
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Mereka kembali ke hotel setelah puas makan malam dengan menu seafood dan bebakaran.
Sejak siang tadi berkali kali Rezky dapat telepon dari Nuning. Akhirnya saking kesal Rezky bilang *aku lagi menjadi pengawal calon pengantin*.
"Siapa yang mau menikah?" Tanya Nuning.
"Siapa lagi kalau bukan Adelia. Tanya aja nih ke orangnya," lalu Rezky memutar arah kamera ke arah Adelia yang memang sedang duduk bersama Sonny.
Adelia dan Sonny tak mau bicara lebih dulu pada Nuning karena mereka merasa tak berkepentingan karena Nuning enggak mau bicara juga ya udah.
"Kok nggak tanya?" kata Rezky.
"Ih kamu sih suka gitu. Terus kapan pulang ?"
"Kalau aku sih ngikutin para Bos aja kalau Bos belum pulang ya aku nggak akan pulang duluan," jawab Rezky santai.
"Terus pulangnya kapan?" kata Nuning lagi.
"Kalau bos bilang besok ya besok kalau Bos bilang lusa ya lusa karena kan aku ini perjalanan dinas walau ujungnya jalan-jalan tetap semua harus ikut pengaturan bos," kata Rezky.
"Untung kamu dokter gigi, kalau kamu dokter kandungan kamu stress punya istri Nuning." Nasihat Sjahrir setelah Rezky mengakhiri pembicaraan dengan Nuning.
"Kenapa Dok?" Rezky bingung.
"Dokter gigi tak ada panggilan darurat seperti dokter jantung dan dokter kandungan. Lebih baik kamu berpikir ulang punya calon istri yang tak mengerti pekerjaan kita."
"Benar yang kamu bilang tadi. Kamu pergi dalam rangka perjalanan dinas. Walau kita sedang jalan-jalan. Tapi ini jam kerja kan?"
"Apa yang dia kerjakan di office hour selain memantau calon suaminya? Apa dia pengangguran?" Tanya Sjahrir membuat wajah Rezky memerah.
\*\*\*
"Mas seriusan mau ke Jakarta dulu? Kenapa nggak langsung Jogja aja sih?" tanya Adelia.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu nggak suka gitu?" Sonny bertanya serius pada Adelia.
"Kan Mas juga punya pekerjaan, nanti ganggu lho," ucap Adelia.
"Pekerjaan kan aku yang ngatur. Pekerjaanku masih lebih fleksibel dari kamu. Kalau kamu kan masih ditentukan oleh faktor x misalnya pasien, atau njadwal buka praktek dan seterusnya. Kalau aku kan nggak." Jelas Sonny.
"Iya juga sih," Adelia mengerti apa yang Sonny maksud.
"Bahkan kalau aku enggak mau kerja kantoran. Income dari tiga usaha di Bali cukuplah buat makan sampai tiga turunan," seloroh Sonny.
Mereka saat ini sedang di ruang tunggu bandara cuma duduknya agak jauh dari Sjahrir dan Vonny serta Rezky.
"Terus kalau Mas langsung Jogja tukar tiketnya sekarang gitu?" Tanya Sonny.
"Enggak sih cuma tanya doang," kilah Adelia.
"Nanyanya telat. Harusnya kalau mau nanya itu kemarin."
"Ya udah, iya udah nggak usah dibahas," kata Adelia.
"Udah ah," Adelia tak ingin dibahas lagi.
"Ngomong-ngomong pekerjaanmu," kata Sonny.
"Kita harus bahas itu, Mas enggak mau kita berantem."
"Kenapa harus berantem?" tanya Adelia bingung.
"Kamu itu tulang punggung papamu kamu harus pegang rumah sakit Makanya kamu dikasih bagian keuangan."
"Kamu jadi direktur keuangan. Kamu juga punya tanggung jawab di Poli, lalu papamu juga membangun sebuah rumah sakit ibu dan anak yang pastinya buat kamu. Kalau kita nikah bagaimana itu?" Pancing Sonny.
"Siapa yang mau nikah sih Mas?"
"Please kita bicara serius," kata Sonny.
__ADS_1
"Nanti aja deh ya," tolak Adelia.
"Enggaklah, kita harus bahas dikit-dikit kita nggak boleh ribut frontal agar kita enggak gagal," Sonny bukan orang yang easy going. Dia harus perfect dalam segala hal.
"Dulu aku pernah berpikir yang jadi suamiku itu imam ku. Dan papa tahu itu. Waktu dulu di pernikahanku yang gagal, kalau suamiku bilang aku suruh berhenti bekerja aku akan berhenti."
"Dan suamiku nggak mungkin kan masuk ke rumah sakit karena dia sama dengan Mas kan?" Adelia ingatnya Jeffry itu arsitek bukan ekonom!
"Ya Allah dia ekonom dia malah bisa kan masuk ke rumah sakit. Aku lupa, dia lebih pas daripada Mas karena Mas arsitek ya."
"Aku nggak pernah mikir dia bakal masuk ke rumah sakit." Adelia memastikan tak pernah berpikir akan menarik Jeffry ke managemen rumah sakit milik Sjahrir. Karena orang tua Jeffry juga pengusaha.
"Jadi kamu nggak apa apa kalau seandainya ikut ke Jogja?"
"Kan tadi aku udah bilang aku ikut Imamku. Sudah resiko kita punya anak perempuan pasti dibawa oleh suaminya," kata Adelia.
"Baiklah nanti aku akan bilang pada papa dan Om Syahrir." Sonny penuh percaya diri seakan dia apsti diterima Adelia.
"Apa nggak bisa Mas yang pindah ke Jakarta?" Adelia terpancing dengan pembicaraan tentang masa depan mereka.
"Bisa tapi mau ngapain? Perusahaan papa aja yang di Jakarta sudah kami jual karena kami tak ingin lagi tinggal di kota ini," jelas Sonny.
"Oh iya ya."
"Kami sudah buang semua dan dilempar ke Solo."
"Iya aku tahu."
Tak lama mereka pun check in.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR ya.

__ADS_1