INFIDELITY BEFORE MARRIAGE

INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
BANTUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Imelda hendak mengambil uang cash untuk keperluannnya membeli logam mulia. Tapi dia ragu. Akhirnya dia bertanya di toko emas apa bisa membayar dengan debet card saja. Tapi dia jadi ragu juga bila mengingat rekening bank miliknya sudah di pantau oleh Sonny sang keponakan sulungnya.


Semua toko yang Imelda tanya menjawab dia bisa menggunakan kartu debet atau kartu kredit. Tentu ada biaya tambahan. Tidak seperti jika menggunakan uang cash. Tapi tetap Imelda ragu. Akhirnya dia mengambil uang cash dan membeli tiket bus untuk pulang ke Surabaya. Rumah kedua orang tuanya.


Imelda memilih naik bus agar lebih lama di jalan. Dia ingin melupakan keruwetan hidupnya. Tak mau naik travel, kereta, apalagi pesawat seperti biasa.


Mau bawa mobil sendiri, dia takut. Perjalanan jauh sendirian belum pernah dia lakukan.


***


Vonny dan Adelia merasa badan mereka segar. Pikiran apalagi.


“Kita ini mau apa Ma? Buka puasa? Karena dibilang makan malam terlalu cepat,” Adelia terkekeh sendiri. Mereka sedang di sebuah rumah makan yang menjual coto makasar.


“Terserah mo bilang apa. Pas liat rumah makan makasar, mama jadi kepengen,” jawab Vonny.  Perempuan itu pesan iga bakar, soto dan juice jambu.


Adelia memesan yang sama hanya dengan juice mangga. Mereka terus saja bercerita tanpa pernah kehabisan bahan. Tak pernah satu kali pun mereka membahas Prilly. Dalam benak masing-masing, tak ingin lawan bicara terluka bila nama itu di sebut.


“Eh, tadi yang namanya Sonny, mama kayak familiar. Seperti anak teman papa. Tapi entah teman yang mana,” Vonny seperti ingat anak teman Sjahrir.


“Ha ha ha, apa mukanya muka pasaran sehingga banyak sama nya?” tanya Adelia.


“Entahlah. Sepertinya dulu dia pemahat, koq yang ini pengusaha. Mungkin hanya mirip,” jawab Vonny.


Sementara tokoh yang jadi pembicaraan sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa kembali ngobrol dengan Adelia secara normal. Tanpa beban kesalahan karena dia tak ingin dibilang menipu. Dia jadi driver hanya sebagai upaya menjaga nama usahanya tidak buruk dimata konsumen.


***


“Pizza su bali ka balong?” tanya Vonny pada sopirnya. Sang nyonya bertanya sudah beli pizza atau belum. Vonny dan Adelia sudah masuk mobil.


“Suda Bu,” jawab sopir yang memang berasal dari Maluku. Bukan sudah, tapi suda, walau artinya sama.


“Mau kemana lagi sebelum pulang?” Sopir tak berani langsung meluncur ke rumah, takut mutar terlalu jauh.


“Kamu mau kemana Del?” tanya Vonny.


“Enggak Ma. Adel pengen tidur cepat sa.”

__ADS_1


“Cikar suda Om Japie,” pinta Vonny.


Vonny mulai terkantuk, Adelia bahkan sudah mulai masuk ke alam mimpi ketika om Japie meminggirkan mobil yang dia kendarai.


“Kenapa Om?” tanya Vonny.


“Otto goyang kapae, sepertinya ban bocor,” sahut Japie.


Dan benar, ternyata ban kempes. Japie melihat bagasi untuk melihat ban cadangan. Ternyata dua ban disana tak ada yang benar. “Sapa pake otto terakhir zenk kase batul ban lai?”


Japie kesal karena ban cadangan keduanya tak ada yang benar. Ini mobil harian Vonny. Biasa yang pakai bawa bukan dia, karena dia sopir Sjahrir. Sopir Vonny sedang izin karena istrinya mau melahirkan.


“Kanapa lai?” tanya Vonny.


“Abe zenk urus ban cadangan. Samua bocor. Zenk bisa ganti. Tunggu beta panggil Juan antar ban dolo,” sahut Japie. Dia ingin minta seorang karyawan Sjahrir lainnya untuk membawakan ban cadangan lalu nanti akan mengurus tiga ban milik mobil Vonny.


