
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Selesai makan siang mereka pulang
"Baju basahnya langsung dicuci aja Vonn, nanti bau kalau kamu bawa basah ketika sampai ke Jakarta besok," saran Ambar.
"Iya aku juga mau langsung masukin cucian aja semua sama baju yang kemarin," kata Ambar.
"Aku mau cuci semua baju kotor sekalian aja koq. Bukan cuma yang basah hari ini," Vonny meminta Adelia membereskan semua baju kotor milik mereka lalu diserahkan ke laundry villa dengan layanan ekspress dua jam atau 24 jam. Toh mereka pulang besok siang. Masih keburu kalau ambil layanan laundry yang 24 jam.
Adelia segera mengerjakan perintah mamanya dan memanggil orang laundry untuk mengambil baju kotor mereka di villa milik Ambar.
Sesudahnya Adelia langsung istirahat karena sore nanti dia akan melihat sunset kembali dengan Sonny.
Siang ini Sonny sengaja mengajak Ambar dan Aksa bicara di kamar Aksa. Vonny dan Adelia sedang istirahat di kamar mereka.
"Seandainya, Mamas cuma bilang seandainya ya Ma. Ada yang bilang eyang kakung, atau eyang putri atau papa sakit bagaimana respon Mama?" Sonny membuka wacana.
"Kamu serius mau tahu jawaban Mama," pancing Ambar.
"Ya pastilah Ma, wong aku tanya kok malah ditanya balik?" Sonny terkekeh pelan.
"Aku serius tanya Mama, pengen tahu kalau mereka ada yang sakit tanggapan Mama bagaimana?" jawab Sonny dengan sabarnya.
"Kamu tahu Mama kan? Mama selalu pengen membantu semua orang terlebih dibilang dia sakit. Siapa pun itu pasti akan Mama bantu!" Ambar terdiam. Dia ingin melihat reaksi kedua putranya.
" Tapi itu dulu! Sekarang walau pun yang dibilang sakit adalah papamu mama tak akan gubris walau pun eyang putri sakit walau pun eyang kakung sakit Mama tak akan peduli!"
"Cukup. Mama tahan diri untuk tak membantu mengulurkan tangan. Mama dulu bertahan itu demi kalian. Hanya untuk kalian. Kalian mengerti semua ini."
"Sekarang Mama akan perlihatkan siapa Mama. Mama tak peduli," Ambar menerangkan dia tegas akan berubah.
"Jadi Mama nggak akan ngurusin di rumah sakit atau merawatnya Ma?" Sonny memastikan jawaban mamanya.
"Ya nggaklah. Mama bisa sih merawat dia dengan kasih sayang. Tapi itu kan dulu. Siapa pun Mama rawat aja. Tapi balasannya mereka nyakitin kalian kok. Mama adukan perbuatan papa kalian ke eyang Menur. Tapi dia diam."
"Eyang Menur tak pernah menegur papamu. Paling tidak seharusnya dia lapor pada eyang Airlangga, sehingga eyang Airlangga yang menegur papamu. Tapi tidak. Mama ditindas terus tanpa pembelaan siapa pun!"
"Mama dari dulu bertingkah laku manis itu karena untuk kalian. Agar kalian tidak perlu merasakan tumbuh tanpa orang tua lengkap!"
"Terima kasih ya Ma udah sabar bertahan buat kami," kata Aksa.
"Mama jadi sakit hati dan tertindas bertahun-tahun karena membela kepentingan kami," lelaki kecil itu semakin memperlihatkan kedewasaannya.
"Karena kalian adalah cahaya hidup Mama," jawab Ambar.
"Oke aku sudah tahu pendapat mama. Aku kasih tahu fakta yang sebenarnya : saat ini eyang Menur di rawat di rumah sakit karena depresi."
__ADS_1
"Eyang putri depresi karena mengetahui Mama jawab Mama tersiksa sejak eyang Menur menyerahkan Mukti untuk Mama rawat." Sonny berani mengucapkan fakta setelah tahu bagaimana sikap Ambar sekarang.
Karena Sonny takut saat dia jauh di Jogja ada yang tanya khabar kesehatan eyang Menur pada mamanya misal saat bertemu di pasar atau lokasi lainnya.
"Kalau depresi gitu lalu Mama harus urus dan rawat dia sepanjang hidupnya? Sedang 25 tahun dia enggak peduli terhadap perasaan Mama."
"Mama tidak akan mengorbankan diri untuk orang lain. Hidup Mama hanya buat kalian aja," jawab Ambar.
Mendengar kata-kata ini Aksa langsung memeluk Ambar dan menciumi pipi perempuan yang sangat dia hormati itu. Perempuan yang menghambakan dirinya. Membiarkan batinnya terluka agar putra-putranya tetap bahagia.
"Jadi nggak perlu tutup-tutupi dia sakit atau apa pun dari Mama. Mama tetap nggak akan sama. Mama nggak akan mungkin kembali seperti dulu. Tidak akan pernah."
"Kalau Mama masih seperti dulu, Mama tidak akan mungkin menutup rekening. Mama pasti akan tetap menerima nafkah dari papamu karena itu kewajibannya sebagai suami dan ayah kalian."
"Walau pun kamu tidak memberi nafkah Mama. Mama bisa kok bertahan dengan Aksa. Uang Mama sampai Aksa selesai kuliah masih cukup. Mama berani ambil jalan seperti ini bukan hanya dengan emosi. Mama penuh perhitungan!"
