
Masih dengan ustad Usman, setelah memberitau pada Riziq dan ustad Rasyid, ia langsung pergi ke kebun untuk membantu ustad Soleh. Hari ini ia mengajar sore hari.
Sesampainya di kebun, ia melihat kakaknya sedang mencangkul.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Soleh sedikit heran melihat penampilan adiknya itu yang memakai celana panjangnya tanpa sarung dan sorban yang biasanya menempel di tubuhnya.
" Man, tumben kau tidak menggunakan sarung dan sorbanmu?" tanya ustad Soleh.
" Aku kasih sama èma èma telanjang tadi" jawab ustad Usman sambil mengambil cangkul. Ustad Soleh hanya mengeryitkan keningnya mendengar jawaban adiknya itu, ia juga tak mau bertanya lagi karna jawabannya akan sama ngelanturnya. Kini mereka sedang asik mencangkul untuk menanam bibit sayuran yang baru. Tiba tiba ustad Usman mendengar suara isak tangis perempuan. Ustad Usman langsung menghentikan aktifitasnya.
" Ka, kau dengar tidak ada suara perempuan menangis?" tanya ustad Usman. Ustad Soleh pun terdiam lalu mencoba fokus dengan telinganya.
" Tidak" jawab ustad Soleh yang kini melanjutkan kembali mencangkulnya.
" Gendang telingamu tidak aktif ya?" tanya ustad Usman heran karna ia mendengar jelas suara tangisan itu sementara kakaknya tidak.
" Apa disini cuma aku saja yang gendang telinganya normal" batin ustad Usman. Ia mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Namun disana memang tidak ada sesosok manusia yang terlihat kecuali dia dan ustad Soleh.
" Masa ia itu suara dedemit" gumam ustad Usman. Ia pun kembali mencangkul, namun suara tangisan itu semakin jelas di telinganya.
" Ka, kau benar tidak mendengarnya?" tanya ustad Usman. Ustad Soleh pun menggelengkan kepalanya.
" Masa siang siang begini ada dedemit" ucap ustad Usman sambil mengikuti suara tangisan itu sambil membawa cangkul yang ia tarih di pundaknya. Secara perlahan ia berjalan mendekati sumber suara.
" Kau jangan macam macam Man, nanti dedemitnya naksir sama kamu"
Deg.
Ustad Usman melihat sesuatu di balik pohon tomat yang sedikit rindang, seperti sesosok manusia yang sedang bersembunyi namun mengeluarkan suara tangisan.
" Dedemit jaman sekarang keren juga, biasanya pake baju putih, tapi sekarang pake baju pink, munculnya disiang bolong pula, sungguh menakjubkan" batin ustad Usman. Ia perlahan mendekatinya dan langsung mengarahkan cangkulnya pada yang bersuara itu berniat memukulnya dengan cangkul. Tiba tiba.
" HUAAAAAAAA"
" HUAAAAAAAA"
" Zahiraa, sedang apa kau menangis disini?" tanya ustad Usman heran. Ya yang menangis sedari tadi itu adalah Zahira. Zahira pun menjerit terkejut saat cangkulnya ustad Usman sudah mengarah padanya.
" Turunkan cangkulnya aku takut" pinta Zahura. Ustad Usman pun menurunkan cangkulnya. Perlahan ustad Soleh pun menghampiri mereka. Zahira terus saja menangis membuat 2 orang laki laki yang ada di hadapannya itu saling lirik. Mereka merasa heran melihat Zahira menangis di perkebunan karna biasanya perempuan kecil yang ada di hadapan mereka itu selalu bersikap ceria dan menyebalkan.
" Ira, kau kenapa menangis di sini?" tanya ustad Soleh. Zahira hanya diam saja.
" Hei Ira, bukankah aku tadi memberitaumu kalau tadi ada neng ber'uban mencarimu, eh maksudnya ibumu" ucap ustad Usman.
" Kenapa kau memanggilnya neng ber'uban?" tanya Zahira masih dengan isak tangisnya.
" Lupakan, saya tanya sekali lagi kenapa kamu menangis Ira?" tanya ustad Soleh.
" Aku tidak mau pulang sama ibu, ibu jahat" ucap Zahira. Ustad Soleh dan ustad Usman pun terdiam saling tatap.
" Memangnya apa yang dilakukan ibumu?"
