
Masih dengan Aisyah yang masih merajuk karna baju yang di belikan Riziq tidak cukup dengan ukuran tubuhnya. Riziq hanya diam sambil memandangi istrinya itu yang sedang kesal.
" Mau sampai kapan dia akan merajuk seperti itu, aku sampai bosan melihatnya berdiam diri tanpa suara sambil mengerucutkan bibirnya. Ingin rasanya aku mencomot bibirnya yang sedari tadi cemberut terus. Dan untukmu Zahira, awas kau ya, berani beraninya kau mengerjaiku. Dasar bocah semprul" gerutu Riziq dalam hati.
" Uni, mau sampai kapan kau merajuk begitu?" tanya Riziq heran.
" Aku masih kesal sama warisanmu itu Le" ucap Aisyah.
" Biarkan saja, nanti dia ku beri hukuman. Ya sudah, besok saat aku sudah pulang mengajar, kita pergi ke pasar, kita beli baju, sekalian kita beli keperluan untuk liburan ke Jakarta" ucap Riziq. Seketika Aisyah langsung tersenyum.
" Benarkah?, kau tidak bohong Le?" tanya Aisyah memastikan.
" Hmmm"
Aisyah pun tersenyum senang.
" Kau tidak merajuk lagi uni?" tanya Riziq. Aisyah pun menggeleng gelengkan kepalanya. Hingga Riziq mengeryitkan keningnya.
" Dasar si uni, merajuknya sembuh karna mau di ajak pergi ke pasar, tapi aneh, biasanya dia tidak suka shoping. Entah kenapa aku menaruh curiga" batin Riziq.
" Kau ke pasar mau membeli baju gamis 10 biji ?" tanya Riziq.
" E eeeee, sebenarnya uni tidak terlalu tertarik dengan gamis yang akan kau belikan"
" Lalu?" tanya Riziq penasaran.
" Aku ingin membeli sesuatu yang lain" ucap Aisyah.
" Sesuatu?"
" Hmmm, sesuatu" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum.
"Si uni gelagatnya sudah mencurigakan nih, kira kira, dia minta di belikan apa ya. Kenapa perasaanku tidak enak begini" batin Riziq.
" Kalau boleh tau, sesuatu itu apa uni?" tanya Riziq penasaran.
" Ada deh, kau siapkan saja dananya, sepertinya akan sedikit menguras dompetmu" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum.
"Benarkah?" tanya Riziq tak percaya.
" Hmmm, angka nolnya sekitar 6 biji" jawab Aisyah sedikit menakut nakuti.
" Kau mau membuatku bangrut uni" ucap Riziq sambil memicingkan matanya. Aisyah sudah menahan tawanya melihat ekspresi wajah suaminya itu.
" Uni kau belum ngantuk?" tanya Riziq. Mendengar pertanyaan suaminya, Aisyah langsung memicingkan matanya. Melihat reaksi mimik wajah istrinya itu Riziq malah tersenyum.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Riziq sambil tersenyum senyum.
" Kau jangan macam macam ya Le" ucap Aisyah sedikit mengancam. Kini Riziq malah tertawa.
" Aku kan belum balas dendam padamu uni" ucap Riziq sambil bersandar di pinggiran kursi.
" Balas dendam?, balas dendam apa Le?" tanya Aisyah tak mengerti.
" Kau lupa ya uni, bukankah kau pernah menggigit tanganku"
Aisyah pun mulai mengingat saat ia menggigit tangan suaminya itu. Perlahan Aisyah pun tersenyum malu.
" Kenapa kau senyum senyum begitu?, apa kau sudah ingat?" tanya Riziq.
" Le, ingatanmu kuat sekali ya, padahal aku sudah lupa"
" Kau lihat tanganku ini uni, bekas gigitanmu masih adakan. Sudah seperti tato di tanganku" ucap Riziq sambil memperlihatkan bekas gigitan Aisyah di tangannya. Aisyah sudah tersenyum malu.
" Maaf Le"
" Sepertinya kau terobsesi menjadi seorang vampir ya?" tanya Riziq hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.
