama kenapa?" kata Abu.
"Siang tadi Ambar datang. Dia bercerita telah bertemu denganmu dan menceritakan juga kalau dia minta waktu satu tahun berpisah."
"Ambar lalu packing dan membawa semua barang miliknya. Ambar cerita Aksa memilih ikut dengannya daripada tinggal disini bersamamu."
"Ambar bilang pada kami, dia sangat terluka sejak disuruh merawat bayi hasil zina dirimu dan Witri. Mungkin itu yang membuat mamamu merasa sangat bersalah karena telah membuat Ambar terluka sejak mama menyuruh Ambar merawat bayi itu."
"Dokter bilang mama depresi" kata Airlangga.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.
__ADS_1