" Ibu udah jahat sama ka Rasyid dan ka Riziq, ibu juga udah ninggalin aku, pokonya aku tidak mau pulang dengan ibu" tutur Zahira.
" Ira, sebaiknya kau temui dulu ibumu, kau bicarakan baik baik dengannya" pinta ustad Soleh. Zahira malah menggelengkan kepalanya.
" Boleh aku pinjam ponselnya untuk menghubungi ka Aisyah, kurasa ibu masih ada disana" pinta Zahira. Ustad Usman pun memberikan ponselnya pada Zahira. Seketika itu pula Zahira langsung menghubungi Aisyah.
" Asalamualaikum ka, ada apa kau menghubungiku?" tanya Aisyah.
"Waalaikum salam. Aku Ira ka" jawab Zahira. Aisyah pun tersenyum lega karna dari tadi ia mencari cari adik iparnya itu.
__ADS_1
" Ira, kau dimana sekarang, dari tadi ka Aisyah mencarimu kau pulang ya kerumahnya ka Aisyah" ucap Aisyah di balik telepon.
"Ka, ibu masih ada disana?, berikan ponselnya pada ibu, aku ingin bicara dengannya" pinta Zahira. Aisyah pun memberikan ponselnya pada bu Erni.
" Ira sayang ini ibu, kamu dimana ibu ingin bertemu" ucap bu Erni.
" Bu sebaiknya ibu pulang, Ira mau disini, Ira gak mau tinggal sama ibu. Titik, asalamualaikum" ucap Zahira sambil menutup telponnya. Setelah itu Zahira memberikan ponselnya pada ustad Usman. Ia kembali menangis lagi.
" Ira, kau lebih baik bersikap menyebalkan dari pada terus menangis seperti ini membuatku bingung" ucap ustad Usman. Bukannya berhenti menangis, Zahira malah semakin terisak.
" Man kau hubungi ustad Riziq, suruh dia kemari, bilang padanya adiknya menangis terus sedari tadi" pinta ustad Soleh.
" Aku tau cara jitu untuk membuatnya berhenti menangis, kau jaga Zahira, jangan sampai dia kemana mana, aku takut dia kabur" ucap ustad Usman.
" Memangnya kau mau kemana Man?"
" Aku akan bawa obat untuk menyembuhkan tangisannya Zahira. Asalamualaikum" ucap ustad Usman sambil berlalu pergi.
" Ira sudah berhentilah menangis, aku akan mencangkul kembali, kau jangan kemana mana" ucap ustad Soleh.
Dari kejauhan ustad Soleh melihat ustad Usman sedang menarik narik tangannya Yusuf menuju perkebunan. Yusuf pun keheranan dengan sikapnya ustad Usman.
" Ustad, saya mau dibawa kemana, kenapa saya di tarik tarik seperti ini" ucap Yusuf sambil berjalan tergesa gesa bersama ustad Usman.
" Kita ke kebun"
" Tapi ustad, sebentar lagi saya ada kelas" jawab Yusuf.
" Sebentar saja Suf, aku hanya pinjam ragamu 5 menit saja untuk di jadikan obat"
Seketika Yusuf terkejut dan langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan laki laki yang ada di hadapannya itu.
" Aku tidak akan di jadikan obat hawa nafsumu kan ustad?" tanya Yusuf cemas.
" Astaghfirullah alazim, aku tidak punya fikiran sekotor itu Suf, mana mungkin aku memperkosamu" ucap ustad Usman yang kini menarik tangan Yusuf kembali.
" Kau diam saja nanti juga tau"
Setelah sampai.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Yusuf pun terkejut melihat Zahira terduduk ditanah sambil menangis.
" Ira kenapa ustad?, kau apakan dia hingga dia menangis?" tanya Yusuf penuh curiga. Zahira yang melihat Yusuf sang pujaan hati pun langsung menghapus air matanya dan ada rasa senang dalam hatinya.
" Kau jangan berfikir macam macam Suf, aku membawamu kesini supaya kau bisa mengobati kesedihannya Zahira"
Yusuf pun terdiam.
" Ira, apa kau masih sedih saat melihat Yusuf?" tanya ustad Usman. Zahira pun menggelengkan kepalanya.
" Kau masih mau menangis?"
Zahira menggelengkan kepalanya kembali.
" Sudah tidak sedih?, sudah tidak mau menangis lagi?" tanya ustad Usman kembali.