" Aku minta maaf Le, tapi kau tidak akan menggigit tanganku sebagai balas dendamkan?" tanya Aisyah sedikit takut.
" Tentu saja aku tidak akan menggigit tanganmu" ucap Riziq tegas. Seketika Aisyah langsung tersenyum.
" Alhamdulilah" ucap Aisyah lega.
" Aku memang tidak akan menggigit tanganmu, tapi aku akan menggigit yang lain" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Aisyah yang mendengarpun langsung bergidik ngeri.
" Le, kau jangan macam macam ya" ucap Aisyah penuh kewaspadaan. Riziq sudah merasa geli dan gemas melihat ketakutan istrinya.
" Uni boleh aku tanya sesuatu?" ucap Riziq yang kini sudah tidur di pangkuan Aisyah di ruang tamu.
" Apa?"
" Kemarinkan saat aku tidak sengaja merobek baju gamismu hingga robek sejengkal di bagian bawah, kau minta ganti rugi dengan harus membelikan gamis lagi 10 kali lipat"
" Hmmm, lalu?" tanya Aisyah.
" Kalau sekarang aku sengaja merobek baju gamismu dari bawah hingga ke pundak, lalu kau mau minta ganti rugi apa padaku?" ucap Riziq memberi pertanyaan tak masuk akal pada istrinya. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya.
" Kau mau merobek bajuku dari bawah hingga pundak?" tanya Aisyah memastikan.
" Hmmm"
" Keningmu tidak anget kan Le. Kalau kau mau merobek bajuku dari bawah sampai ke pundak, itu artinya kau mau menelanjangiku, dasar mesum" tutur Aisyah. Riziq malah tertawa tawa.
" Kalau aku merobeknya tidak boleh, lalu kalau menyingkapnya sampai ke pundak boleh tidak?" tanya Riziq menggoda Aisyah.
" Kau jangan macam macam ya Le"
__ADS_1
" Kalau aku mau macam macam, memangnya kau mau apa?" tanya Riziq. Aisyah sudah nampak ketakutan.
* * * * * *
Keesokan harinya. Setelah pulang mengajar, Riziq pun segera pulang karna ia sudah punya janji dengan istrinya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Aisyah pun tersenyum lalu mencium tangan suaminya itu. Tak lupa Riziq pun mencium keningnya Aisyah. Setelah beristirahat sebentar, Riziq pun mengajak Aisyah untuk segera bersiap.
" Uni, kau sudah siap belum, katanya kita mau ke pasar. Jangan terlalu sore, kasian anak anak" pinta Riziq.
" Aku siap Le, ayo berangkat" ucap Aisyah penuh semangat.
" Si uni nampak semangat begitu, dia memang benar benar ingin menguras isi dompetku" batin Riziq.
Aisyah sudah menaruh Adam dan Hawa kekereta bayinya.
" Anak anak umi yang manis, kita akan pergi ke pasar, jangan rewel ya" ucap Aisyah pada anak anaknya.
" Anak anak pasti anteng dan gak akan rewel, yang bakalan rewel itu ayahnya, jika kau benar benar menguras semua isi dompetku" ucap Riziq sambil menggerutu. Hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.
" Ya sudah ayo kita berangkat" pinta Aisyah. Mereka pun berjalan menuju gerbang depan. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Umi Fadlun dan Zahira.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Zahira sudah menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh umi Fadlun karna takut kena omel Aisyah dan Riziq atas semua perbuatannya kemarin.
" Kalian mau kemana?" tanya umi Fadlun.
" Kami mau ke pasar umi, ada yang harus dibeli" jawab Aisyah. Riziq sudah memicingkan matanya pada Zahira. Zahira nampak semakin ketakutan.
" Sepertinya ka Riziq masih marah nih padaku, duuuh, pendendam sekali dia" gumam Zahira pelan.
" Oh kalian mau ke pasar ya, boleh umi ikut?" tanya umi Fadlun penuh harap.
