
Setelah pergi dari aula, Aisyah bisa sedikit bernafas lega, meskipun hukumannya belum berahir. Ia sempat mengutuki dirinya sendiri.
" bodohnya aku, kenapa aku bilang kalau Riziq adalah adiku, pantas saja teman temannya ustad Rasyid berpikir kalau aku adalah calon istrinya ustad Rasyid, bodohnya kamu Aisyah huuuh aku sungguh malu sekali " gerutu Aisyah dalam hati. Ia berjalan menuju perkebunan ia yakin kalau Riziq sekarang ada di sana.
Sesampainya di perkebunan, benar saja Riziq sedang duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu itu.
" Riziq "ucap Aisyah dengan nada datar. Seketika Riziq langsung menoleh.
" Uni " jawabnya sambil tersenyum. Aisyah sudah berdiri di samping Riziq dengan raut wajah yang agak sedikit kesal. Riziq yang sadar akan hal itu, ia malah tersenyum.
" Uni tidak apa apa kan, dia tidak memakanmu kan ? " tanya Riziq dengan nada menggoda Aisyah, membuat Aisyah mendengus kesal.
" Kenapa kau tidak bilang kalau kamu itu adiknya ustad Rasyid ? " tanya Aisyah dengan nada kesal. Riziq hanya menanggapinya dengan senyuman.
" Kenapa kau senyum ? " tanya Aisyah kembali.
" Seharusnya sejak pertama uni melihat ustad Rasyid, uni sudah harus tau kalau dia itu kakakku, uni tidak lihat wajahnya sangat mirip dengan ku ? " tutur Riziq. Membuat Aisyah mengeryit heran tak percaya dengan apa yang baru di ucapkan bocah ingusan yang ada di hadapannya itu. Pasalnya wajah Riziq berbeda dengan ustad Rasyid tak ada kemiripan sama sekali.
" Wajah kalian jelas berbeda, uni tak yakin kalau kalian itu adik kakak " ucap Aisyah menegaskan. Riziq malah tertawa.
" Uni mau bilang kalau kakaku tampan sementara aku tidak ? " tanya Riziq. Aisyah yang mendengarpun langsung tertawa. Bagaimana Riziq bisa tau dengan apa yang ada di pikirannya. Riziq langsung menatap wajah Aisyah yang kini sedang tertawa. Aisyah yang sadar akan hal itu ia langsung menutup mulutnya.
" Maaf " ucap Aisyah lirih.
__ADS_1
" Aku sadar kalau aang Rasyid lebih tampan dariku, tapi uni jangan lupa aku masih dalam masa pertumbuhan, kalau sudah dewasa aku pasti akan lebih tampan dari kakak ku. " tutur Riziq menjelaskan dengan penuh percaya diri.
Aisyah hanya mengangguk nganggukan kepalanya sambil menahan tawanya, ia merasa lucu dengan jawabannya Riziq.
" Kau tau Ziq, tadi kakakmu yang tampan itu begitu nampak sangat menakutkan, tubuh ku sampai bergetar dibuatnya apalagi ketika dia memberiku pertanyaan konyol, kupikir dia mau mengujiku dengan pelajaran matimatika. Aku merasa di buat seperti tersangka " tutur Aisyah. Riziq pun tertawa mendengar Aisyah menggerutu.
" Sudah kubilang jangan ikut campur, eh uni malah membelaku " ucap Riziq.
" Uni kan ga tega liat kamu di hukum seperti itu, besok kakakmu menyuruh kita menemuinya, dia akan memberikan kita hukuman, pendendam sekali ya kakakmu " ucap Aisyah dengan sedikit kesal. Riziq hanya tersenyum.
" Kakak ku sangat tampan, memangnya uni tidak naksir sama dia." ucap Riziq menggoda Aisyah. Wajah Aisyah langsung berubah menjadi merah, pasalnya sejak pertama bertemu ustad Rasyid ia benar benar terpesona di buatnya.
* * * *
" Masak apa Aisyah ? " tanya umi salamah lembut. Aisyah pun tersenyum.
" Aku masak sayur sop sama goreng ikan kesukaannya umi " jawab Aisyah sambil mengaduk dan memberi bumbu pada masakannya. Setelah selesai memasak umi salamah menyuruh Aisyah duduk di samping rumahnya.
" Duduklah " pinta umi Salamah. Kini Aisyah sudah duduk di samping umi. Umi terus tersenyum pada Aisyah, ia juga membelai lembut pipinya.
" Aisyah kamu mau ga jadi putrinya umi ? " ucap umi Salamah sambil membelai lembut pipinya Aisyah. Aisyah hanya tersenyum, ia tak mengerti ucapan umi salamah.
"A**pa maksud dari ucapannya umi, bukan kah semua santriwati di sini adalah putrinya. " gumam Aisyah dalam hatinya.
__ADS_1
" Umi ingin sekali punya anak perempuan dan umi seneng banget sama kamu, kamu maukan jadi anak angkatnya umi ? " tanya umi kembali. Aisyah pun tersenyum gembira .
" Umi sayang banget sama kamu, umi juga udah bicara sama bibi kamu soal ini, tidak apa apa kan umi mengangkat kamu jadi putrinya umi ? " tanya umi Salamah kembali.
Aisyah pun mengangguk antusias.
" Tapi umi, emang nya kiyai Husen mengijinkan umi, mf sebelumnya umi aku kan cuma keponakannya mang llham, pekerjaanku juga cuma penjaga kantin apa tidak masalah ? " tanya Aisyah ragu. Umi Salamah hanya tersenyum, ia tak peduli dengan setatus Aisyah yang hanya seorang penjaga kantin, ia benar benar menyayangi Aisyah seperti dia menyayangi anaknya sendiri.
Umi Salamah langsung memeluk Aisyah.
Tidak lama kemudian kiyai Husen datang bersama supir pribadinya ( mas cipto 41 th )
" Asalamualaikum " ucap kiyai Husen memberi salam.
" Waalaikumsalam " jawab Aisyah sama umi. Umi Salamah menghampiri suaminya dan langsung mencium tangan kiyai Husen.
Sementara Aisyah hanya mematung di tempat, pasalnya ini pertama kalinya ia bertemu dengan kiyai Husen pemilik pesantren ia sedikit merasa canggung.
" Abi udah pulang " tanya umi Salamah sambil tersenyum. Kiyai Husen pun ikut tersenyum pada istrinya itu. Lalu ia menatap Aisyah yang kini hanya menundukan kepalanya.
" Aisyah sini " pinta umi Salamah. Perlahan Aisyah mendekati mereka.
" Abi ini Aisyah yang sering umi ceritain " ucap umi Salamah pada suaminya. Aisyah pun tersenyum begitu juga dengan kiyai Husen.
__ADS_1
" Aisyah salam dulu sama abi. " pinta umi. Seketika itu Aisyah langsung mengatupkan tangannya pada kiysi Husen, kiyai Husen tersenyum kepada Aisyah, ia juga merasa senang dengan Aisyah karna Aisyah telah membawa perubahan pada istrinya yang dulu tak punya semangat hidup karna penyakitnya. kini tersenyum ceria dan mulai semangat menjalani sisa sisa hidupnya.