
Saat para pengajar berkumpul di Aula ketika sedang jam istirahat. ustad Usman sudah membaringkan tubuhnya di lantai Aula. Ustad soleh sedang asik membaca buku, sedangkan ustad Azam dan Riziq sedang asik ngopi.
" Sebentar lagi libur panjang, para santri akan pulang kampung, apa kalian juga akan pulang kampung?" tanya ustad Azam.
" Saya akan pulang kampung kerumah mertua, dari seminggu yang lalu Nisa sudah mengajakku pulang kampung padahal belum waktunya Libur." ucap ustad Usman.
Tiba tiba ustad Rasyid datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
ustad Rasyid pun duduk bergabung bersama mereka.
" Lagi pada ngomongin apa nih?" tanya ustad Rasyid.
" lni lagi ngomongin liburan pergi kemana?. apa mau pada mudik?" tanya ustad Azam.
" Ustad Rasyid pasti pulang ke pesantrennya kiyai Samsul dong?" tanya ustad Usman.
" Belum tau, saya belum membicarakannya pada istri saya" jawab ustad Rasyid.
" Saya kira ustad Rasyid sama ustad Riziq mau pergi berkunjung bareng ke rumah orang tua kalian" ucap ustad Azam. Seketika Riziq dan ustad Rasyid terdiam sambil menundukan wajahnya. Pasalnya mereka sudah hampir 18 tahun belum bertemu ayah mereka. Sejak ustad Rasyid membawa kabur Riziq dari rumah dan membawanya ke pesantren, mereka tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya.
Setelah lama ngobrol ngobrol, mereka pun beranjak untuk pergi mengajar kembali karna waktu istirahat telah berakhir.
Kini Riziq sudah berjalan dengan ustad Rasyid.
" Ang, apa kau ingin menemui ayah?" tanya Riziq. Ustad Rasyid langsung menatap adiknya itu.
" Kenapa kau bertanya seperti itu?, apa kau ingin menemuinya?" tanya balik ustad Rasyid.
" Entahlah, aang sendiri?"
" Aang belum siap untuk menemuinya, lagi pula ayah sudah pindah rumah, aang tidak tau sekarang dia tinggal dimana. Kalau ayah ingat pada kita, dia pasti datang ke pesantren ini" tutur ustad Rasyid.
" Sudah hampir 18 tahun kita tidak pernah bertemu dengannya, apa kau tidak rindu pada ayah?" tanya Riziq. Ustad Rasyid hanya diam saja.
" Apa kau rindu pada ayah?" tanya balik ustad Rasyid.
" Hmm"
" Tapi aang tidak tau dimana sekarang ayah tinggal, meskipun kita tidak menemuinya, mudah mudahan dia baik baik saja" ucap ustad Rasyid. Mereka pun pergi untuk mengajar lagi.
* * * * * *
Sore pun tiba, ketika Aisyah dan Dewi sedang asik ngobrol di rumahnya Aisyah.
" Liburan nanti kau akan kemana Aisyah?" tanya Dewi.
" Aku sih berencana untuk pulang kampung Wi, sudah hampir 2 tahun aku tidak pulang kampung dan berziarah ke makam ibu sama bapak, biasanya aku suka setahun sekali kesana, tapi tahun kemarin tidak pulang karna aku sedang hamil waktu itu. Jadi liburan sekarang aku ingin berziarah kemakam orang tuaku bersama mang llham dan bi Ratna, aku sudah membicarakannya pada mereka. Tapi aku belum bicara pada Riziq" tutur Aisyah.
"Waah, kalian akan ramai ramai pulang kampung?, aku jadi pengen ikut" ucap Dewi sedikit iri.
" Memangnya kau tidak punya tujuan pergi kemana?" tanya Aisyah.
__ADS_1
" Mau liburan kemana, orang tuaku tinggal di pesantren, mertuaku pun tinggal disini. Setiap hari aku berkeliling di pesantren ini, kalau keluar pun cuma ke pasar, ikh sungguh tidak asik" tutur Dewi sambil cemberut.
" Pantas saja badanmu gemuk, kau kurang bergerak Wi" ucap Aisyah sedikit meledek.
" Kau jangan meledeku Aisyah"
Tiba tiba ada yang mengucap salam di depan rumah.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Aisyah pun membuka pintu, ia melihat seorang kurir berdiri di depan rumahnya sambil membawa sebuah kardus berukuran besar.
" Atas nama ibu Aisyah?" tanya si kurir.
" Ia benar"
" Saya datang mengantarkan paket atas nama ibu Aisyah" ucap sikurir kembali. Aisyah terdiam, ia merasa tidak pernah memesan sesuatu.
" Tapi saya tidak pernah memesan sesuatu pak" ucap Aisyah.
" Tapi disini tertulis ibu Aisyah khoerunisa istrinya Muhamad Riziq alfiqri"
" Tapi itu benar namaku" batin Aisyah. Dengan kebingungan pun Aisyah menerima dan menandatangani paket itu. Setelah kurir itu pergi Aisyah membawa kardus besar itu masuk dan menaruhnya di depan Dewi.
" Apa itu Aisyah?" tanya Dewi.