"Enggak mungkin Mamas lepas tangan buat Mama dan Aksa. Kemarin Mamas udah iris ke managemen buat mindahin uang dari usaha jetski tiap bulan akan langsung masuk ke rekening baru Mama,"
"Semua udah aku atur. Mama diam aja nggak usah tolak jatah bulanan dari usaha jetski itu semua langsung masuk rekening Mama."
Aksa melihat dua sosok dewasa di depannya dengan penuh cinta. Dia melihat kakak sulungnya teramat bertanggung jawab untuk dirinya.
Ambar tak percaya anaknya terlalu manis seperti itu.
"Makasih ya Mas," Aksa memeluk kakak sulungnya.
"Mamas nggak minta muluk-muluk Dek. Mamas cuma minta kamu jadi anak yang bener tidak terlibat dengan masalah narkoba atau kenakalan remaja. Nanti penyesalannya itu seumur hidup Dek."
"Jadi kamu harus jadi anak yang baik dan benar untuk mama bukan untuk Mas. Bukan untukmu hanya untuk mama. Bisa?" tanya Sonny pada Aksa.
"Insya Allah bisa. Aku akan jadi yang terbaik buat kalian. Aku akan memberikan prestasiku untuk kalian," Aksa menjawab tanpa keraguan.
Aksa kagum kakaknya bisa mengambil alih tanggung jawab papanya.
"Yang aku dengar Ma, eyang putri tidak dirawat di rumah sakit jiwa. Kalau yang aku dengar dari temanku yang dokter di rumah sakit, dia akan dibawa pulang ke rumah saja. Akan dirawat di rumah. Aku nggak tahu dia akan dibawa ke rumah ke sini di Bali atau balik ke Surabaya."
"Kamu tahu dia benar-benar harus dirawat di rumah sakit jiwa?" tanya Ambar tak percaya.
"Iya Ma tapi nggak dirawat di rumah sakit jiwa sih kata temanku eyang kakung memutuskan mau dirawat di rumah saja."
"Kalau saat ini Mama belum berubah berarti kan Mama yang harus merawatnya full. Karena mama menantunya pasti Mama yang urus lah. Mama punya "bayi" lagi."
"Untung Mama sudah bicara duluan pada kamu bawa Mama nggak akan mau urus bukan nggak mau urusi sebenarnya mau urus tapi mama sudah capek hati."
"Biar aja Ma biar tante Lasmi yang urus" jawab Sonny.
"Sebenarnya Mama kasihan sama tante Laksmi. Masih harus urus dua anak kecil ya nggak kecil banget tapi kan pasti mengurus dua anaknya ditambah suaminya yang sekarang mulai sakit-sakitan. Sekarang tambah pula harus merawat ibunya," Ambar masih saja memikirkan adik iparnya.
__ADS_1
"Itulah Mama," kata Aksa sambil tersenyum mengejek.
"Mama selalu mikirin orang lain tapi nggak mikir diri sendiri. Cukup nggak usah pikirin orang lain."
Aksa tahu mamanya kasihan pada tantenya.
"Iya Mama tahu. Mama hanya merasa kasihan, tapi nggak akan lagi urusin mereka," kata Ambar.
"Kalau Mama mau urus orang, Mama urus eyang Jember aja," jawab Aksa.
"Aku tahu dari Made Mukti sangat menyesal akan kepergian mama. Dia ingin minta maaf. Bagaimana bila dia datang? Ini kita wajib pikirkan," Sonny beralih topik
"Selama ini Mukti tidak bersalah. Dia tahu kalau dirinha sangat disayangi oleh papamu melebihi sayang paap ke kalian berdua. Tapi dia enggak pernah memanfaatkan hal itu untuk kepentingannya pribadi menindas kalian dan mengadukan kalian ke papa agar dia dibela kan?"
"Nah dia tidak salah kecuali untuk tindak tanduk dia pada masalh Vio!"
"Jadi kalau dia mau minta maaf, akan Mama maafin. Tapi selanjutnya nggak usah hubungi Mama. Wnggak usah ngeliatin mukanya lagi depan Mama. Cukup Mama sakit hati kalau liat muka dia. Bukan sakit hati pada Mukti, tapi sakit hati pada papa!"
"Mama minta kalian nggak dendam pada Mukti untuk kelakuan dia. Biarkan saja semuanya berlalu, kecuali masalah Vio. masalah Vio itu tidak termaafkan."
"Masalah Mukti menyembunyikan statusnya Vio dan bahkan menikahi tunangan "kakak kandungnya" itu tak termaafkan. Tapi untuk kelakuan dia sehari-hari sampai saat ini maafkanlah."
"Enggak ada kesalahan dia kok," Ambar dengan legowo menyarankan kedua anak kandungnya tidak membenci Mukti.
"Oke kalau Mama berpikir seperti itu. Aku takutnya suatu saat dia datang karena dia pernah bercerita pada Made sebelum Made pulang ke Jogja."
"Dan kalau nggak salah Made akan kembali hidup ke Bali lagi."
"Apa persoalan dia sudah selesai?" tanya Ambar.
"Kayaknya udah sih."
Sony lalu keluar dari kamar Aksa.
"Nanti sore aku mau keluar sama Adelia. Ada yang Mama mau titip?"
"Kamu mau langsung pulang atau makan malam di luar? Agar Mama bisa tau apa yang akan Mama titip." Sahut Ambar.
"Nah itu Mamas enggak bisa pastiin," jawab Sonny
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA itu ya.