
Pagi pagi sekali. Setelah sarapan, Riziq pun menggendong Adam sementara Aisyah sedang memberi asi pada Hawa.
" Uni, siang ini aku dan ustad Soleh ada acara di luar pesantren. Sepertinya pulang sore" ucap Riziq.
" Tumben Le ada acara apa?"
" Ini tentang acara Agustusan nanti. Setiap pesantren akan mengirimkan satu santri putra dan satu santri putri untuk mengikuti perlombaan cerdas cermat" tutur Riziq.
" Siapa yang terpilih Le?"
" Santri putra Yusuf, sementara santri putri Fitri, kecerdasan mereka sudah di atas rata rata"
" Duh Le, bahaya kalau adikmu tau, dia pasti minta di daftarkan untuk menggantikan Fitri" ucap Aisyah takut.
" Itu tidak mungkin uni, kau kan tau sendiri kecerdasan Zahira bagaimana" Aisyah pun mengangguk ngangguk.
"Ya kecerdasan adikmu masih kalah jauh dari yang lain. otaknya selalu loading dan berputar putar di tempat. Tapi mudah mudahan kedepannya ada perubahan. Amiin" batin Aisyah.
" Uni aku berangkat dulu ya"
Riziq pun menidurkan Adam di kasur busa.
" Dah putra abi yang manis, abi berangkat dulu ya" ucap Riziq sambil mencium pipinya Adam. Di lihatnya Hawa nampak rewel hari ini.
" Hawa kenapa uni?"
" Tidak tau Le, sejak bangun tidur dia mulai rewel"
" Putri abi jangan rewel rewel ya kasian uminya" ucap Riziq sambil mencium Hawa.
" Uni aku berangkat ya"
Aisyah pun mencium tangan suaminya, Riziq pun mencium istrinya, tapi kali ini tidak mencium kening melainkan mendaratkan ciuman manis di pipinya Aisyah. Aisyah pun tersenyum.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati Le"
Riziq pun pergi. Kini Aisyah hanya di rumah saja, karna Hawa begitu rewel hari ini.
Tiba tiba terdengar suara orang berlari dan membuka pintu rumah.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Aisyah terkejut melihat Zahira berdiri di ruang tamu dengan nafas ngos ngosan dan wajahnya nampak dengan jelas kalau dia sedang marah.
" Kau kenapa Ira?" tanya Aisyah heran. Aisyah pun mendekati Zahira.
" Duduklah" pinta Aisyah.
Zahira pun duduk di kursi bersama Aisyah.
" Kau kenapa?" tanya Aisyah.
" Ka, ka Yusuf sudah terdaftar menjadi peserta cerdas cermat santri putra. Sementara peserta cerdas cermat santri putri itu Fitri bukan aku" ucap Zahira sedikit kesal.
" Keputusan itu sudah di buat oleh ka Soleh. Dan itu sudah tidak bisa di ganggu gugat"
" Dari dulu ustad Soleh memang menyebalkan" gerutu Zahira.
" Tapi Ira kakaku pasti sudah memilih Fitri menjadi peserta cerdas cermat pasti bukan tanpa alasan"
" Apa karna kecerdasannya di atas rata rata sementara kecerdasanku di bawah rata rata. Dia cerdas sementara aku bodoh" gerutu Zahira kesal.
" Salah satunya mungkin itu"
" Tapi aku kan lebih cantik, lebih imut dan lebih menggemaskan dari Fitri" tutur Zahira percaya diri hingga Aisyah langsung mengeryitkan keningnya.
" Itu adu kecerdasan Ira, bukan adu kecantikan"
" Tapi akukan cemburu ka" ucap Zahira kesal.
" Kau tidak perlu cemburu begitu. Mereka akan melakukan cerdas cermat di ruang yang berbeda. Tidak perlu khawatir kalau Yusuf akan dekat dekat dengan seorang perempuan, karna Yusuf tau batasan batasan"
" Kenapa ya ka, aku sudah rajin belajar tapi otaku selalu berputar putar di tempat" ucap Zahira sambil menundukan kepalanya. Aisyah malah tersenyum.
