
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kenapa?" tanya Ambar.
"Ma, Mama kabarin papa kalau Prilly baru saja meninggal."
"InnaliLlahi" kata Ambar.
"Ya Ma. Kabarin Papa, kalau bisa datang. Mama juga siap-siap aja pasti sebentar lagi rumah akan dipasangi tenda Ma."
"Aku khabari Mama duluan maksudnya supaya Mama nggak kaget." Ambar dan Angga memang masih berada di rumah Sjahrir sambil menunggu persidangan selesai.
"Mama akan kabari Papa. Mukti sudah kamu kabari"
"Belum Ma dia rasanya besok kembali ke Jakarta atau Solo."
"Coba kamu kabarin biar kalau bisa hari ini dia kembali kesini. Biar gimana pun dia harus menghormati Om Ariel dan tante Vonny."
"Baik Ma, aku akan kabarin Mukti. Kalau yang pasti jadwalnya dia besok dia terbang ke Jakarta atau Solo aku juga nggak ngerti. Karena kemarin dia bilang masih tentatif yang di Solo belum ada kepastian bisa bertemu dengan pejabat berwenang apa enggak."
"Ya udah kamu kabarin dulu aja."
"Ya," jawab Sonny sambil menuju ke mobil Adelia yang dia pakai selama di Jakarta.
\*\*\*
"Kenapa Mas," tanya Mukti.
__ADS_1
"Kalau bisa cari tiket sekarang juga, kakaknya Adelia meninggal satu jam lalu. Mama juga ngewanti-wanti kamu harus ngehormatin om Ariel dan tante Vonny."
"Innalillahi," kata Mukti.
"Oke aku akan upayakan tiket segera Mas," jawab Mukti.
Mukti sudah tiga hari berada di Bali harusnya besok dia kembali ke Solo tapi karena ada berita seperti ini dia akan pending masalah Solo saat ini.
Hari pertama dia di Badung, hari ke dua di Denpasar dan sekarang di Badung kembali.
Saat itu kebetulan Komang datang dengan wajah pucat, pakai sandal jepit tanpa membawa apa pun kecuali dompet dan ponselnya saja.
"Kesini kok nggak telepon?"
"Saya …."
"Saya …." Komang hanya bisa menggeleng.
"Duduk! Kamu kenapa?"
"Saya, saya …"
"Minum dulu," Sita menyodorkan air putih pada Komang.
"Kenapa gugup gitu? Ada apa?" Sita memeluk Komang untuk membuat gadis itu tenang.
"Setelah ibu dimakamkan, malamnya rumah masih rame, ada orang mau memperkosa saya kemarin di hari kedua. Untung saya ditolong oleh tetangga sebelah rumah yang curiga karena saya melempar piring dan gelas. Sekarang saya takut tinggal di rumah itu sendirian Kak karena orang itu selalu mengikuti kemana pun saya pergi." Komang bercerita ada Sita.
__ADS_1
Rupanya sejak tadi dia tak bisa cerita pada Mukti karena merasa tak nyaman.
"Apa kamu kesini dia juga ngikutin kamu?"
"Sepertinya iya kak. Aku masih lihat motornya mengikuti angkot yang aku naiki."
"Kamu juga enggak bawa apa-apa ke sini?" Tanya Mukti.
"Enggak Pak. Saya hanya bawa ponsel dan dompet saja karena saya takut."
"Lalu siapa yang jaga rumahmu?"
"Tetangga sebelah rumah."
Seperti biasa jiwa welas asih Mukti langsung tergerak. Dia tak mungkin melepas seorang gadis di mangsa orang lain.
\*\*\*
"Iya Ma. Papa akan segera cari tiket. Mama tolong telepon Aksa dan kasih tau keberangkatan mendadak Papa."
"Aksa tadi sudah Mama kirimi pesan karena dia masih di dalam kelas Pa. Tolong Papa bawakan baju koko eyang yang warna putih. Tadi eyang minta dibawakan itu."
"Tolong minta Sonny beli aja Ma. Papa malah enggak tahu bisa pulang ambil baju tidak."
"Baik Pa. Biar sekalian nanti Mama minta Sonny beli juga buat Mukti."
Ambar melihat tenda sudah mulai dipasang dan ruang tengah serta teras mulai dikosongkan. Karpet-karpet gulungan juga sudah datang entah dari mana.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ
__ADS_1