Zahira pun menganggukan kepalanya dengan memberikan senyuman menggemaskannya.
" Bagus kalau kau sudah sembuh dari kesedihanmu. Suf kau boleh pergi" ucap ustad Usman. Zahira dan Yusuf pun langsung mengeryitkan kepalanya.
" ???????????????????" batin Yusuf.
__ADS_1
Dalam benak Yusuf timbul 1000 pertanyaan pada ustad Usman yang sedari tadi memaksanya datang ke perkebunan dan setelah sampai di kebun, tiba tiba dia di suruh pergi. Dengan keheranan pun Yusuf melangkah pergi dari perkebunan itu hingga Zahira cemberut.
Saat melewati ustad Soleh, Yusuf pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya sopan.
" Suf, kau harus banyak banyak istighfar kalau bertemu dengan dua orang itu" ucap ustad Soleh sambil menunjuk Zahira dan ustad Usman melalui ekor matanya. Yusuf pun hanya tersenyum.
" Asalamualaikum ustad, saya duluan" ucap Yusuf sambil berlalu pergi.
" Waalaikum salam"
Setelah kepergian Yusuf, kini datanglah Riziq dan Aisyah ke kebun setelah mendapatkan kabar kalau Zahira ada di perkebunan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Aisyah langsung berjongkok lalu memeluk adik iparnya itu.
" Kau kenapa menangis Ira?" tanya Aisyah cemas. Zahira malah terisak dan membalas pelukannya Aisyah. Riziq pun berjongkok bersama mereka.
" Ternyata kau bisa menangis juga bocah semprul" ucap Riziq.
" Le, kenapa kau bicara seperti itu" ucap Aisyah sedikit tak suka.
" Maaf uni bercanda"
" Kita pulang ya Ira, kau lihat bajumu kotor semua" ucap Aisyah. Zahira pun mengangguk. Perlahan Aisyah membangunkan Zahira.
" Gendong aku ya kak, badanku lemas setelah aku banyak nangis, energiku terkuras 70%" ucap Zahira pada Riziq. Riziq pun mengeryitkan keningnya seakan enggan dengan keinginan adik perempuannya itu.
" Le" ucap Aisyah mengisaratkan agar Riziq mau menggendong Zahira.
" Iya iya aku gendong" ucap Riziq lalu mengangkat tubuh Aisyah untuk di gendongnya. Tentu saja Aisyah meronta sambil memukul pundak Riziq.
" Leeeee, kenapa kau menggendongku, yang minta di gendong itu Zahira Le" ucap Aisyah mengingatkan.
" Ya Allah uni aku lupa" ucap Riziq sambil menurunkan Aisyah. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
" Astaghfirullah, sebenarnya yang gila itu aku atau si ustad berondong itu" gumam ustad Usman. Ustad Soleh yang mendengarpun langsung menjawab.
" Kau"
Riziq pun kini membungkukan badannya, dengan hati hati Zahira pun langsung di gendong di punggungnya. Badan Zahira sangat kecil jadi tak masalah untuk Riziq yang badannya tinggi besar.
" Ayo kita pulang" ajak Riziq sambil melangkahkan kakinya. Aisyah pun mendekati ustad Usman.
" Ka, Suamiku saja mau menggendong adiknya, apa kau mau menggendongku?" tanya Aisyah pada ustad Usman.
" Jangankan menggendongmu, menggendong Zahira saja aku tidak kuat" jawab ustad Usman.
" Ikh memalukan" ucap Aisyah sambil menyusul langkahnya Riziq. Ustad Usman pun langsung menatap kakaknya.
" Ka, apa kau kuat menggendongku?" tanya ustad Usman.
" Tentu saja" jawab ustad Soleh.
" Benarkah?"
" Hmmm"
" Jadi kau mau menggendongku?" tanya ustad Usman.
" Boleh. Nanti saat aku menggendongmu ku banting dan kulempar kau ke sungai" ucap ustad Soleh. Seketika itu pula ustad Usman langsung menggeram.
" Kejam sekali dirimu. Baaaay" ucap ustad Usman sambil berlalu pergi dari perkebunan meninggalkan kakanya sendiri di kebun.
__ADS_1
" Asalamualaikum Usman, bukan baay" teriak ustad Soleh.
" Astaghfirullah, lama lama aku ketularan si selebor" batin ustad Usman.