" Kau yang sabar Ira, kakakmu saja dulu, dia belajar lebih dari 10 tahun hingga dia bisa sepintar itu. Sementara kau setaun saja belum, jadi jangan pernah bilang kau bodoh, karna kau masih dalam proses. Belajar saja yang rajin, lama lama kau pasti pintar seperti kakak kakakmu" tutur Aisyah. Zahira pun mengangguk.
" Suatu saat aku akan pintar?"
" Hmmm"
" Pintar seperti ka Riziq?" tanya Zahira kembali.
" Hmmm"
Zahira pun tersenyum.
" Sekarang pergilah ke kelasmu nanti kau terlambat. Yang semangat belajarnya"
__ADS_1
" Iya kak, aku akan semangat, biar bisa mengimbangi kecerdasannya ka Yusuf" ucap Zahira antusias. Zahira pun pamit pergi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Setelah kepergian Zahira, Aisyah pun mencoba menidurkan Hawa. Namun kali ini Hawa nampak berbeda, ia terus menangis dan rewel.
" Sayangnya umi kenapa sih?, ko rewel terus dari tadi" Aisyah pun memberikan asi kembali hingga kini Hawa tertidur. Tiba tiba terdengar ketukan pintu di depan rumah.
Tok tok tok
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, umi"
Umi Salamah pun tersenyum.
"Umi kepikiran terus sama Adam dan Hawa, makanya umi kesini"
" Masuk mi, mereka sedang tidur, dari tadi Hawa rewel terus"
Umi Salamah pun menghampiri cucu cucunya. Di lihatnya ada yang berbeda dengan Hawa.
" Sepertinya Hawa demam Aisyah" ucap umi Salamah sambil memegang dahinya Hawa. Aisyah pun ikut memegangi dahi putrinya. Ia nampak terkejut karna dahinya Hawa terasa panas. Aisyah kini menjadi panik.
" Astaghfirullah, iya umi Hawa demam"
Aisyah langsung menggendong putrinya. Hawa pun menangis terus dan mulai rewel kembali membuat Aisyah panik.
" Suamimu sudah berangkat mengajar?" tanya umi Salamah.
" Dia pergi keluar pesantren bersama ka Soleh umi"
" Kita bawa Hawa ya mi, bawa ke klinik apa bawa ke rumah sakit?" tanya Aisyah.
" Langsung bawa ke dokter anak saja. Kebetulan di rumah sakit A, dokter anaknya sedang praktek hari ini"
Aisyah pun mengangguk. Umi Salamah dengan sigap langsung menghubungi Nisa dan ustad Usman. Seketika itu pula ustad Usman datang bersama Nisa membawa mobil untuk mengantar Hawa ke rumah sakit. Mereka nampak panik dan begitu cemas dengan Hawa.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, ayo kita antar Hawa ke rumah sakit" Ustad Usman dan Nisa pun memegang dahinya Hawa.
" Astaghfirullah. Iya benar Hawa demam"
Aisyah sudah menggendong Hawa sementara Umi Salamah menggendong Adam. Mereka pun pergi ke rumah sakit. Aisyah sudah berdo'a sedari tadi untuk kesembuhan putrinya.
" Sabar ya sayang, kau pasti sembuh" batin Aisyah.
" Semalam suhu badannya normal ka, cuma tadi pagi dia begitu rewel dan merengek terus"
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera mencari tempat pendaftaran. Aisyah sudah panik karna Hawa terus menangis. Sesekali Aisyah pun ikut menangis. Iya sampai lupa untuk menghubungi Riziq.
" Kau tenang Aisyah, Hawa pasti sembuh"
Umi Salamah menenangkan Aisyah.
" Ka tolong daftarkan ya. Aku mau menenangkan Hawa dulu" pinta Aisyah. Nisa pun mengangguk. Kini Nisa dan ustad Usman pun mendaftarkan Hawa. Untung saja belum ada pasien lain yang datang untuk di periksa sang dokter anak.
" Ruangan dokter anaknya sebelah kiri" ucap sang petugas memberitau. Nisa dan ustad Usman pun mendekati Aisyah. Dilihatnya Hawa sudah tertidur namun kondisinya begitu lemah. Ustad Usman begitu panik.