" Tentu umi" jawab Aisyah sambil tersenyum. Umi Salamah pun tersenyum senang,
" Ira kau mau ikut umi tidak?" tanya umi Salamah pada Zahira. Seketika Zahira nampak sangat senang.
" Aku mau ikut umi" ucap Zahira antusias.
Seketika Riziq langsung menarik Zahira dan sedikit menjauh dari posisinya umi Fadlun.
" Kau dengar ya Ira, aku masih kesal padamu, kau boleh ikut tapi jangan macam macam, apalagi minta ini itu, kau boleh ikut dengan satu syarat" ucap Riziq. Hingga Zahira mengeryitkan keningnya.
" Pake syarat syarat segala kaya mau ngelamar pekerjaan saja" gerutu Zahira.
" Kau mau ikut tidak?" tanya Riziq memastikan.
" Kau harus menjaga Adam dan Hawa, dari berangkat sampai kita pulang nanti" tutur Riziq. Zahira sudah cemberut.
" Kenapa kau cemberut gitu?" tanya Riziq.
" Lagi lagi aku jadi b* * i siter, memangnya kau tidak takut terjerat hukum karna telah memperkerjakan anak di bawah umur" ucap Zahira.
" Sudah kau jangan berucap yang macam macam, tapi ingat ya Ira, kau hanya boleh minta di belikan makanan sama minum tidak yang lain" ucap Riziq memperingatkan. Zahira pun mengangguk ngangguk.
" Dasar pelit" gumam Zahira dengan suara pelan.
" Aku bisa dengar bocah ingusan" ucap Riziq sambil berjalan menemui Aisyah dan umi Fadlun. Zahira pun tersenyum senyum saat ketahuan menggerutu. Mereka pun berangkat ke pasar dengan mobil online yang mereka pesan.
Sesampainya disana.
" Alhamdulilah sampai juga" ucap umi Fadlun sambil tersenyum, karna sudah lama ia tak pergi ke pasar itu sejak ia pergi ke Kairo. Mereka pun berjalan jalan menelusuri pasar itu. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya sambil mendorong kereta bayi Adam dan Hawa. Sementara Riziq dan Aisyah berjalan bergandengan tangan di belakang Zahira dan umi Fadlun.
" Umi mau beli sesuatu?" tanya Aisyah.
" Kurang tau, kalau ada yang suka, umi pasti beli" jawab umi Salamah.
" Ka Riziq dan ka Aisyah benar benar mengerjaiku ini, kalau tau aku cuma dijadikan pengasuh saja, lebih baik tadi aku tidak ikut" gerutu Zahira dalam hati.
Aisyah sudah memilih milih baju gamis. Sementara Riziq kini sedang menggoda Adam dan Hawa. Ia membiarkan istrinya memilih milih barang apa saja yang mau dibeli. Umi Fadlun pun kini sedang asik memilih kerudung. Umi Fadlun pun melihat Zahira hanya berdiri sambil memandangi pakaian yang menggantung dan berjejer di toko itu.
" Ira sini" panggil umi Fadlun. Zahira pun menghampirinya.
" Kenapa umi?"
" Kau mau beli sesuatu?" tanya umi Fadlun.
" Aku tidak ada uang umi, ka Riziq sudah membelikanku baju baru kemarin, aku tidak mungkin minta di belikan lagi" tutur Zahira. Umi Fadlun pun tersenyum.
" Pilihlah barang yang kamu suka, nanti umi yang bayar" ucap umi Fadlun. Mendengar ucapannya umi Fadlun, hatinya Zahira berbunga bunga.
"Yes yes yes" batin Zahira.
" Benarkah umi?"
umu Fadlun pun mengangguk.
"Tak akan kusia siakan kesempatan yang ada" batin Zahira. Ia pun memilih milih baju disana. Saat Zahira mengambil gamis yang berwarna maroon, Aisyah pun menatapnya.
" Gamis itu ukuran XL, gegedean untukmu, nanti badanmu kelelep" ucap Aisyah. Seketika Zahira menaruh kembali gamis itu, ia pun mencari cari kembali baju baju di sana, tiba tiba ia tersenyum saat melihat celana jeans robek robek terpampang di patung manekin. Zahira tersenyum saat memegangi celana kesukaannya sebelum ia tinggal di pesantren.