“Ada yang bisa saya bantu,” suara empuk terdengar.


“Eh nak Sonny. Ini sopir yang biasa pakai mobil tidak menambal dua ban cadangan, sehingga kami harus menunggu orang di rumah antar ban kesini,” sahut Vonny. Memang sejak tadi dia turun sedang Adelia tetap terlelap tak tahu ada kejadian apa.


“Nunggu ban datang, lalu ganti ban itu butuh waktu. Bagaimana bila Ibu saya antar saja ke rumah. Biar bapak aja yang tunggu ban datang?” tanya Sonny.


“Apa tidak merepotkan?” tanya Vonny. Tapi memang dia juga ingin segera sampai rumah.


“Tidak koq Bu. Mari saya antar,” sahut Sonny.


‘Lho, ada Adelia? Aku pikir bu Vonny sendirian saja,’ Sonny malah tak mengira ada Adelia dalam mobil itu.


Awalnya Adelia bingung mengapa harus pindah mobil. Setelah diterangkan ada yang menolong mau mengantarkan mereka ke rumah Adelia tak menolak.


‘Dia …, ah tahu gitu tadi aku menolak. Aku mending bareng om Japie sa. Daripada deng dia,’ pikir Adelia. Tapi tak etis menolak sekarang setelah tadi dia bersedia. Tentu mamanya akan curiga kalau baru sekarang dia menolak setelah melihat Sonny.


“Mari Bu,” ajak Sonny. Untung tadi dia tak menggunakan mobil sportnya jadi bisa bertiga.


“Del, ale dudu depan suda,” perintah Vonny. Sebagai orang tua dia tak enak duduk disebelah Sonny. Vonny bilang : Del kamu duduk di depan.


“Iyo Ma,” Adelia tak bisa membantah.


“Bisa kasih tahu alamatnya?” tanya Sonny pada Adelia.


“Palem Raja 3 nomor 21,” sahut Adelia.


“Pondok Indah?” tanya Tonny.

__ADS_1


“Ya.”


Hanya Sonny dan Vonny yang ngobrol. Adelia tak ikut berinteraksi. Vonny menganggap putrinya masih malas beramah tamah denga seorang lelaki mengingat dia baru patah hati. Jadi Vonny mengerti dan membiarkannya. Dia tak tahu kalau kedua orang muda ini pernah saling kenal saat di Bali.


***


“Ayo Sonn, masuk dulu,” ajak Vonny.


“Maaf Bu, saya langsung saja,” tolak Sonny. Dia tahu kedua perempuan ini ingin segera beristirahat.


“Oke, terima kasih ya. Lain kali kamu main ke sini bila saya undang ya?” pinta Vonny.


“Insya Allah Bu,” balas Sonny.


Vonny masuk ke rumah bersamaan dengan Sjahrir.


“Pulang deng sapa?” tanya Sjahrir. Melihat istri dan putrinya bukan menaiki mobil mereka.


Dengan bersungut Vonny cerita kelakuan sopirnya -Abe- yang tidak memperhatikan ban cadangan.


“Mungkin karena pas ingin ke bengkel dia lupa, karena beberapa kali kan istrinya bermasalah sejak hamil,” Sjahrir tetap berpikir jernih sebelum menilai buruk seseorang. Karena selama ini Abe terlihat sangat baik bekerja.


“Ma, besok hari Sabtu Abu mau datang kesini. Biking makang siang do,” pinta Sjahrir. Sahabatnya Abu dari Bali akan datang di hari Sabtu siang.


“Oke,” sahut Vonny.


“Del, jangang pigi ya hari Sabtu. Teman papa pemilik villa yang kamu gunakan saat menginap di uluwatu ingin bertemu denganmu,” Sjahrir memberitahu Adelia. Awalnya Abu ingin memberi kado pernikahan untuk Adelia.


Tapi ketika diceritakan musibah pernikahan Adelia, Abu ingin memberi hadiah liburan untuk menghibur anak sahabatnya. Dia ingin keluarga sahabatnya liburan bersama.


“Baik Pa,” sahut Adelia sambil masuk menuju kamarnya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL  UNCOMPLETED STORY YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL UNCOMPLETED STORY ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


__ADS_2