" Aisyah ayo bawa Hawa untuk di periksa, dokternya sudah ada di ruangannya" ucap ustad Usman. Aisyah pun mengangguk. Saat Aisyah melangkah untuk pergi ke ruangan pemeriksaan, tiba tiba Adam menangis dan ikut rewel sejadi jadinya. Membuat semua semakin panik.
" Adam kenapa umi?" tanya Aisyah cemas.
" Tidak tau Aisyah tiba tiba dia rewel, mungkin Adam ikut merasakan apa yang di rasakan kembarannya"
Aisyah panik kembali karna Adam menjerit jerit di gendongan umi Salamah. Karna begitu panik ustad Usman menawarkan diri untuk membawa Hawa ke ruang pemeriksaan.
" Aisyah, kau jaga Adam saja, biar aku dan Nisa yang bawa Hawa untuk di periksa" ucap ustad Usman dengan sigap mengambil Adam dari gendongan umi Salamah. Tanpa aba aba ustad Usman berlari ke ruangan dokter anak sambil menggendong Adam.
" USMAAAAAN" teriak umi Salamah.
" Yang sakit itu Hawa kenapa kau membawa Adam untuk di periksa" teriak umi Salamah kembali. Seketika ustad Usman menghentikan langkahnya dan menatap bayi yang di gendongnya.
" Astaghfirullah, iya ini Adam, aku salah bawa" ucap ustad Usman sambil berlari kembali menghampiri Aisyah. Aisyah sudah nampak cemberut.
" Maaf maaf aku salah ambil"
Ustad Usman pun memberikan Adam pada umi Salamah dan mengambil Hawa dari gendongan Aisyah. Setelah menggendong Hawa, ustad Usman pun kembali berlari, namun kali ini ia terlalu kencang berlari hingga ruangan dokter anak terlewat. Dan akhirnya ia salah masuk ruangan.
" Astaghfirullah, Nisa kau susul suamimu, sudah salah membawa Adam kini dia salah masuk ruangan. Itu lihat dia malah masuk ruang persalinan, sekalian kau suruh dokter untuk memeriksa otak suamimu" gerutu umi Salamah. Nisa dengan sigap berlari menemui suaminya yang sedang menggendong Hawa. Saat ustad Usman masuk ke ruang persalinan, tiba tiba ada beberapa perempuan berteriak.
" Aaaaaaaaa"
" Maaf maaf salah masuk" ucap ustad Usman sambil keluar dari ruang persalinan itu dengan tergesa gesa.
"Untung belum lihat apa apa" ucap ustad Usman.
" Mas kenapa kau masuk ruang persalinan, kau mau mencuri kesempatan dalam kesempitan ya" gerutu Nisa.
__ADS_1
" Aku salah masuk Nis"
Ustad Usman dan Nisa pun masuk keruang dokter anak.
" Asalamualaikum dok, apa benar ini ruangan dokter anak?" tanya ustad Usman. Dokter cantik itu pun tersenyum sambil mengangguk.
" Di baringkan dulu bayinya, nanti saya periksa" ucap dokter cantik itu. Dengan tergesa gesa ustad Usman pun berbaring bersama Hawa di tempat tidur pemeriksaan. Dengan kesalnya Nisa menepuk pundak suaminya.
" Mas, kenapa kau ikut berbaring juga, yang mau di periksa itu Hawa bukan kau, kau mau genit genit ya, mentang mentang dokternya cantik" gerutu Nisa. Seketika ustad Usman langsung bangun dan membaringkan Hawa di tempat tidur.
" Maaf Nis, aku kan panik, di saat seperti ini kau sempat sempatnya cemburu" ucap ustad Usman. Doter cantik itu hanya tersenyum melihat perdebatan suami istri itu. Ia langsung memeriksa Hawa. Sementara umi Salamah dan Aisyah menunggu di depan ruangan. Sudah jelas terlihat wajah Aisyah yang nampak panik memikirkan putra putrinya.
" Kau tenang ya Aisyah, Hawa pasti baik baik saja" ucap umi Salamah menenangkan.
Setelah selesai memeriksa Hawa. Dokter cantik itu pun menyuruh Hawa untuk di rawat karna kondisi Hawa nampak begitu lemah.