" Entahlah, tadi ada kurir yang membawanya, katanya ini pesananku"
Perlahan Aisyah pun membuka paket itu. Tiba tiba ia tersenyum melihat alat pembuat kue yang ia inginkan kemarin kini ada di hadapannya sekarang.
" Ia ini alat yang kau inginkan kemarin"
" Tapi kenapa ada yang mengirim kesiniya, aku kan belum memesannya" ucap Aisyah heran.
" Suamimu yang memesannya" jawab Dewi.
" Riziq yang memesannya?" tanya Aisyah hampir tak percaya.
" Ia kemarin dia yang menanyakannya padaku, katanya produk apa yang di inginkan Aisyah, sampai kau kerasukan setan, itu yang ditanyakan ustad Riziq padaku" tutur Dewi. Wajah Aisyah nampak memerah saat ia ingat kemarin ketika dia merayu Riziq.
" Memangnya kau kemarin kerasukan setan Aisyah?" tanya Dewi.
" Hmm"
" Astaghfirullah, memangnya setan apa yang merasukimu?" tanya Dewi penasaran.
" Setan genit, kau yang memberi ide gila padaku, kau yang menyuruhku untuk merayu suamiku. Kau tau Riziq sampai membacakan ayat kursi dan meniupkannya keubun ubunku, bahkan dia hampir saja menyemburku dengan kopi panas" tutur Aisyah. Hingga Dewi terbahak bahak.
" Tapi ini beneran dia yang pesan?" tanya Aisyah.
" Hmmm, mungkin dia ingin memberi kejutan padamu, makanya dia tidak bilang dulu padamu"
" Uuuh manisnya berondongku" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum.
__ADS_1
" Kau harus berterima kasih padaku Aisyah, berkat ide ku, akhirnya suamimu membelikan barang yang kau iginkan" ucap Dewi berbangga.
" Kau tau gara gara ide mu itu, Riziq tak membiarkanku tidur hingga tengah malam" gerutu Aisyah dalam hati.
" Tapi Wi, Riziq bilang ingin mengempeskan badanmu karna kau telah memberiku ide gila"
" Waah kalau itu benar, aku sangat berterima kasih pada suamimu, jika benar ia ingin mengempeskan badanku itu artinya aku tidak perlu repot repot lagi untuk diet" ucap Dewi hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.
" Aisyah memangnya kemarin kau bagaimana merayu ustad Riziq sampai dia luluh padamu, aku ingin tau siapa tau aku bisa mencontohnya" pinta Dewi.
" Aku cuma duduk di pangkuannya" Jawab Aisyah. Hingga Dewi mengeryitkan keningnya.
" Astaghfirullah, kalau aku duduk dipangkuan suamiku, tulangnya pasti langsung remuk semua" batin Dewi.
" Kau mau mencontohnya?" tanya Aisyah.
" Tidak terima kasih Aisyah, itu namanya bunuh diri" jawab Dewi, hingga Aisyah tertawa.
" Lalu sekarang kau mau berterima kasih dengan cara apalagi pada suamimu yang telah membelikan barang itu, apa kau mau merayunya lagi?" tanya Dewi.
" Aku tidak perlu merayunya seperti yang kau suruh. Aku tersenyum saja dia sudah tergoda, jadi tidak perlu repot repot merayunya. Nanti dia bisa menggila padaku" tutur Aisyah.
" Waah suamimu murahan sekali ya cuma dikasih senyum saja sudah meleleh" ucap Dewi sambil tersenyum senyum.
" Heei kau mengatakan suamiku murahan?" tanya Aisyah tak suka, hingga Dewi tertawa.
" Maaf Aisyah aku cuma bercanda" ucap Dewi.
Setelah lama mengorol ngobrol Dewi pun pulang karna ia belum masak di rumahnya.
* * * * * *
Saat Riziq pulang dari mengajar, ia pun mengetuk pintu dan mengucap salam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab Aisyah sambil membukakan pintu. Seketika Aisyah langsung mencium pipinya Riziq sambil tersenyum.
" Waah, sore sore begini kau sudah menggodaku uni" ucap Riziq sambil tersenyum.
" Itu tanda terima kasihku, karna kau telah membelikanku alat pembuat kue itu"
Riziq pun tersenyum sambil menggandeng Aisyah menemui bayi bayinya.
" Uni kau tidak lupa kan kau belum memberi hadiah padaku, akukan sudah mengalahkan ustadzah Yasmin" ucap Riziq mengingatkan.
" Ingatannya kuat sekali, kupikir dia sudah lupa dengan hadiah itu setelah satu minggu berlalu" batin Aisyah.
" Ia uni ingat, kau memintaku untuk memberi pelayanan plus plus padamu kan" ucap Aisyah.
" bukan pelayanan plus plus uni, tapi pelayanan plus plus plus plus"
Aisyah pun mengeryitkan keningnya.
" Kenapa plusnya banyak sekali?" tanya Aisyah.
__ADS_1
" Plus yang dua hadiah untuku, plus yang duanya lagi tanda terima kasihmu padaku karna aku telah memberikan alat pembuat kue itu"
" Ishh ishh ishh"