" Kalau kau menggunakan celana itu, akan ku mutilasi kakimu" ucap Riziq tiba tiba. Zahira yang mendengarpun langsung bergidik ngeri dan menjauh dari celana itu.
__ADS_1
" Maaf celana kesukaanku, aku tidak bisa memilikimu, karna aku masih ingin bisa jalan" batin Zahira sambil menatap celana jeans itu.
" Ira kau sudah dapat bajunya?" tanya umi Fadlun.
" Belum umi, sepertinya aku tidak mau membeli baju" ucap Zahira.
" Lalu kau ingin membeli apa?"
" Boleh tidak umi kalau aku membeli sepatu?" tanya Zahira. Umi Fadlun pun mengangguk tersenyum. Tentu saja Zahira nampak senang.
" Si bocah ingusan itu tidak menyia nyiakan kesempatan. Dasar bocah semprul" batin Riziq.
Setelah membeli kerudung dan gamis, mereka pun pergi ke toko sepatu.
" Ira kau boleh pilih sepatu mana saja yang kau suka" ucap umi Fadlun. Zahira pun sudah memilih milih sepatu dibantu oleh Aisyah. Sementara umi Fadlun sedang duduk istirahat sambil menggoda Adam dan Hawa.
Zahira tersenyum saat melihat sepatu kaca berwarna pink muda. Perlahan ia pun memegangi sepatu itu.
" Kita tinggalnya di pesantren bukan di istana, jadi kurang pantas jika kau menggunakan sepatu kaca" ucap Riziq. Seketika Zahira langsung menaruh sepatu itu ke tempat semula sambil mengerucutkan bibirnya. Tiba tiba Aisyah memberikan sepasang sepatu berwarna salem pada adik iparnya itu.
" Ira sepertinya ini cocok untukmu" ucap Aisyah. Zahira pun menerima sepatu itu lalu mencobanya.
" Ia bagus ka, warnanya cocok di kulit kakiku, ukurannya pun sudah pas, aku beli yang ini saja" pinta Zahira. Setelah membeli sepatu itu, Zahira pun merasa haus dan lapar.
" Umi aku haus, laper juga" ucap Zahira sambil cengengesan. Umi Fadlun pun tersenyum.
" Ya sudah ayo kita cari makan" pinta umi Fadlun.
" Umi, kalian duluan saja, nanti kita menyusul, uni masih belum selesai belanja, masih ada yang harus di beli." tutur Riziq. Umi Fadlun dan Zahira pun mengangguk. Mereka pun pergi ke rumah makan yang ada di pasar itu sambil membawa Adam dan Hawa. Membiarkan Aisyah dan Riziq puas belanja.
Sesampainya di rumah makan. Mereka terkejut saat melihat Dewi sedang asik makan disana.
" Ka Dewi" panggil Zahira. Dewi pun tak kalah terkejutnya.
" Ira, umi, kalian ada di sini?" tanya Dewi heran.
" Kami habis belanja bersama Aisyah dan Riziq" jawab umi Fadlun. umi Fadlun dan Zahira pun duduk bersama Dewi. Mereka juga ikut memesan makanan di sana.
" Kau habis belanja Ira?" tanya Dewi.
" Hmmm"
" Memangnya kau punya uang?" tanya Dewi meremehkan. Hingga Zahira memicingkan matanya.
" Ka Dewi jangan meghinaku ya, aku juga punya uang meskipun tidak banyak" ucap Zahira sambil memperlihatkan isi dompetnya. Dewi pun sedikit tertawa karna isi dompetnya bocah ingusan itu hanya ada beberapa lembar uang 10.000 dan 20.000, selebihnya hanya 5000an dan selembar kertas.
" Waaah isi dompetmu isinya dolar semua ya" ucap Dewi meledek.