Setelah mendapatkan ruang perawatan. Selang impusan sudah terpasang di tangan mungilnya Hawa. Aisyah sudah menangis sedari tadi menatapi putrinya yang kini sedang terlelap.
" Usman kau hubungi dulu ustad Riziq" pinta umi Salamah.
" Aku lupa bawa ponsel" ucap ustad Usman. Aisyah pun memberikan ponselnya pada kakaknya. Ustad Usman pun pergi ke luar ruangan untuk menghubungi Riziq menggunakan ponsel Aisyah. Setelah Riziq menerima panggilannya.
" Asalamualaikum uni sayang, tumben sekali kau menghubungiku di jam seperti ini. Apa kau merindukanku" ucap Riziq dengan nada menggoda hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya.
"Menggelikan sekali" gerutu ustad Usman dalam hati.
" Iya sayang aku sangat merindukanmu" jawab ustad Usman dengan menirukan suara Aisyah. Kini Riziq lah yang mengeryitkan keningnya mendengar suara aneh di balik ponselnya.
" Uni kau keselek biji cabe ya?, suaramu jelek sekali" ucap Riziq.
" Enak saja jelek, segini merdunya di bilang jelek" gerutu ustad Usman. Riziq pun terkejut mendengar suara ustad Usman.
" Ustad ini kau?" tanya Riziq heran.
" Hmmmm"
" Kenapa kau menghubungiku pake ponsel Aisyah?"
" Aku hanya ingin memberitaumu, Hawa demam, kini dia di rawat di rumah sakit A, kau ke sini ya" pinta ustad Usman sambil menutup telponnya. Riziq nampak begitu terkejut mendengar putrinya di rawat di rumah sakit.
" Astaghfirullah alazim"
" Kenapa ustad?" tanya ustad Soleh.
" Hawa demam, kini dia sedang di rawat di rumah sakit, ustad antar saya ke sana ya" pinta Riziq. Ustad Soleh pun mengangguk. Dan kini mereka pun bergegas pergi ke rumah sakit. Di perjalanan Riziq terus berdo'a untuk keselamatan putrinya.
" Ya Allah, selamatkan putri hamba, berilah kesembuhan untuknya amiin"
Sesampainya di rumah sakit, Riziq pun bergegas mencari ruangan perawatan putrinya. Di lihatnya di depan ruangan sudah nampak ustad Usman dan Nisa yang sedang menggendong Adam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Gimana keadaan Hawa sekarang?" tanya Riziq cemas.
" Sudah mendapat perawatan dokter" jawab Nisa. Sebelum Riziq masuk keruangan, ia pun sempat mencium Adam yang kini sedang di gendong oleh Nisa.
" Hati hati salah cium" ucap ustad Usman hingga Nisa memicingkan matanya pada suaminya itu. Riziq dan ustad Soleh pun masuk keruangan.
" Uni, bagaimana keadaan Hawa?" tanya Riziq.
" Leee"
Aisyah langsung memeluk suaminya sambil terisak.
" Hawa baik baik saja, dokter sudah menanganinya, kau tidak perlu khawatir" ucap umi Salamah. Riziq pun menciumi Hawa yang kini sedang terlelap.
" Cepat sembuh ya sayang" ucap Riziq sambil membelai lembut kepala putrinya.
" Semoga Hawa cepat sembuh" ucap ustad Soleh.
" Terima kasih ka"
Umi Salamah menemui Nisa dan ustad Usman.
" Man, kalian sebaiknya pulang dulu, umi titip Adam ya, kurang baik kalau Adam lama lama di rumah sakit" ucap umi Salamah. Tidak lama kemudian Aisyah memberikan asi yang sudah di taruh di dalam dot.
" Ka aku titip Adam ya" ucap Aisyah.
Nisa pun mengangguk dan menerima dot yang beisi asi.
" Kau tidak perlu khawatir Aisyah, ka Nisa pasti jagain Adam, kau disini fokus saja pada Hawa"
Aisyah pun mengangguk tersenyum.
" Kita pulang dulu ya Aisyah"
Aisyah pun mencium Adam terlebih dulu.
" Makasih ka"
__ADS_1
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"