" Ka Dewi jangan menghina, ini uang 5000annya uang keramat yang di beri om ustad Usman saat aku berhasil menghafal surat al ikhlas" tutur Zahira.
" Waaah kau hebat ya Ira, lalu itu kertas apa?, jangan bilang kalau itu kertas ulanganmu yang nilainya nol" ucap Dewi.
" Ini bukan kertas ulangan, tapi ini kertas puisinya ka Aisyah"
Dewi pun terdiam saat mendengar kalau itu adalah kertas puisinya Aisyah.
" Coba aku lihat" pinta Dewi. Zahira pun memberikan kertas itu yang sudah kusut dan hampir robek. Seketika Dewi membelalakan matanya saat melihat kertas puisi itu.
" Loh bukannya kata Aisyah puisi ini sudah si buang ustad brondong waktu di rumah sakit" batin Dewi.
" Ira, kau dapat kertas ini dari mana?" tanya Dewi penasaran.
" Oh itu aku menemukannya di halaman rumah sakit waktu aku menjenguk ka Yasmin dulu. Saat aku melihat kertas itu, aku penasaran, pas aku buka ada namanya ka Aisyah yang tertulis di situ, kupikir itu puisi untuk ka Riziq, jadi aku simpan, tali aku lupa untuk memberikannya pada ka Riziq" tutur Zahira.
" Ira, tolong ya kamu rahasiakan kertas puisi ini, apalagi pada kakakmu" pinta Dewi.
" Kenapa, puisi inikan yang nulis ka Aisyah, pasti ini buat ka Riziq"
" Aku tidak mungkin bilang kalau puisi itu di buat Aisyah untuk ustad Rasyid 6 tahun yang lalu" batin Dewi.
" Ira, puisinya ka Dewi yang simpan ya, soalnya puisi ini ada sepasang, dan pasangannya ada sama ka Dewi. Dan kau juga harus janji tidak boleh bercerita soal puisi ini pada siapapun termasuk kakak kamu Riziq" tutur Dewi.
" Kenapa?" tanya Zahira heran.
" Nanti kalau kau sudah dewasa pasti kau mengerti"
Zahira pun mengangguk ngangguk, lalu memberikan kertas puisi itu pada Dewi. Dewi pun menerimanya dan langsung memasukannya ke dalam dompetnya.
" Bahaya kalau kertas ini sampai jatuh ketangan si ustad brondong, nanti dia bisa ngamuk ngamuk" batin Dewi.
Tiba tiba Aisyah datang bersama Riziq.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Aisyah dan Riziq pun bergabung dengan mereka.
" Umi sudah pesankan makanan untuk kalian" ucap umi Fadlun.
" Terima kasih umi" ucap Aisyah. Riziq hanya diam saja sambil mengerucutkan bibirnya dengan menutupi pergelangan tangannya. Hingga membuat yang lain heran.
" Ka, kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Zahira. Aisyah hanya tersenyum saja.
Karna penasaran, Zahira pun menarik tangan Riziq yang menutupi pergelangan tangannya. Seketika mata Zahira membulat saat melihat jam tangan Riziq yang baru di belinya itu berwarna pink dan berbentuk hati. Zahira langsung tertawa tawa hingga Aisyah terpaksa membungkam mulutnya. Riziq sudah memicingkan matanya.
" Ira kau jangan menertawakan jam tangan kakakmu itu, karna jam yang ku belikan itu adalah jam tangan caple, aku juga pake, samakan seperti yang di pakai kakakmu" ucap Aisyah.
__ADS_1
" Waah ia beneran kembaran ya, seleramu bagus juga ya ka Aisyah. Jam tangan berbentuk hati berwarna pink, sangat cocok untukmu ka Riziq, sesuai dengan wajahnya yang manis itu, ha ha ha" tutur Zahira. Dewi pun sudah ingin tertawa namun ia tahan.
" Awas kau ya uni, aku lebih baik di kuras dompetnya dari pada di kuras rasa malu nya, bagaimana kalau ustad Usman tau, dia pasti akan tertawa terbahak bahak melihat jam tanganku ini" batin Riziq.